Alarm EBT Menyala! Haris Yahya Sebut Indonesia Harus Bergerak Lebih Cepat

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Semangat akselerasi transisi energi kembali digaungkan dalam forum silaturahmi dan perkenalan pengurus baru Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Jumat (26/6/2026). Sekretaris Jenderal Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Haris Yahya, menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bergerak lambat dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Dalam sambutannya, Haris membuka dengan memberikan selamat kepada Ketua Umum METI yang baru, Herman, atas amanah memimpin organisasi yang selama ini menjadi motor penggerak pemikiran energi hijau di Indonesia. Ia juga mengapresiasi kehadiran sejumlah tokoh lintas sektor, mulai dari pemerintah, BUMN, hingga pelaku industri.

Menurut Haris, capaian bauran energi terbarukan Indonesia saat ini masih berada di kisaran 16 persen, atau tepatnya 15,75 persen sepanjang 2025. Angka ini, kata dia, menjadi alarm bahwa percepatan harus dilakukan lebih agresif.

“Kalau melihat target nasional, progres ini belum cukup. Kita harus bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Haris menyoroti dinamika geopolitik global, fluktuasi harga energi, hingga persoalan kecukupan pasokan listrik yang beberapa hari terakhir kembali menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional tak bisa lagi hanya bertumpu pada energi fosil.

Ia menegaskan, visi besar Presiden saat ini adalah swasembada energi dengan memaksimalkan potensi sumber daya terbarukan domestik. Meski minyak, gas, dan batu bara masih menjadi penopang utama, ketergantungan pada energi fosil dinilai tidak bisa berlangsung selamanya.

“Lingkungan, cadangan energi, dan tuntutan global semuanya memberi sinyal yang sama: transisi energi harus dipercepat sekarang,” tegasnya.

Salah satu agenda strategis yang menjadi sorotan adalah proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GW. Menurut Haris, target tersebut bukan sekadar angka besar, tetapi simbol lompatan besar dalam sejarah pembangunan listrik nasional.

Namun tantangan terberat, kata dia, justru ada di “the last mile” — menjangkau 1 persen masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah terpencil dan belum menikmati akses listrik penuh.

“Daerah remote itu mahal, logistik sulit, infrastrukturnya kompleks. Di sinilah inovasi dan kualitas SDM diuji,” katanya.

Selain PLTS, Haris juga mengungkapkan perkembangan menggembirakan di sektor bioenergi. Program biodiesel B50 disebut telah berhasil menjalani uji jalan sejauh 50.000 kilometer dengan hasil memuaskan.

Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pengguna biodiesel terbesar di dunia. Setelah sukses dengan B40, pemerintah kini bersiap melangkah lebih jauh dengan B50 dan pengembangan bioetanol.

“Regulasi untuk etanol sedang kami siapkan agar sinergi bioenergi semakin kuat,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Haris menekankan pentingnya sinergi antara METI dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, transisi energi tidak bisa hanya digerakkan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan kolektif nasional.

Ia juga mengingatkan agenda besar terdekat, yakni penyelenggaraan EBTKE Conex ke-12 pada September mendatang, yang diharapkan menjadi panggung konsolidasi dan penguatan ekosistem energi terbarukan Indonesia.

“Ini bukan hanya soal hari ini, tapi soal masa depan generasi berikutnya. Kita harus siapkan fondasinya dari sekarang,” pungkas Haris.