Kantara Group Bawa Misi Bisnis ke Moskow: Teknologi Rusia untuk Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Hubungan bisnis Indonesia dan Rusia kembali mendapat ruang baru.

PT Kantara Indonesia Group (KIG) mulai menjajaki peluang kolaborasi dengan pelaku usaha Rusia, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga transfer teknologi dan penguatan rantai logistik.

Langkah tersebut dilakukan melalui keikutsertaan Kantara Group dalam program Made in Moscow yang digelar Moscow Export Center (MEC), Jumat (11/9/2026). Program ini mempertemukan delegasi Kantara dengan sejumlah perusahaan Rusia, khususnya dari sektor teknologi informasi dan manufaktur.

Kunjungan bisnis tersebut berlangsung atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow) dan dipimpin Direktur Utama Kantara Group I Made Nugraha Jaya Wardana, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal ASPEBINDO.

Turut dalam delegasi antara lain Komisaris Utama Kantara Group Heru Sambodo, Direktur PT Georama Karya Indonesia I Putu Yoga Sanjaya, serta Direktur Utama PT ACSL Kantara Global Logistik Firaz Bestly.

Bagi Kantara, pertemuan di Moskow bukan sekadar mencari peluang transaksi.

Perusahaan justru melihat Rusia sebagai salah satu sumber teknologi yang bisa dipelajari dan, jika sesuai dengan kebutuhan industri nasional, dibawa untuk diterapkan di Indonesia.

“Kami dibukakan akses untuk bertemu langsung dengan perusahaan-Moskow dari berbagai industri. Seluruhnya adalah perusahaan bonafide, sehingga peluang kolaborasi ke depan sangat terbuka lebar,” ujar Made.

Ia menegaskan, pola kerja sama yang dibidik adalah kemitraan dua arah yang dapat saling melengkapi kebutuhan industri Indonesia dan Rusia.

Kantara kemudian memetakan teknologi yang telah diterapkan di Rusia dan berpotensi dikembangkan di pasar Indonesia.

Langkah ini menjadi relevan karena bisnis Kantara mencakup sejumlah bidang, mulai dari geosains, energi, pertambangan, restorasi lingkungan hingga logistik. Untuk aspek teknologi geosains dan rekayasa energi, PT Georama Karya Indonesia akan mengambil peran dalam mengkaji kesesuaian teknologi tersebut dengan kebutuhan domestik.

“Teknologi yang sudah terimplementasi dengan baik di Rusia berpeluang diadopsi dan diterapkan di Indonesia,” kata Made.

Tidak berhenti pada teknologi, Kantara juga melihat peluang besar di sisi logistik.

Untuk itu, PT ACSL Kantara Global Logistik disiapkan menggarap peluang layanan ekspor-impor Indonesia–Rusia, mulai dari pengangkutan barang, pergudangan, kepabeanan hingga ekspedisi.

Artinya, jika kolaborasi teknologi berkembang menjadi perdagangan konkret, Kantara ingin memiliki ekosistem yang mampu mengawal barang dan produk dari kedua negara.

Dukungan juga datang dari KBRI Moskow. Dalam pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, dibahas peluang penguatan hubungan bisnis bilateral, pertukaran inovasi serta pengembangan layanan ekspor-impor.

“Kami mendukung penuh pertukaran teknologi dan inovasi antara Indonesia dan Rusia. Teknologi Indonesia harus mendapat panggung di Rusia, begitu pula sebaliknya,” ujar Tavares.

Moscow Jadi Pintu Masuk

Program Made in Moscow sendiri dirancang Moscow Export Center untuk mempertemukan produsen teknologi tinggi Rusia dengan mitra internasional.

Sepanjang 2026, MEC disebut telah memfasilitasi pelaku usaha Rusia dalam lebih dari 60 agenda internasional di 25 negara.

Bagi Kantara, akses semacam ini membuka kemungkinan baru: teknologi Rusia tidak hanya menjadi produk yang dibeli Indonesia, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pengembangan industri nasional melalui kemitraan.

Di sisi lain, teknologi dan produk Indonesia juga berpeluang mendapatkan akses ke pasar Rusia.

Langkah Kantara tersebut juga berlangsung ketika hubungan ekonomi Indonesia–Rusia terus dikembangkan.

Berdasarkan materi perusahaan, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Rusia pada 2025 mencapai US$1,876 miliar, sementara realisasi investasi tercatat US$262,8 juta. Kunjungan Kantara dinilai menjadi bentuk dukungan sektor swasta terhadap penguatan diplomasi ekonomi dan kemitraan strategis kedua negara.

Dengan demikian, agenda Kantara di Moskow membawa tiga kata kunci: teknologi, perdagangan dan logistik.

Bukan hanya bagaimana Indonesia membeli teknologi dari Rusia, tetapi bagaimana teknologi, investasi dan jaringan logistik tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama bisnis yang memberi nilai tambah bagi kedua negara.