Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-PT Pertamina (Persero) memasang target agresif untuk meningkatkan produksi dan lifting minyak serta gas bumi pada 2027. Strategi tersebut disiapkan di tengah tantangan menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memenuhi kebutuhan BBM dan LPG masyarakat.
Dalam paparan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, 26 Agustus 2026, Pertamina memaparkan kinerja lifting migas domestik hingga Juni 2026 sekaligus rencana jangka panjang perusahaan untuk 2027.
Data Pertamina menunjukkan, lifting minyak domestik hingga Juni 2026 mencapai 369 ribu barel per hari (MBOPD). Angka tersebut setara sekitar 64% dari lifting minyak nasional yang mencapai 574 MBOPD.
Sementara lifting gas domestik tercatat 2.426 juta kaki kubik per hari (MMCFD) atau sekitar 47% dari lifting gas nasional sebesar 5.207 MMCFD. Jika digabungkan dengan kontribusi lapangan internasional, lifting migas Pertamina mencapai 788 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) atau sekitar 53% dari lifting nasional sebesar 1.473 MBOEPD.
Pertamina tidak ingin berhenti pada capaian tersebut. Dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2027, perusahaan menargetkan lifting minyak domestik sebesar 410 MBOPD dan lifting gas domestik 1.964 MMCFD.
Target itu masih akan diperkuat oleh kontribusi lapangan internasional serta aksi korporasi melalui merger dan akuisisi (M&A). Untuk minyak, Pertamina memproyeksikan tambahan 191 MBOPD dari lapangan internasional dan 103 MBOPD dari M&A. Untuk gas, terdapat tambahan 213 MMCFD dari lapangan internasional dan 98 MMCFD dari M&A.
Paparan RJPP 2027 memperlihatkan target produksi minyak mencapai 708 MBOPD, naik dari 595 MBOPD dalam RKAP 2026. Lifting minyak juga diproyeksikan mencapai 703 MBOPD, dibandingkan 595 MBOPD pada RKAP 2026.
Di sisi gas, produksi ditargetkan mencapai 3.139 MMCFD, sementara lifting diproyeksikan 2.274 MMCFD pada 2027. Pertamina menyebut asumsi produksi dalam RJPP 2027 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, terutama ditopang kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik.
Untuk mengejar target tersebut, Pertamina menyiapkan aktivitas pengeboran dan pengembangan lapangan dalam skala besar.
Rencana kerja 2027 mencakup 39 sumur eksplorasi, 930 sumur eksploitasi, 970 kegiatan workover, serta WIWS sebanyak 34.842. Strategi organik akan ditopang pengembangan lapangan dan penambahan sumur eksploitasi di berbagai region, termasuk kegiatan workover dan well service untuk mempertahankan basis produksi.
Sejumlah proyek pengembangan juga telah disiapkan. Untuk 2026, antara lain Rokan Well Development SLO Phase 3, pengembangan lanjutan Lapangan Lima dan OO-OX, OPLL 3B Offshore, Sanga-sanga Phase 3B North, Sisinubi AOI 1-3-5 & SNB East, serta MLN Phase-5.
Sedangkan proyek yang masuk agenda 2027 mencakup eksplorasi Besar-1 East Natuna, pengembangan greenfield Manpatu, Akasia Prima, Padang Pancuran dan Bambu Besar. Pertamina juga menyiapkan proyek brownfield, enhanced oil recovery (EOR), hingga proyek internasional.
EOR hingga CCS/CCUS
Pertamina juga memasukkan teknologi sebagai bagian penting dari strategi peningkatan produksi. Program strategis 2026 mencakup eksplorasi unconventional oil and gas serta discovery, pengembangan greenfield dan asset rejuvenation, EOR, multi-stage fracturing, hingga CCS/CCUS untuk mendukung pengurangan emisi karbon.
Di sisi anorganik, Pertamina menargetkan kontribusi produksi sekitar 130 MBOEPD melalui M&A dan NV.
Di luar urusan produksi, Pertamina juga menghadapi tantangan besar dalam menjalankan penugasan pemerintah untuk menyalurkan BBM dan LPG bersubsidi.
Dalam paparan per 6 Agustus 2026, realisasi subsidi dan dana kompensasi hingga periode Juli 2026 tercatat Rp236,98 triliun. Pada saat yang sama, total piutang subsidi dan dana kompensasi mencapai Rp166,84 triliun.
Rinciannya, saldo piutang subsidi tercatat Rp24,40 triliun, sedangkan piutang dana kompensasi mencapai Rp142,44 triliun. Pertamina menyatakan tetap melakukan pengendalian penyaluran BBM untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Persoalan lain yang mengemuka adalah potensi overkuota sejumlah komoditas bersubsidi hingga akhir tahun. Berdasarkan tren penyaluran 2021–2026 YTD Juli, Pertamina memperkirakan adanya potensi overkuota untuk Solar, Pertalite, dan LPG tabung 3 kilogram.
Subsidi Bisa Menembus Rp132,86 Triliun
Paparan Pertamina juga menunjukkan tantangan fiskal yang tidak kecil. Realisasi subsidi JBT dan LPG tabung 3 kilogram hingga Juli 2026 mencapai Rp76,58 triliun. Untuk periode Agustus–Desember, perusahaan memproyeksikan tambahan Rp56,28 triliun sehingga prognosa subsidi 2026 mencapai Rp132,86 triliun.
Angka tersebut setara sekitar 139,7% dari DIPA 2026 sebesar Rp95,07 triliun.
Sementara itu, dana kompensasi yang terealisasi hingga Juli mencapai Rp160,40 triliun. Pertamina memproyeksikan tambahan Rp145,80 triliun pada Agustus–Desember, sehingga prognosa dana kompensasi 2026 mencapai Rp306,20 triliun.
Paparan ini menggambarkan dua wajah tantangan Pertamina sekaligus: meningkatkan produksi migas dari hulu untuk memperkuat pasokan energi, sembari memastikan penyaluran energi bersubsidi tetap berjalan di hilir.
Dengan target produksi, pengeboran, pengembangan lapangan, EOR, eksplorasi baru, hingga aksi korporasi yang telah disiapkan, Pertamina menjadikan 2027 sebagai salah satu momentum penting untuk mendorong kenaikan produksi dan lifting migas nasional.

