Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Hilirisasi kembali menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk mengubah kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi kekuatan industri bernilai tambah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan, pemerintah tengah mendorong pengembangan ekosistem industri aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Hal itu disampaikan Rosan setelah melakukan pembahasan bersama MIND ID dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) terkait pengembangan ekosistem aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dikutip dari laman instagram pribadi Rosan Roeslani.
Menurut Rosan, pengembangan tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan seluruh rantai produksi, mulai dari bauksit, alumina hingga aluminium.
“Targetnya jelas: memperkuat rantai pasok strategis dan mendorong swasembada aluminium pada 2030,” ujar Rosan.
Mempawah dinilai memiliki posisi penting dalam agenda tersebut. Integrasi industri dari bahan baku hingga produk aluminium diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral, tetapi juga memperkuat fondasi industri nasional.
Dorong Industri Manufaktur
Agenda hilirisasi tidak berhenti pada sektor pertambangan dan pengolahan mineral.
Rosan juga menyebut pemerintah membahas ekspansi produksi bersama PT Gajah Tunggal Tbk, termasuk pengembangan fasilitas ban PCR (Passenger Car Radial).
Pengembangan fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Langkah ini menunjukkan bahwa hilirisasi didorong untuk membentuk ekosistem industri yang saling terhubung. Bahan baku dari dalam negeri diharapkan dapat diolah menjadi produk antara maupun produk manufaktur dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Dari Sumber Daya Menjadi Kekuatan Industri
Rosan menegaskan, esensi hilirisasi bukan sekadar mengolah sumber daya alam di dalam negeri. Lebih jauh, hilirisasi harus mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, kemandirian industri, dan daya saing nasional.
“Dari sumber daya menjadi industri. Dari industri menjadi nilai tambah,” tegasnya.
Dengan pengembangan ekosistem aluminium dari bauksit hingga produk manufaktur, pemerintah ingin memastikan Indonesia tidak terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah.
Target swasembada aluminium pada 2030 pun menjadi bagian dari agenda yang lebih besar: membangun industri nasional yang semakin mandiri, memperkuat rantai pasok strategis, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam persaingan industri global.


