Dari Hulu ke Hilir, Pertamina Percepat Revolusi AI di Bisnis Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tangerang Selatan, ruangenergi.com-PT Pertamina (Persero) semakin agresif memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendongkrak kinerja bisnis dan efisiensi operasional perusahaan. Transformasi digital yang dijalankan kini tak lagi sekadar proyek teknologi, tetapi diarahkan menjadi mesin pencipta nilai bisnis baru di seluruh rantai energi nasional.

Komitmen tersebut ditegaskan Senior Vice President Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo, saat tampil dalam forum bergengsi Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Jumat (22/5).

Menurut Sigit, Pertamina telah menempatkan transformasi digital berbasis AI sebagai bagian penting dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP). Bahkan, perusahaan energi pelat merah itu memasang target ambisius berupa kontribusi EBITDA hingga US$300 juta pada 2027.

“Dalam rencana tersebut, kami menetapkan target ambisius, yaitu memberikan dampak EBITDA sebesar US$300 juta pada tahun 2027. Itulah yang menjadi visi kami,” ujar Sigit.

Untuk mencapai target itu, Pertamina mengembangkan pendekatan Digital Factory, sebuah sistem transformasi digital end-to-end yang diterapkan di seluruh lini bisnis. Melalui konsep ini, setiap persoalan bisnis diidentifikasi terlebih dahulu sebelum dikembangkan solusi berbasis AI, machine learning, maupun digital analytics.

Pendekatan tersebut dimulai dari identifikasi pain points, pengembangan Minimum Viable Product (MVP), implementasi solusi digital, hingga scale-up ketika solusi terbukti mampu memberikan hasil optimal.

Sigit menjelaskan, keberhasilan transformasi digital tidak mungkin tercapai tanpa dukungan penuh dari manajemen puncak perusahaan. Karena itu, Pertamina membentuk Pertamina Digital Hub yang bertugas mengoordinasikan seluruh inisiatif AI dan digital analytics, sekaligus melapor langsung kepada Direktur Utama Pertamina.

“Hal itu mencerminkan komitmen kuat perusahaan terhadap transformasi digital,” katanya.

Implementasi AI Pertamina sendiri kini mulai menunjukkan hasil nyata. Pada 2024, program digitalisasi perusahaan berhasil menciptakan value creation lebih dari US$35 juta. Setahun kemudian, realisasi melonjak hingga hampir US$80 juta, jauh melampaui target awal sebesar US$50 juta.

Memasuki 2026, Pertamina kembali menaikkan target value creation menjadi US$150 juta. Untuk memastikan hasil lebih terukur, perusahaan juga mulai menerapkan indikator kinerja utama (KPI) bagi unit bisnis yang menjalankan program digitalisasi.

Tak hanya di sektor hilir, pemanfaatan AI juga telah diterapkan secara menyeluruh mulai dari upstream, midstream hingga downstream. Di sektor hulu migas, Pertamina menggunakan machine learning dan AI melalui program ChanceX yang diklaim mampu meningkatkan rasio keberhasilan eksplorasi hingga 10 persen pada salah satu basin.

Selain eksplorasi, AI kini juga dimanfaatkan dalam kegiatan drilling, optimasi produksi, reservoir management, hingga berbagai operasi strategis lainnya.

“Kami juga terus memperluas implementasi AI di berbagai operasi upstream, termasuk drilling, optimasi produksi, reservoir management, dan berbagai area lainnya,” tutup Sigit.

Langkah agresif Pertamina memanfaatkan AI menunjukkan bahwa transformasi digital di industri energi bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing dan efisiensi bisnis di tengah tantangan energi global yang semakin kompleks.