Aceh Tamiang, Aceh, ruangenergi.com-Banjir bandang yang menerjang wilayah operasi PT Pertamina EP Rantau Field pada November 2025 sempat membuat seluruh kegiatan produksi minyak berhenti total. Namun, kurang dari enam bulan kemudian, seluruh sumur yang sempat dimatikan berhasil dihidupkan kembali dan produksi kini telah kembali berada di kisaran 1.700 barel minyak per hari (BOPD).
Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan banjir yang terjadi saat itu bukan banjir biasa. Ketinggian air di area operasi dan kompleks perumahan Pertamina bahkan mencapai sekitar 4,5 meter, disusul endapan lumpur dengan ketebalan sekitar 50 hingga 100 sentimeter.
Hal tersebut disampaikan Tomi saat bertemu wartawan, termasuk M Utar, redaktur ruangenergi.com, di Aceh Tamiang.
“Banjir bandang yang cukup besar sampai mencapai empat setengah meter ketinggiannya. Setelah air reda, kami juga menghadapi lumpur yang cukup tinggi, bisa mencapai 50 sampai 100 sentimeter,” ujar Tomi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat seluruh operasional Rantau Field harus dihentikan demi keselamatan pekerja. Produksi yang sebelumnya berada di sekitar 1.900 BOPD, seketika turun menjadi nol.
Tomi mengisahkan, bencana bermula ketika hujan deras mengguyur wilayah Rantau sejak 22 November 2025. Hujan berlangsung selama sekitar lima hari berturut-turut, disertai angin kencang yang menyebabkan banyak pohon tumbang.
Pada awalnya, air masih terlihat jernih. Namun memasuki hari kelima, kondisi berubah drastis. Air mulai kecokelatan dan permukaan air naik dengan sangat cepat.
Puncak banjir terjadi sekitar 26 November 2025. Saat itulah operasional Rantau Field dihentikan total dan perusahaan menetapkan kondisi tersebut sebagai force majeure.
“Pada saat itu operasional kami harus dihentikan, produksi harus kami stop, sehingga kami declare bahwa Rantau Field mengalami force majeure,” kata Tomi.
Tak hanya fasilitas produksi yang terdampak. Kompleks perumahan Pertamina juga berubah menjadi lokasi pengungsian bagi pekerja, keluarga pekerja, dan masyarakat sekitar.
Tiga bangunan yang relatif tinggi menjadi titik pengungsian, yakni masjid, gedung arsip dua lantai, serta gedung uji kompetensi. Sekitar 1.300 orang mengungsi di area masjid, 350 orang di gedung arsip, dan sekitar 400 orang di gedung uji kompetensi.
Situasi semakin berat karena kompleks Pertamina Rantau praktis terisolasi. Dua akses jalan utama sama-sama tidak dapat digunakan.
Di akses Jalan Opah, air telah mencapai level jembatan dan banyak pohon tumbang menghalangi jalan. Sementara akses Jalan Bukit Suling terputus akibat longsor.
“Kami praktis terisolir, terperangkap, tidak bisa keluar maupun tidak bisa masuk,” ujar Tomi.
Kondisi tersebut membuat distribusi bahan makanan melalui jalur darat tidak memungkinkan. Pertamina kemudian mengambil langkah cepat dengan mengerahkan helikopter atau chopper untuk mengirimkan bahan makanan dan kebutuhan dasar ke kompleks Rantau.
Dalam proses evakuasi, chopper juga digunakan untuk membawa keluar sejumlah warga dan pekerja yang membutuhkan penanganan khusus, termasuk pekerja yang sedang hamil dan mereka yang mengalami gangguan kesehatan seperti stroke.
Tomi menjelaskan, Pertamina EP Rantau Field membagi proses pemulihan pascabanjir ke dalam empat tahapan besar, yakni emergency, reaktivasi, recovery, dan sustainability.
Tahap emergency difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari makanan, air, fasilitas kesehatan hingga listrik.
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, perusahaan masuk ke tahap reaktivasi dengan menghidupkan kembali fasilitas-fasilitas produksi dan sumur-sumur yang sebelumnya dimatikan.
