Terungkap! Kisah di Balik Logo Pertama BPMIGAS yang Pernah Diejek Mirip Logo Renault

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di balik setiap logo sebuah lembaga negara, sering kali tersimpan cerita yang tak pernah tercatat dalam dokumen resmi.

Begitu pula dengan logo pertama Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), yang lahir dari sebuah rapat sederhana, penuh diskusi, bahkan diselingi candaan para petinggi industri migas.

Cerita itu dibagikan oleh mantan Deputi Perencanaan BPMIGAS, Achmad Luthfi, yang menjadi salah satu saksi hidup proses kelahiran identitas visual lembaga yang kala itu baru dibentuk.

Menurut Luthfi, perancangan logo pertama berlangsung pada masa awal berdirinya BPMIGAS ketika lembaga tersebut dipimpin oleh Rachmat Sudibyo bersama Bangun Usman Harahap. Rapat perancangannya juga dihadiri sejumlah senior manajer Direktorat MPS.

“Logo pertama BPMIGAS dirancang saat BPMIGAS baru dibentuk. Saat itu baru ada Pak Rachmat Sudibyo dan Pak Bangun Usman Harahap,” kenang Luthfi bercerita kepada ruangenergi.com

Namun, siapa sangka, logo yang telah disepakati itu justru menjadi bahan gurauan. Almarhum Iin T. Arifin, salah satu tokoh migas nasional, sempat melontarkan candaan yang hingga kini masih diingat para peserta rapat.

“Mentang-mentang Kepala lulusan Perancis, logonya seperti logo mobil Renault dikasih bintang.”

Di balik candaan tersebut ternyata tersimpan filosofi yang cukup dalam. Luthfi mengungkapkan bahwa konsep dasar logo justru berasal langsung dari gagasan Rachmat Sudibyo.

Inspirasi awalnya berasal dari simbol centang (✓), yang dimaknai sebagai “yes” atau persetujuan. Filosofi ini mencerminkan peran strategis BPMIGAS sebagai lembaga yang memberikan persetujuan terhadap seluruh kegiatan usaha hulu migas di Indonesia.

Dua simbol centang kemudian dikreasikan menjadi sebuah bentuk baru yang akhirnya melahirkan logo pertama BPMIGAS. Agar identitasnya semakin kuat sebagai lembaga negara, Rachmat Sudibyo menambahkan sebuah bintang di bagian tengah logo.

Setelah rapat menyetujui desain tersebut, proses administrasi bergerak cepat. Tanpa menunggu lama, kop surat, amplop, hingga berbagai perlengkapan resmi BPMIGAS langsung dicetak di sebuah percetakan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.

Perjalanan logo BPMIGAS ternyata tidak berhenti di situ.

Memasuki era kepemimpinan Kardaya Warnika, muncul keinginan untuk menghadirkan identitas visual yang lebih mencerminkan sektor minyak dan gas.

Dalam salah satu rapat, Kardaya memberikan arahan sederhana namun tegas.

“Logo BPMIGAS harus menggambarkan butiran tetesan minyak dan menggambarkan gas juga.”

Arahan itu kemudian melahirkan logo baru berupa tetesan berwarna hijau dan merah yang lebih dikenal publik hingga masa akhir BPMIGAS. Warna hijau melambangkan minyak, sedangkan elemen merah merepresentasikan gas.

Menariknya, desain tersebut bukan dikerjakan secara internal, melainkan dipercayakan kepada tim seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Bahkan, menurut Luthfi, dalam tim tersebut terdapat seorang konsultan desain grafis asal Belanda yang saat itu menetap dan bekerja di Indonesia.

Bagi Luthfi, kisah perjalanan logo BPMIGAS bukan sekadar cerita desain, melainkan potongan sejarah sebuah institusi yang pernah menjadi pusat pengelolaan hulu migas nasional sebelum kemudian bertransformasi menjadi SKK Migas.

Ia juga mengenang para peserta rapat perancangan logo pertama. Dari seluruh peserta, dua orang telah berpulang, yakni Sidik Nitikusuma dan Robertus Soemarji. Sementara Rachmat Sudibyo, Bangun Usman Harahap, Inggrid, dan dirinya sendiri masih diberi kesehatan.

“Semoga bermanfaat terutama untuk yang belum ‘ngeh’ sejarah Logo BPMIGAS,” tulis Luthfi, menutup kisahnya dari kediamannya di Jalan Potlot, Jakarta Selatan—sebuah jalan yang juga dikenal sebagai lokasi markas grup musik legendaris Slank.

Testimoni Achmad Luthfi menjadi pengingat bahwa sebuah logo bukan sekadar gambar. Di balik garis, warna, dan simbolnya, tersimpan filosofi, dinamika organisasi, hingga kenangan para pelaku sejarah yang ikut membangun fondasi tata kelola industri hulu migas Indonesia.