Karawang, Jabar, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan progres signifikan pembangunan pabrik LPG terbesar di Jawa Barat yang kini telah rampung dan memasuki tahap akhir komisioning, Minggu (21/6/2026).
Pabrik strategis ini memanfaatkan pasokan gas sebesar 40 MMSCFD dari lapangan offshore Pertamina ONWJ, dengan kandungan propane (C3) sebesar 8 persen dan butane (C4) sebesar 2 persen. Dari proses tersebut, fasilitas ini mampu memproduksi LPG sebanyak 170 hingga 190 metrik ton per hari.
Tak hanya LPG, pabrik ini juga menghasilkan kondensat sekitar 350 barel minyak per hari (BOPD). Jika dikonversi, kontribusi tersebut setara dengan tambahan lifting minyak lebih dari 2.000 BOPD.
“Ini menjadi kabar baik bagi upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor LPG,” ujar Djoko dalam laporannya.
Pabrik ini dibangun oleh PT ENP bersama PT EA, dengan mengadopsi teknologi asal Jerman berupa kombinasi 2-stage refrigenerator dan turbo expander. Teknologi ini memungkinkan hingga 99 persen kandungan C3 dan C4 diproses optimal menjadi LPG.
Saat ini, tahapan komisioning terus dikebut. Secara paralel, tim juga menuntaskan Non-Destructive Test (NDT) pada jaringan pipa penyalur LPG, kondensat, dan lean gas. Setelah NDT selesai, tahapan berikutnya adalah hydrotest yang dijadwalkan pada Senin.
Jika seluruh proses berjalan lancar, izin operasi tetap dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi ditargetkan terbit pada Kamis, dan lifting perdana serta penjualan LPG bisa dimulai pada Jumat.
Menariknya, lean gas hasil pemrosesan tidak terbuang sia-sia. Gas tersebut akan dialirkan sebagai bahan baku ke Pupuk Kujang, sehingga memberi nilai tambah bagi industri pupuk nasional.
Dengan beroperasinya fasilitas ini, Indonesia diproyeksikan bisa menekan impor LPG, memperkuat cadangan energi domestik, dan menjaga pasokan LPG bagi masyarakat tetap aman.
Jika semua berjalan sesuai jadwal, pabrik ini akan menjadi salah satu tonggak penting dalam penguatan ekosistem hilirisasi gas nasional serta bukti bahwa kolaborasi antara SKK Migas, Pertamina, dan mitra swasta mampu mendorong peningkatan lifting migas nasional.


