RDP DPR-SKK Migas: Produksi Minyak Nasional 576 Ribu BOPD, Siapa Paling Bersinar?

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan kinerja produksi minyak, kondensat, dan NGL nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 576.133 barel per hari (BOPD) atau 94,4% dari target APBN 2026 sebesar 610.000 BOPD. Data tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Djoko menjelaskan, meskipun capaian nasional masih berada di bawah target, sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berhasil mencatatkan produksi di atas rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan.

“Beberapa lapangan utama menunjukkan kinerja yang sangat baik. Bahkan ada yang melampaui target hingga lebih dari dua kali lipat. Ini menjadi bukti bahwa upaya optimalisasi produksi mulai memberikan hasil,” ujar Djoko dalam paparannya.

Dari 20 KKKS terbesar, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) masih menjadi kontributor utama dengan produksi 131.040 BOPD, meskipun baru mencapai sekitar 80% dari target APBN. Sementara itu, ExxonMobil Cepu Ltd. membukukan produksi 129.915 BOPD atau sekitar 87,5% dari target.

Di posisi berikutnya, PT Pertamina EP menghasilkan 73.983 BOPD dan hampir mencapai target tahunan dengan tingkat pencapaian sekitar 98%.

Yang menarik, beberapa KKKS justru mencatatkan performa jauh di atas target. PetroChina International Jabung Ltd. menjadi bintang dengan produksi 27.478 BOPD, setara 236,9% dari target APBN. Disusul Saka Indonesia Pangkah Ltd. yang mencapai 152,2%, serta JOB Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi yang membukukan 129,2% dari target.

Menurut Djoko, capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi percepatan pemboran, workover, well intervention, dan optimalisasi fasilitas produksi mulai memberikan dampak positif terhadap peningkatan lifting nasional.

Namun demikian, ia mengakui tantangan masih cukup berat. Kontribusi lapangan-lapangan besar yang selama ini menjadi tulang punggung produksi nasional masih menghadapi penurunan alamiah (natural decline), sehingga diperlukan tambahan produksi baru secara berkelanjutan.

“Fokus kami adalah menjaga lapangan eksisting tetap optimal sekaligus mempercepat proyek-proyek pengembangan agar dapat segera berproduksi. Setiap barel tambahan sangat berarti bagi ketahanan energi nasional,” kata Djoko.

Dalam pemaparannya kepada DPR, SKK Migas juga menegaskan akan terus mengawal program peningkatan produksi di seluruh wilayah kerja, terutama pada KKKS yang masih berada di bawah target. Beberapa operator yang masih perlu meningkatkan kinerja antara lain PHR, ExxonMobil Cepu, PHE OSES, BP Berau, dan sejumlah KKKS lainnya.

Dengan realisasi nasional yang sudah mencapai 94,4% dari target APBN pada akhir Mei, SKK Migas optimistis gap produksi dapat terus diperkecil pada semester kedua 2026 melalui percepatan pemboran sumur baru, reaktivasi sumur idle, serta optimalisasi fasilitas produksi di lapangan-lapangan utama.

“Target pemerintah tetap menjadi komitmen bersama. Kami akan terus bekerja bersama seluruh KKKS agar produksi nasional dapat terus meningkat dan memberikan kontribusi maksimal bagi penerimaan negara,” tegas Djoko.