Dirut PHR: Rokan Sedang Recovery, Produksi Ditargetkan Melonjak ke 144 Ribu BOPD

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus berpacu memulihkan dan meningkatkan produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan setelah menghadapi dua gangguan besar pada awal tahun ini. Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, mengungkapkan bahwa saat ini produksi Rokan telah mencapai 131 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan ditargetkan meningkat menjadi 144 ribu BOPD hingga akhir 2026.

Hal tersebut disampaikan Arifin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

“Terkait dengan dua wilayah kerja yang tadi saya sampaikan, operatornya berada di bawah pengelolaan Pertamina. Khusus untuk Wilayah Kerja (WK) Rokan, saat ini kami masih berada dalam fase operational recovery. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pada awal tahun terjadi gangguan berupa terputusnya pasokan gas ke Rokan dari TGI sejak 2 Januari hingga 2 Februari,”

“Permasalahan tersebut saat ini telah berhasil diatasi dan PHR kembali menerima pasokan gas sesuai kebutuhan operasional. Namun demikian, masih terdapat tantangan lain, yaitu kendala pada sistem kelistrikan yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2025.Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, kami bersama PLN terus melakukan upaya perbaikan terhadap genset di fasilitas NDC (North Duri Cogeneration). Mudah-mudahan proses penyelesaian perbaikan tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan beroperasi normal kembali pada pertengahan tahun ini,”

“Saat ini produksi WK Rokan berada pada kisaran 131 ribu barel minyak per hari (BOPD). Insya Allah, apabila seluruh program berjalan lancar, kami menargetkan produksi dapat mencapai 144 ribu BOPD pada tahun ini. Mohon doa dan dukungan dari Bapak-Ibu sekalian,” kata M.Arifin di hadapan Komisi XII DPR.

Menurutnya, sepanjang awal 2026, WK Rokan menghadapi tantangan operasional yang tidak ringan. Salah satunya adalah terhentinya pasokan gas akibat gangguan pada sistem penyaluran gas dari Transgasindo (TGI) yang berlangsung sejak 2 Januari hingga 2 Februari 2026.

Gangguan tersebut berdampak langsung terhadap operasi lapangan minyak terbesar di Indonesia tersebut. Namun, setelah berbagai upaya penanganan dilakukan, pasokan gas kini telah kembali normal dan mampu memenuhi kebutuhan operasi PHR.

“Tantangan pasokan gas sudah dapat kami atasi. Saat ini suplai gas kembali diterima sesuai kebutuhan operasi,” kata Arifin.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir. PHR masih harus menghadapi kendala kelistrikan yang terjadi sejak akhir 2025. Bersama PLN, perusahaan tengah mempercepat proses perbaikan sejumlah fasilitas pembangkit, termasuk genset di area operasi yang menjadi penopang aktivitas produksi.

Arifin optimistis perbaikan tersebut dapat segera dituntaskan sehingga sistem kelistrikan kembali beroperasi normal dan mendukung peningkatan produksi migas di WK Rokan.

Di tengah proses pemulihan tersebut, aktivitas pengeboran terus berjalan agresif. Hingga awal Juni 2026, PHR telah menyelesaikan pengeboran 103 sumur dari target 460 sumur sepanjang tahun.

Selain itu, perusahaan juga mengandalkan program kerja ulang sumur (workover) sebagai strategi percepatan pemulihan produksi. Tercatat sebanyak 86 sumur telah menjalani workover hingga saat ini.

“Kerja ulang sumur menjadi salah satu quick win yang sangat penting bagi kami. Setelah gangguan gas dan kelistrikan, ada beberapa sumur yang mengalami penurunan kinerja dan tidak langsung kembali seperti kondisi semula. Karena itu, workover menjadi langkah strategis untuk mempercepat recovery produksi,” jelasnya.

Sebagai tulang punggung produksi minyak nasional, WK Rokan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan energi Indonesia. Karena itu, keberhasilan pemulihan operasi dan pencapaian target produksi di wilayah tersebut menjadi perhatian utama pemerintah, DPR, dan Pertamina.

Dengan kombinasi percepatan pengeboran, kerja ulang sumur, serta pemulihan infrastruktur energi, PHR berharap momentum kebangkitan produksi WK Rokan dapat terus terjaga hingga akhir tahun dan memberikan kontribusi signifikan terhadap target lifting minyak nasional.