Saumlaki, Maluku, ruangenergi.com-Di tengah euforia dimulainya pembangunan Proyek Abadi LNG Blok Masela, sebuah gagasan yang lebih besar mulai mengemuka dari Pulau Selaru, pulau paling selatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Bukan sekadar menjadi jalur pipa gas, Selaru ingin menjelma menjadi kawasan petrokimia terpadu yang mengolah gas menjadi pupuk, amonia, hingga berbagai produk turunan bernilai tambah.
Harapan itu disampaikan tokoh masyarakat Selaru, Lukas Uwuratuw, kepada RuangEnergi.com. Menurutnya, momentum groundbreaking Blok Masela seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas LNG semata, tetapi menjadi titik awal lahirnya pusat industri baru di Indonesia.
Di mata Lukas, keunggulan terbesar Selaru bukan hanya cadangan gas Masela yang melimpah, melainkan letaknya yang sangat strategis.
Ia menggambarkan bahwa perjalanan laut dari Selaru menuju Darwin, Australia Utara, hanya sekitar 18 jam, bahkan lebih singkat dibandingkan pelayaran menuju Ambon yang mencapai sekitar 24 jam.
Kedekatan geografis itu membuka peluang ekspor pupuk ke Australia, terutama untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian di wilayah utara negara tersebut.
Logikanya sederhana.
Jika pupuk diproduksi di Selaru lalu dikirim ke Pulau Jawa, biaya logistik akan meningkat karena jaraknya jauh. Sebaliknya, mengirim langsung ke Darwin akan jauh lebih efisien sehingga daya saing produk Indonesia meningkat.
“Pasarnya ekspor. Australia Utara membutuhkan pupuk dalam jumlah besar dan lokasinya sangat dekat dari sini,” kata Lukas.
Optimisme itu bukan sekadar wacana.
Lukas mengaku telah menyiapkan sekitar 700 hektare lahan di Pulau Selaru yang dirancang sebagai kawasan industri sekaligus area pelabuhan.
Menurutnya, kebutuhan lahan untuk pabrik pupuk sebenarnya hanya sekitar 100 hektare. Namun ia sengaja menyiapkan kawasan jauh lebih luas agar nantinya berkembang menjadi kompleks petrokimia terpadu yang memproduksi amonia dan berbagai produk turunan gas lainnya.
Tim ahli bahkan telah dibawa ke lokasi untuk melakukan survei awal mengenai kelayakan pembangunan kawasan industri tersebut.
Baginya, keberadaan pelabuhan menjadi kunci.
“Kalau mau ekspor, pelabuhan adalah syarat utama. Dan lokasi terbaik untuk itu ada di Selaru,” katanya kepada ruangenergi.com di Saumlaki, Kamis (16/07/2026).
Gagasan besar itu bertumpu pada satu harapan penting: adanya alokasi sebagian gas Masela untuk industri domestik.
Lukas menjelaskan bahwa jalur pipa gas dari Proyek Abadi direncanakan melintasi Pulau Selaru sebelum menuju fasilitas ekspor LNG. Karena itu, ia berharap sebagian kecil gas dapat dialirkan melalui jaringan pipa menuju kawasan industri.
Target yang diinginkan masyarakat bukanlah mayoritas produksi, melainkan sekitar 10 persen alokasi gas untuk menghidupkan industri petrokimia.
Menurutnya, jika pemerintah memberikan kepastian alokasi gas, investor akan lebih mudah masuk membangun pabrik pupuk maupun industri kimia lainnya.
“Yang penting ada regulasinya dan ada kepastian pasokan gas. Setelah itu industri akan datang sendiri,” katanya.
Di balik ambisi membangun petrokimia, Lukas menyimpan kekhawatiran lain.
Saat masa konstruksi Masela berlangsung, proyek diperkirakan menyerap belasan ribu pekerja. Namun setelah fasilitas beroperasi, kebutuhan tenaga kerja akan jauh berkurang.
Karena itu ia melihat pembangunan industri hilir sebagai solusi agar tenaga kerja lokal tetap memiliki ruang bekerja setelah proyek LNG memasuki tahap operasi.
“Kalau ada petrokimia, tenaga kerja yang sudah memiliki keterampilan bisa tetap bekerja. Jangan sampai setelah proyek selesai mereka kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Lukas juga menaruh harapan besar terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) INPEX.
Menurutnya, masyarakat memahami bahwa program CSR dalam skala besar baru akan berjalan ketika proyek memasuki tahap produksi. Namun sejak sekarang, arah pemanfaatannya sudah perlu disiapkan.
Ia berharap dana CSR tidak hanya digunakan untuk bantuan jangka pendek, tetapi diarahkan membangun kualitas sumber daya manusia.
Salah satunya melalui pembiayaan sertifikasi profesi bagi putra-putri daerah lulusan teknik perminyakan, termasuk lulusan Akamigas Cepu maupun politeknik di Maluku.
Inspirasi itu diambil dari pengalaman proyek Tangguh LNG di Papua, yang membangun sistem pelatihan operator bagi masyarakat lokal sehingga mereka tidak hanya menjadi pekerja non-skill.
Selain pendidikan, ia berharap pengusaha lokal juga memperoleh kesempatan dalam pekerjaan seperti land clearing, pembangunan pagar proyek, penyediaan katering, pasokan sayur-mayur, hingga berbagai kebutuhan logistik proyek.
Lukas mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama persoalan lahan di kawasan Harmatan yang menjadi lokasi pembangunan dermaga LNG.
Menurutnya, muncul praktik spekulasi tanah ketika sejumlah broker membeli lahan masyarakat dengan harga murah untuk memperoleh keuntungan saat pembebasan lahan.
Karena kawasan tersebut merupakan tanah negara, ia mendukung pendekatan pemerintah yang lebih mengutamakan pembayaran kompensasi atas tanam tumbuh dibandingkan membeli lahan dari para spekulan.
Di sisi lain, ia juga berharap keamanan proyek tetap dijaga agar proses pembangunan pasca-groundbreaking berjalan tanpa gangguan.
Bagi Lukas, Blok Masela bukan hanya tentang ekspor LNG bernilai miliaran dolar.
Yang lebih penting adalah bagaimana gas bumi mampu melahirkan industri baru, membuka lapangan kerja, memperkuat pelaku usaha lokal, hingga menjadikan Selaru sebagai gerbang ekspor baru Indonesia ke Australia.
Di ujung selatan Nusantara itu, masyarakat tidak ingin hanya menjadi penonton dari kekayaan alam yang berada di halaman rumah mereka.
Mereka ingin gas Masela menjadi fondasi bagi lahirnya pusat petrokimia Indonesia timur—sebuah mimpi yang, jika terwujud, akan mengubah Selaru dari kecamatan terpencil menjadi simpul industri dan perdagangan baru di kawasan Asia-Pasifik.
