Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Target ambisius Indonesia membangun kapasitas energi terbarukan hingga 100 gigawatt (GW) dinilai bukan sekadar soal membangun pembangkit, tetapi juga soal membangun ekosistem yang kokoh dari hulu ke hilir.
Plt. Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Norman Ginting, menegaskan bahwa pencapaian target tersebut hanya bisa terwujud jika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama.
Menurut Norman, tantangan menuju 100 GW energi hijau sangat kompleks dan saling berkaitan. Mulai dari persoalan lahan, keterbatasan teknis intermitensi, kesiapan infrastruktur, akses pembiayaan, kepastian hukum, regulasi, rantai pasok industri, hingga kesiapan sumber daya manusia (SDM).
“METI percaya target 100 GW bisa dicapai jika seluruh ekosistem bergerak bersama. Tantangan mencapai target 100 GW harus dapat kita atasi bersama,” ujar Norman, seperti dilaporkan reporter ruangenergi.com Destian Anugrah Ramadhan dan Marcelo PS.
Ia menekankan bahwa kapasitas SDM menjadi syarat mutlak keberhasilan transisi energi. Bukan hanya dari sisi jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas dan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri energi terbarukan.
Sebagai organisasi yang menjembatani pemerintah, industri, dan akademisi, METI mendorong agar penguatan SDM lokal ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap proyek energi bersih.
Upaya tersebut kini diperkuat melalui kolaborasi antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM dan Pemerintah Swiss melalui program Renewable Energy Skills Development (RESD). Sejak dimulai pada 2020, program ini telah melahirkan lebih dari 950 sarjana terapan dan teknisi energi terbarukan yang siap terjun ke lapangan.
Memasuki fase kedua pada periode 2025–2028, cakupan kemitraan RESD diperluas menjadi 19 politeknik dan lembaga pelatihan vokasi di seluruh Indonesia.
Team Leader RESD, Dian Elvira Rosa, mengatakan keberlanjutan proyek energi surya, khususnya PLTS di daerah, sangat bergantung pada kemampuan masyarakat setempat untuk mengoperasikan dan merawat fasilitas tersebut.
“Masyarakat setempat tidak cukup hanya menerima infrastruktur PLTS; mereka harus mampu mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri,” jelas Dian.
Isu ini menjadi sorotan utama dalam forum “Bincang Energi”, yang mempertemukan berbagai pihak lintas sektor untuk merumuskan strategi penguatan SDM energi terbarukan nasional.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting seperti Edi Wibowo, Tri Mumpuni, Dadan Kusdiana, serta perwakilan PT PLN dan PT Surya Energi Indotama.
Melalui forum ini, BPSDM ESDM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar Indonesia memiliki SDM energi terbarukan yang kompeten, adaptif, dan siap menjadi tulang punggung percepatan transisi energi nasional.
Dengan target 100 GW yang semakin dekat di depan mata, pesan yang muncul kian jelas: transisi energi tidak cukup hanya membangun panel surya, turbin angin, atau pembangkit hijau lainnya. Yang lebih penting adalah memastikan ada manusia-manusia terampil yang mampu menjaga, mengoperasikan, dan mengembangkannya untuk masa depan.


