Banggai, Sulteng, ruangenergi.com – Di tengah aktivitas industri migas dan deru fasilitas pengolahan gas alam cair, suara kehidupan lain terdengar dari sebuah kawasan konservasi di Banggai, Sulawesi Tengah.
Dua ekor burung maleo berdiri tenang di atas tanah. Tubuhnya hitam mengilap, kaki jenjang, dengan tonjolan khas di atas kepala. Sekilas, burung itu tampak seperti unggas biasa.
Namun maleo bukan burung biasa.
Ia adalah satwa endemik Sulawesi yang statusnya Critically Endangered atau sangat terancam punah. Populasinya di alam disebut tinggal sekitar 7.000 pasang atau sekitar 14.000 individu berdasarkan asesmen 2021.
Di tengah kondisi tersebut, PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) memilih mengambil bagian dalam upaya penyelamatannya.
“Kalau di dunia, dia sudah masuk Critically Endangered. Asesmen terakhir tahun 2021 hanya ada sekitar 7.000 pasang, jadi sekitar 14.000 individu maleo yang ada di dunia,” kata Berkatdo Saragih, CSR Supervisor DSLNG, kepada wartawan, termasuk Destian Anugrah Ramadhan, reporter ruangenergi.com, saat media visit ke site DSLNG di Banggai.
Upaya konservasi DSLNG dilakukan melalui Maleo Conservation Center, sebuah fasilitas konservasi ex situ yang dikelola bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Kementerian Kehutanan.
Ex situ berarti satwa dirawat di luar habitat alaminya. Berbeda dengan konservasi in situ yang dilakukan langsung di habitat asli.
Di fasilitas itu, maleo tidak hanya ditempatkan dalam kandang. DSLNG juga memiliki area inkubasi untuk menetaskan telur menggunakan sistem inkubator.
Menariknya, telur yang masuk bukan diambil sembarangan dari alam.
Sesuai prinsip konservasi, DSLNG tidak mengambil telur maleo yang ditemukan di habitatnya untuk dipindahkan ke pusat konservasi. Telur yang berada di fasilitas tersebut antara lain berasal dari hasil sitaan BKSDA terhadap perdagangan ilegal atau penyerahan satwa yang membutuhkan penyelamatan.
“Telur-telur yang masuk di sini adalah telur-telur hasil sitaan BKSDA. Mereka yang mengirim ke sini,” ujar Berkatdo.
Telur kemudian ditempatkan di inkubator. Jika menetas dan dalam kondisi sehat, anak maleo dipelihara dalam waktu tertentu sebelum dilepasliarkan kembali.
Prinsipnya sederhana: jangan membuat burung liar menjadi terlalu terbiasa dengan manusia.
Karena itu, maleo yang masih sangat muda justru memiliki peluang lebih besar untuk dikembalikan ke alam.
Setia pada Satu Pasangan
Di dalam kandang, pengunjung juga bisa melihat perbedaan antara maleo muda dan indukan.
Maleo jantan umumnya memiliki ukuran tubuh lebih besar. Burung ini juga dikenal sebagai satwa yang lebih banyak berjalan ketimbang terbang. Meski demikian, ketika merasa terancam, maleo tetap mampu terbang.
Ada pula satu fakta menarik tentang perilakunya.
Maleo dikenal memiliki pasangan yang cenderung tetap. Bahkan dalam penjelasan pengelola, pasangan maleo dapat bertahan bersama dalam jangka panjang.
Di pusat konservasi DSLNG, kandang indukan dan anakan dipisahkan. Maleo remaja juga ditempatkan bersama kelompok seusianya.
Sementara indukan yang telah berusia belasan tahun tetap dipantau. Beberapa maleo di fasilitas tersebut bahkan telah mencapai usia sekitar 15–16 tahun, sementara penelitian menyebut umur maleo dapat mencapai lebih dari 20 tahun.
“Senjata” di Kepala dan Kemiri sebagai Menu Utama
Ada bagian tubuh maleo yang paling mudah dikenali: jambul atau tonjolan keras di kepalanya.
Dalam kehidupan alaminya, struktur tersebut membantu maleo beradaptasi dengan lingkungan, termasuk mendeteksi kondisi panas yang berkaitan dengan proses pengeraman telurnya.
Maleo sendiri memiliki strategi reproduksi yang unik.
Burung ini tidak mengerami telur seperti kebanyakan unggas. Maleo memanfaatkan panas alami dari lingkungan untuk menetaskan telurnya.
Untuk makanan, salah satu menu yang diberikan di pusat konservasi adalah kemiri yang telah dipecahkan, kemudian dicampur dengan pakan konsentrat.
Di alam, kemiri juga menjadi salah satu sumber makanan maleo.
“Kalau di sini dia makan kemiri yang sudah kita pecah-pecah, dicampur dengan konsentrat,” kata Berkatdo.
Sejak program konservasi dikembangkan, lebih dari 200 ekor maleo telah dilepasliarkan. Berkatdo menyebut jumlah yang telah dilepasliarkan dari fasilitas tersebut mencapai sekitar 227 ekor.
Salah satu pelepasliaran terakhir dilakukan pada 2024 dengan belasan ekor maleo.
Namun DSLNG tidak menjadikan jumlah pelepasliaran sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ada misi yang lebih panjang: memastikan masyarakat mengenal maleo dan memahami ancaman terhadap satwa tersebut.
Sebab, di wilayah yang menjadi habitat maleo sekalipun, masih banyak anak-anak yang belum pernah melihat burung ini secara langsung.
