Djoko Siswanto: JOB Tomori Segera Groundbreaking Pabrik LPG Berbasis Flare Gas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Kinerja operasi JOB Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi terus menunjukkan tren positif. Tak hanya berhasil menjaga produksi gas sesuai target dan mencatat lonjakan produksi kondensat, perusahaan juga tengah menyiapkan langkah baru yang dinilai strategis: membangun pabrik LPG berbasis flare gas yang diproyeksikan menghasilkan hingga 80 ton LPG per hari.

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, General Manager JOB Pertamina–Medco E&P Tomori sekaligus Zona 13, Andry Sehang, melaporkan bahwa produksi gas perusahaan saat ini mencapai sekitar 323 MMSCFD, atau setara 100 persen dari target produksi yang ditetapkan.

Sementara itu, produksi kondensat termasuk Enhanced Gas Liquids (EGL) mencatat kinerja yang lebih impresif dengan capaian 126 persen dari target.

“Alhamdulillah, hingga saat ini produksi gas JOB Tomori berada pada angka 100 persen dari target, dengan produksi harian sekitar 323 MMSCFD. Untuk kondensat termasuk EGL, capaian produksi saat ini mencapai 126 persen,” ujar Andry di hadapan pimpinan dan anggota Komisi XII DPR RI.

Di tengah capaian produksi tersebut, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan kabar menarik terkait pengembangan hilirisasi gas di wilayah kerja Tomori. Menurutnya, JOB Pertamina–Medco E&P Tomori sedang mempersiapkan pembangunan pabrik LPG yang memanfaatkan flare gas sebagai bahan baku.

“Di JOB Pertamina Medco Tomori mau dibangun pabrik LPG juga. Bisa 60 sampai 80 ton per hari dari flare gas. Lumayan, kandungan C3-C4-nya terakhir sekitar 21 persen. Mudah-mudahan bulan ini groundbreaking,” kata Djoko Siswanto dalam rapat yang sama.

Rencana tersebut dinilai menjadi terobosan penting karena flare gas yang selama ini dibakar akan diolah menjadi produk bernilai tambah berupa LPG. Kandungan C3 dan C4 yang mencapai sekitar 21 persen memberikan peluang ekonomis yang menarik untuk mendukung pasokan LPG domestik sekaligus mengurangi emisi dari kegiatan pembakaran gas.

Proyek Senoro Masuki Tahap Akhir

Selain melaporkan capaian produksi, Andry juga menyampaikan perkembangan Proyek Senoro, salah satu proyek strategis yang diharapkan menjadi penggerak tambahan produksi energi nasional dari Sulawesi Tengah.

Menurut Andry, proyek tersebut telah mencapai tahap first partial onstream pada 22 Desember 2025 dan saat ini bergerak menuju target full onstream pada 14 Juni 2026.

“Kami berharap dengan tercapainya full onstream nantinya, kontribusi produksi energi dari Sulawesi Tengah akan semakin meningkat dan mampu memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Keberhasilan penyelesaian proyek Senoro diyakini akan menjadi katalis penting bagi peningkatan produksi migas nasional. Dengan kombinasi produksi yang terjaga, proyek pengembangan yang berjalan sesuai jadwal, serta rencana pembangunan fasilitas LPG dari flare gas, peran Sulawesi Tengah sebagai salah satu pusat energi nasional semakin menguat.

Langkah-langkah tersebut juga menunjukkan bagaimana industri hulu migas tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada optimalisasi sumber daya melalui pemanfaatan gas yang sebelumnya terbuang. Jika groundbreaking pabrik LPG dapat terealisasi bulan ini, maka JOB Tomori berpotensi menjadi salah satu contoh sukses integrasi antara peningkatan produksi, hilirisasi energi, dan pengurangan emisi dalam satu ekosistem operasi.