Salah satu tantangan besar adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik. Untuk itu, sumur produksi harus terlebih dahulu diaktifkan agar menghasilkan gas ikutan yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
Listrik yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk menghidupkan kembali berbagai fasilitas operasional, termasuk fasilitas pengolahan air dan peralatan produksi.
Saat ini, proses pemulihan telah memasuki tahap recovery. Tahap terakhir adalah sustainability, yakni memastikan seluruh kegiatan operasional dapat kembali berjalan secara normal dan berkelanjutan.
Upaya pemulihan tersebut membuahkan hasil. Dari kondisi nol produksi akibat banjir, produksi Rantau Field secara bertahap meningkat hingga sempat mencapai 2.000 BOPD, bahkan melampaui tingkat produksi sebelum banjir.
“Sebelum banjir produksi kami sekitar 1.900 barrel. Kemudian banjir terjadi kami zero, nol. Setelah itu kami bertahap menghidupkan kembali seluruh sumur dan produksi bisa mencapai 2.000 barrel oil per day,” tutur Tomi.
Saat ini produksi berada di kisaran 1.700 BOPD.
Angka tersebut sekaligus menjadi modal optimisme perusahaan untuk memenuhi target produksi yang telah disesuaikan setelah terjadinya force majeure pada akhir 2025.
“Target perusahaan sekitar 1.700. Saat ini produksi kami kurang lebih sama, sekitar 1.700 barrel oil per day. Dengan tren produksi saat ini, insya Allah kami optimis bisa mencapai target tersebut sampai akhir tahun,” ujarnya.
Produksi utama Rantau Field adalah minyak mentah. Minyak yang diproduksikan ditampung terlebih dahulu di fasilitas P3 Rantau.
Setelah volume minyak terakumulasi hingga sekitar 35.000 barel, minyak kemudian dipompakan melalui jaringan pipa menuju Pangkalan Susu untuk selanjutnya dikirim ke kilang.
Sementara gas yang dihasilkan merupakan associated gas atau gas ikutan. Gas tersebut saat ini dimanfaatkan untuk kebutuhan internal operasi, terutama sebagai sumber energi pembangkit listrik dan penggerak mesin-mesin di area sumur.
Ada satu hal yang menurut Tomi menjadi catatan penting dari proses pemulihan Rantau Field: kecepatan bangkit dari bencana.
Saat banjir besar terjadi, muncul prediksi bahwa Rantau Field membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun untuk kembali berproduksi.
Namun prediksi tersebut berhasil dipatahkan.
“Kurang dari enam bulan itu sudah kembali semua sumurnya hidup. Jadi bisa lebih cepat daripada prediksi yang sebelumnya dilakukan,” ungkap Tomi.
Untuk mengembalikan seluruh kondisi operasional ke tingkat normal dan berkelanjutan, Pertamina telah menyusun time schedule pemulihan hingga 2029. Namun dari sisi produksi, Rantau Field sudah mampu kembali berproduksi sejak awal 2026.
Menurut Tomi, salah satu kunci percepatan pemulihan adalah optimalisasi seluruh sumber daya yang dimiliki Pertamina.
Rantau Field tidak hanya mengandalkan pekerja dan sumber daya internal. Dukungan juga datang dari berbagai field lain, antara lain Jambi, Pangkalan Susu, Lirik, Ramba dan Adela.
“Kami memanfaatkan semua resource yang ada. Tidak hanya para pekerja yang ada di Rantau Field, kami juga membuka diri untuk bantuan dari field-field lain,” katanya.
Dari pengalaman tersebut, Tomi melihat adanya kekuatan besar dalam soliditas antarunit Pertamina.
“Ketika ada satu yang terdampak atau terkena musibah, semua siap membantu,” ujarnya.
Kini, setelah melewati fase paling berat, Rantau Field terus menata kembali operasionalnya. Bagi Tomi, pemulihan bukan sekadar mengembalikan produksi ke angka sebelum banjir, tetapi memastikan lapangan tersebut kembali menjadi bagian penting dalam menopang ketahanan energi nasional.
“Harapannya tentunya kami bisa kembali normal, bisa kembali bangkit, dan operasional ke depan bisa memberikan kontribusi bagi ketahanan energi Indonesia,” pungkasnya.


