RDP DPR: Djoko Siswanto Beberkan Strategi Besar Menahan Laju Penurunan Produksi Migas Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan optimisme sekaligus tantangan besar yang dihadapi industri hulu migas nasional dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI.

Di hadapan anggota dewan dan 10 KKKS besar, Djoko menegaskan target lifting minyak tahun 2026 sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD) masih dapat dicapai melalui akselerasi pengeboran, program Triple 100, serta optimalisasi produksi dari sumur masyarakat.

Menurut Djoko, hingga 31 Mei 2026 realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL mencapai 576,2 ribu BOPD, terdiri dari minyak 491,3 ribu BOPD, kondensat 55,8 ribu BOPD, dan NGL 29,1 ribu BOPD. Angka tersebut masih berada di bawah target outlook tahun 2026 sebesar 610 ribu BOPD.  

“Kami menghadapi sejumlah gangguan operasional, mulai dari kebocoran pipa Transgasindo yang berdampak pada sejumlah KKKS di Dumai hingga planned shutdown dan isu kelistrikan di beberapa wilayah operasi. Namun berbagai langkah percepatan telah dijalankan untuk menjaga produksi nasional,” papar Djoko.  

Salah satu kabar positif datang dari keberhasilan sumur-sumur pengembangan di wilayah Zona 4, Zona 7, dan Pertamina Hulu Rokan yang telah memberikan tambahan produksi awal sekitar 10.000 BOPD. Selain itu, SKK Migas mengandalkan program Triple 100 dan First Tranche Gas (FTG) yang masih menyimpan potensi tambahan produksi sekitar 4.800 BOPD. Produksi dari sumur masyarakat yang telah diakomodasi melalui implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 juga telah mencapai sekitar 1.500 BOPD dan diperkirakan terus meningkat.  

Di sektor gas bumi, Djoko melaporkan produksi gas hingga akhir Mei mencapai 6.550 MMSCFD dengan penyaluran gas sebesar 5.207 MMSCFD. SKK Migas menargetkan produksi gas sepanjang tahun 2026 sebesar 6.787 MMSCFD dan penyaluran gas 5.400 MMSCFD.  

Untuk tahun 2027, SKK Migas memproyeksikan lifting minyak, kondensat, dan NGL dapat meningkat menjadi sekitar 612,5 ribu BOPD. Proyeksi tersebut didukung oleh kontribusi sekitar 740 sumur baru, tambahan produksi dari proyek Hidayah yang dioperasikan Petronas sebesar 31,5 ribu BOPD, serta program workover dan well services yang diperkirakan menyumbang 57 ribu BOPD.  

Sementara itu, lifting gas tahun 2027 diproyeksikan mencapai 5.469 MMSCFD, lebih tinggi dibanding outlook 2026 sebesar 5.400 MMSCFD. Tambahan pasokan diperkirakan berasal dari proyek-proyek onstream baru dan aktivitas pengeboran yang mampu menyumbang sekitar 320 MMSCFD.  

Djoko juga mengungkapkan bahwa aktivitas hulu migas akan semakin masif. Dari target Work Program & Budget (WP&B) 2026, hingga Mei telah direalisasikan 215 sumur eksploitasi, 378 kegiatan kerja ulang sumur, dan lebih dari 13 ribu kegiatan perawatan sumur. Namun masih terdapat ruang besar untuk percepatan karena lebih dari 600 sumur eksploitasi dan 34 sumur eksplorasi masih harus diselesaikan hingga akhir tahun.  

Di sisi lain, kebutuhan cost recovery diperkirakan meningkat pada 2027 menjadi US$10,1–11,5 miliar, naik dari outlook 2026 sebesar US$8,5–9,9 miliar. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh peningkatan aktivitas eksplorasi, pengembangan lapangan, pengeboran masif, serta pelaksanaan berbagai program peningkatan produksi nasional.  

Paparan Djoko Siswanto menunjukkan bahwa upaya mengejar target lifting nasional tidak lagi hanya bertumpu pada lapangan-lapangan eksisting, melainkan membutuhkan kombinasi investasi besar, percepatan pengeboran, optimalisasi aset yang ada, hingga pelibatan sumur masyarakat sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.