“Banyak yang belum pernah melihat maleo. Mereka tahunya hanya dari gambar atau patung,” tutur Berkatdo.
Karena itu, setiap tahun DSLNG mengundang ratusan pelajar dari sekitar wilayah operasi untuk datang melihat langsung maleo.
Jumlahnya bisa mencapai sekitar 300 anak sekolah dalam setahun.
Tujuannya agar maleo tidak hanya menjadi maskot di atas kertas, tetapi benar-benar dikenal oleh generasi muda Sulawesi.
Ketika Konservasi Berhadapan dengan Tradisi
Menjaga maleo di Banggai bukan perkara sederhana.
Ada faktor budaya yang sudah mengakar selama ratusan tahun.
Masyarakat Banggai mengenal tradisi Tumpe, sebuah ritual adat yang memiliki keterkaitan dengan telur maleo. Dalam tradisi tersebut, telur maleo pertama menjadi bagian dari prosesi adat yang berkaitan dengan Kerajaan Banggai.
Tradisi itu membuat persoalan konservasi menjadi lebih kompleks.
Di sisi lain, masih ditemukan praktik perdagangan telur maleo. Berkatdo menyebut telur maleo bahkan masih diperjualbelikan di sejumlah wilayah dengan harga puluhan ribu rupiah per butir.
Padahal, bukan hanya burungnya yang dilindungi. Telur dan bagian tubuh maleo juga tidak boleh diperjualbelikan secara ilegal.
“Yang pasti paling tidak kita mempertahankan yang ada, terus mengurangi kehancuran habitat asli mereka,” ujarnya.
Menjaga Habitat, Bukan Sekadar Kandang
DSLNG menyadari bahwa konservasi tidak boleh berhenti di dalam kandang.
Habitat alami maleo tetap harus dijaga.
Salah satu kawasan habitat maleo di sekitar wilayah Banggai berada sekitar 20 kilometer dari fasilitas DSLNG. Di kawasan seperti itulah maleo seharusnya menjalani siklus hidupnya secara alami.
Karena itu, keberadaan Maleo Conservation Center menjadi bagian dari komitmen DSLNG terhadap keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasinya.
Berkatdo menjelaskan, konservasi maleo merupakan bagian dari komitmen lingkungan yang muncul dari kajian dampak lingkungan dan pembangunan fasilitas DSLNG.
“Daerah ini memang habitat asli burung maleo. Saat pembangunan, salah satu poin penting dari aspek AMDAL adalah kontribusi untuk melestarikan keanekaragaman hayati, termasuk spesies khusus di sini. Dan yang paling khusus adalah maleo,” katanya.
Berawal dari Studi Dua Tahun
Program konservasi itu tidak dibangun secara tiba-tiba.
Sebelum fasilitas didirikan, DSLNG melakukan studi selama sekitar dua tahun. Pengkajian melibatkan ahli yang mendalami perilaku dan ekologi maleo, termasuk akademisi dari Sulawesi Tengah.
Perilaku maleo di alam dipelajari untuk menentukan bagaimana kandang, lingkungan, hingga sistem pemeliharaan harus dirancang.
Fasilitas tersebut kemudian mulai dikembangkan dan diresmikan pada 5 Juni 2013, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup.
Program konservasi terus berjalan dan berkembang hingga kini.
Bahkan, konsep fasilitas konservasi maleo DSLNG kemudian ikut menginspirasi fasilitas serupa di sekitar wilayah tersebut.
Bagi Berkatdo, semakin banyak pihak yang ikut melakukan konservasi justru menjadi kabar baik.
“Kalau dilihat dari semangat konservasi, bagus. Semakin banyak yang ikut andil untuk pelestariannya,” ujarnya.
Dari Konservasi Menuju Domestikasi?
Perjalanan konservasi maleo bahkan mulai memasuki tahap penelitian yang lebih jauh.
Di fasilitas DSLNG telah berkembang generasi maleo hasil penetasan inkubator. Ada yang disebut generasi filial pertama atau F1, bahkan mulai diarahkan untuk melihat kemungkinan berkembangnya generasi berikutnya.
Namun domestikasi maleo bukan pekerjaan mudah.
Target akhirnya bukan menjadikan maleo sekadar hewan peliharaan, melainkan memahami kemungkinan pengembangbiakan terkendali untuk mendukung keberlangsungan spesies.
“Domestikasi itu berat banget. Tapi berhasil,” kata Berkatdo.
Jika suatu hari teknologi dan pengetahuan tersebut berkembang, maleo mungkin tidak lagi hanya diselamatkan dari ancaman kepunahan, tetapi juga memiliki populasi yang lebih kuat.
Namun untuk saat ini, prinsipnya tetap satu: menyelamatkan yang ada, menjaga habitatnya, dan membuat semakin banyak orang mengenal maleo.
Di Banggai, konservasi itu berjalan berdampingan dengan industri.
Di balik pagar jaring dan pepohonan, maleo terus bergerak pelan. Sesekali kepalanya terangkat, memperlihatkan jambul khas yang membuatnya berbeda dari unggas lain.
Burung itu mungkin tidak sepopuler komodo atau orangutan.
Tetapi bagi Sulawesi, maleo adalah bagian dari identitas alam yang tak tergantikan.
Dan di tengah geliat industri energi, DSLNG berupaya memastikan satu hal: jangan sampai suara maleo hanya tersisa dalam cerita.


