Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pertamina Hulu Energi (PHE), sub holding upstream dari PT Pertamina (Persero), memasang target agresif untuk mendongkrak produksi migas nasional dalam lima tahun ke depan. Dalam paparan Direksi pada agenda BOC BOD Retreat 2026, PHE memproyeksikan produksi migas dapat mencapai 1,45 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) pada 2029, naik signifikan dibanding realisasi 2025 sebesar 1,03 juta MBOEPD.
Ambisi besar itu akan ditopang oleh kombinasi eksplorasi masif, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), pengembangan minyak non-konvensional (MNK), hingga ekspansi bisnis melalui merger dan akuisisi (M&A). Dalam dokumen yang dibaca ruangenergi.com, bertajuk Realisasi 2025, Rencana 2026 & Tindak Lanjut 1M29, PHE menyebut strategi tersebut sebagai bagian dari “Dual Growth Strategy” untuk mendukung swasembada energi nasional.
Saat ini, PHE mengelola 27% wilayah kerja operator migas di Indonesia, namun kontribusinya sangat dominan: mencapai 65% lifting minyak nasional dan 35% lifting gas domestik sepanjang 2025.
Dalam paparannya, PHE menilai eksplorasi dan EOR tetap menjadi “game changer” industri migas nasional, sebagaimana pernah terjadi sejak era 1970-an. Indonesia sendiri masih memiliki potensi besar dengan total 128 cekungan migas, termasuk 65 basin yang belum dieksplorasi.
Untuk 2026, perusahaan menargetkan pengeboran sekitar 16 sumur eksplorasi dan 800 sumur eksploitasi, disertai 1.248 pekerjaan workover serta lebih dari 33 ribu kegiatan well intervention.
Sejumlah proyek strategis juga diprioritaskan, mulai dari pengembangan Sisi Nubi Mahakam, proyek Masela, hingga implementasi CEOR Minas dan steam flood di Rokan. Di sisi eksplorasi, East Natuna menjadi salah satu sumur yang paling disorot.
Tak hanya itu, PHE juga mempercepat pengembangan minyak non-konvensional di Rokan melalui teknologi multistage fracturing. Pada 2025, perusahaan mengklaim menemukan potensi sumber daya MNK mencapai 724 juta barel setara minyak (MMBOE).
Menariknya, target ambisius tersebut dipasang di tengah tantangan penurunan harga minyak dunia (Brent price). Dalam dokumen itu disebutkan, produksi minyak PHE ditargetkan naik dari 557 ribu barel per hari pada 2025 menjadi 595 ribu barel per hari pada 2026. Sementara produksi gas diproyeksikan meningkat dari 2,76 BCFD menjadi 2,81 BCFD.
PHE juga mematok laba bersih (NPAT) sebesar US$3,2 miliar pada 2026. Sebagai gambaran, pada 2025 perusahaan mencatat laba bersih US$2,04 miliar atau berkontribusi sekitar 60% terhadap laba Pertamina Group.
Untuk mewujudkan target pertumbuhan produksi sekitar 9% per tahun hingga 2029, PHE memperkirakan kebutuhan investasi mencapai US$48 miliar. Porsi terbesar belanja modal akan dialokasikan pada pengembangan bisnis inti dan EOR.
Dalam proyeksi jangka panjang, produksi minyak PHE diperkirakan melonjak menjadi 838 ribu barel per hari pada 2029, sedangkan produksi gas mencapai 3,56 BCFD.
Selain migas konvensional, perusahaan mulai menyiapkan bisnis baru seperti CCS/CCUS dan pengembangan hidrogen alami (geologic hydrogen) sebagai bagian strategi transisi energi.
Di balik ambisi besar itu, PHE mengakui tantangan utama masih berkutat pada aspek operasional, subsurface, dan perizinan. Dalam evaluasi proyek E&P 2025, hampir separuh hambatan proyek berasal dari persoalan operasional, disusul subsurface dan perizinan.
Perusahaan juga menyoroti persoalan tumpang tindih lahan, pembatasan alih fungsi kawasan, serta kebutuhan relaksasi TKDN untuk peralatan tertentu. Karena itu, PHE meminta dukungan pemerintah dalam bentuk percepatan perizinan, insentif fiskal, hingga kepastian tata kelola hukum bagi pengambilan keputusan bisnis.
Dalam bagian penutup presentasi, direksi PHE menegaskan bahwa eksplorasi, EOR, MNK dan M&A akan menjadi penentu masa depan industri hulu migas nasional. Namun seluruh strategi itu hanya akan berhasil jika ditopang “enablers” berupa SDM, regulasi, organisasi dan dukungan ekosistem yang kuat.

