NHM Dorong Pertanian Modern, 10 Hektare Sawah di Kao Barat Dibidik Tembus 10 Ton per Hektare

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kao Barat, Halmahera Utara, ruangenergi.com – Ketahanan pangan tak selalu dimulai dari sawah yang luas. Di Kao Barat, Halmahera Utara, langkah menuju pertanian modern justru dimulai dari hamparan 10 hektare lahan padi.

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mendorong transformasi pertanian di wilayah tersebut melalui Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS). Program ini diarahkan untuk membuat aktivitas bertani lebih produktif, efisien, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap tenaga kerja manual.

Dukungan NHM diwujudkan melalui penyerahan Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) Tahap 1 kepada Kelompok Tani Rizki Tani. Penyerahan dilakukan pada Selasa, 4 Agustus 2026, di Desa Soahukum, Kecamatan Kao Barat.

Lahan yang dikembangkan berada dalam satu hamparan yang mencakup wilayah Desa Soahukum dan Desa Makarti. Di atas lahan tersebut, petani akan mengembangkan komoditas padi dengan pendekatan pertanian modern.

Bukan sekadar bantuan sarana produksi, PM-AAS membawa pendekatan yang lebih teknologis. Sistem ini mengandalkan mekanisasi dan teknologi budidaya, antara lain Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan jarak tanam rapat, pengelolaan unsur hara, irigasi, serta pengendalian gulma secara lebih intensif.

Pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab persoalan klasik yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan modal dan tenaga kerja hingga ancaman hama dan penyakit.

Target 10 Ton Gabah per Hektare

Yang menarik, program ini tidak berhenti pada modernisasi cara bertani. PM-AAS menargetkan produktivitas hingga 10 ton gabah padi per hektare.

Untuk mengejar target tersebut, NHM menggandeng Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara dalam pendampingan dan monitoring. Kolaborasi ini ditujukan agar penerapan PM-AAS berjalan sesuai petunjuk teknis.

Kepala Divisi Pengembangan Berkelanjutan NHM Peduli, Irwan Malaka, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya NHM memperkuat ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi pertanian.

“Kami berharap PM-AAS dapat menjadi model pertanian berbasis teknologi yang produktif dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi petani, sekaligus mendukung ketahanan pangan di Halmahera Utara dan Maluku Utara,” kata Irwan.

Bagi petani, dukungan tersebut memberi tambahan semangat untuk mengelola lahan sekaligus meningkatkan produksi.

Ketua Kelompok Tani Rizki Tani, Hadi Sugito, mengapresiasi dukungan NHM. Ia berharap bantuan dan pendampingan tidak berhenti pada tahap awal, tetapi terus berlanjut sehingga kemampuan serta kemandirian kelompok tani semakin kuat.

Dari Sawah Kao Barat untuk Ketahanan Pangan

Program ini pada akhirnya membawa visi yang lebih besar. NHM berharap Kao Barat dapat berkembang menjadi salah satu sentra komoditas padi berkualitas.

Jika target produktivitas tercapai, hamparan 10 hektare tersebut secara matematis berpotensi menghasilkan hingga 100 ton gabah dalam satu kali panen. Namun, capaian aktual tentu akan bergantung pada hasil pelaksanaan budidaya di lapangan.

Bagi Halmahera Utara dan Maluku Utara, upaya ini menjadi bagian dari penguatan kemandirian ekonomi petani sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan daerah.

Di tengah tuntutan agar sektor pertanian semakin produktif, cerita dari Kao Barat menunjukkan satu hal: modernisasi pertanian tidak harus menunggu lahan yang sangat luas. Dengan teknologi, mekanisasi, pendampingan, dan petani yang mau beradaptasi, hamparan 10 hektare pun bisa menjadi titik awal lahirnya sentra pangan baru.