Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Setelah sempat lama meninggalkan aktivitas investasi besar di Indonesia, perusahaan-perusahaan migas kelas dunia yang kerap disebut sebagai Seven Sisters mulai kembali menunjukkan keseriusannya untuk menanamkan modal di Tanah Air.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut pada Jumat (21/8/2026). Ia mengungkapkan, sejumlah perusahaan migas raksasa dunia kini mulai kembali masuk dan menjajaki investasi, khususnya di wilayah offshore Indonesia.
“Alhamdulillah Seven Sisters pada kembali ke Indonesia untuk berinvestasi,” ujar Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Menurut dia, salah satu langkah nyata ditunjukkan TotalEnergies yang akan melakukan pengeboran bersama Petronas dan Pertamina di wilayah Bobara, Papua.
Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Shell, yang menurut Djoko kini tinggal selangkah lagi untuk kembali masuk ke Indonesia. Shell disebut tengah mempersiapkan investasi di sektor offshore, mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan hingga produksi migas.
“Mulai dari Total Indonesie yang akan ngebor bersama Petronas & Pertamina di Bobara Papua, kemarin menyusul Shell yang tinggal selangkah lagi masuk berinvestasi di offshore untuk eksplorasi, pengembangan lapangan dan produksi,” katanya.
Tak berhenti di situ. Pada Jumat (21/8/2026), manajemen Chevron dari Houston dan Singapura juga datang ke SKK Migas.
Djoko menyambut perkembangan tersebut dengan optimisme. Menurutnya, kembalinya perusahaan-perusahaan migas global menjadi sinyal positif bagi masa depan investasi hulu migas nasional.
“Hari ini manajemen Chevron Houston & Singapur datang ke SKK,” ujar Djoko.
Ia bahkan menyelipkan ungkapan optimistis mengenai perkembangan investasi tersebut.
“Paten ini barang hehe, Insya Allah, Aamiin YRA,” katanya.
Masuknya kembali perusahaan-perusahaan migas kelas dunia dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat kegiatan eksplorasi dan meningkatkan produksi migas nasional.
Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi dan mengejar peningkatan produksi migas, kehadiran investor global dengan pengalaman, teknologi dan kemampuan pendanaan yang kuat menjadi salah satu modal penting untuk membuka wilayah-wilayah eksplorasi baru, termasuk kawasan offshore dan wilayah frontier.
Jika tren ini terus berlanjut, kembalinya para pemain migas global bukan sekadar soal investasi baru. Lebih jauh, hal tersebut dapat menjadi pertanda bahwa Indonesia kembali dipandang sebagai salah satu wilayah strategis dalam peta investasi hulu migas dunia.

