Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal percepatan transisi energi nasional. Hal itu ditegaskan Pelaksana Tugas Ketua Umum METI, Norman Ginting, dalam acara silaturahmi pengurus dan anggota METI, Jumat (26/6/2026).
Dalam suasana yang hangat dan penuh nuansa “reuni” para senior serta pelaku energi bersih nasional, Norman menyampaikan bahwa Indonesia kini berada pada momentum penting untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan, sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
“METI adalah forum yang mewakili masyarakat dalam proses transisi energi. Kami akan terus memposisikan diri sebagai strategic partner pemerintah dalam mendorong percepatan energi terbarukan,” kata Norman.
Menurut Norman, saat ini pemerintah sedang mendorong berbagai proyek strategis energi hijau, mulai dari pembangkit surya, bioenergi, bio-CNG, biogas, bioetanol, hingga panas bumi. Semua itu dinilai sebagai sinyal kuat bahwa energi terbarukan kini mulai menjadi prioritas nasional.
Ia menyoroti besarnya potensi panas bumi Indonesia yang mencapai lebih dari 20 gigawatt, namun realisasi pemanfaatannya baru sekitar 2 gigawatt.
“Gap antara potensi dan realisasi masih sangat besar. Artinya pekerjaan rumah kita masih banyak,” ujarnya.
Tak hanya sektor listrik, Norman juga menekankan besarnya peluang sektor bioenergi. Ia mengungkapkan bahwa program pencampuran bioetanol seperti E20 yang tengah didorong pemerintah menjadi peluang baru untuk menciptakan demand yang kuat di dalam negeri.
Bahkan, proyek bioetanol pertama disebut akan dimulai di Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi salah satu tonggak penting pengembangan bahan bakar nabati nasional.
“Semua harus dimulai dari demand. Kalau demand tercipta, peluang investasi akan datang dengan sendirinya,” tegasnya.
Norman juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa lagi terlalu lama bergantung pada energi fosil, apalagi produksi minyak dan gas bumi terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
“Energi terbarukan harus bisa sejajar dengan fosil fuel. Ini bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan,” katanya.
Sebagai bagian dari langkah konkret, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia akan kembali menggelar The 12th Indonesia EBTKE Conex 2026, forum tahunan yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, PLN, Pertamina, pengembang, investor, hingga penyedia teknologi.
Forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk membahas percepatan investasi energi terbarukan dari hulu ke hilir, termasuk regulasi, teknologi, pasar, hingga implementasi proyek.
Norman menegaskan, fokus METI ke depan tidak hanya pada advokasi kebijakan seperti implementasi Perpres 112 dan penyempurnaan regulasi lainnya, tetapi juga memastikan seluruh program strategis pemerintah benar-benar berjalan.
“Selama ini kita sudah banyak bicara perencanaan. Sekarang waktunya eksekusi,” tandas Norman.
Dengan rebranding organisasi menuju lembaga yang lebih profesional, berintegritas, dan berorientasi aksi, METI ingin menjadi rumah besar bagi seluruh pelaku energi terbarukan nasional untuk mempercepat terwujudnya energi bersih sebagai tulang punggung energi Indonesia di masa depan.


