Indragiri Hulu, Riau, ruangenergi.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pasir Sialang Jaya, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, memicu kewaspadaan tinggi. Api yang awalnya berjarak sekitar 250 meter dari fasilitas produksi Pertamina EP Lirik mulai merambat mendekati area operasi Sumur ML-12.
Merespons situasi tersebut, Pertamina EP (PEP) Lirik bergerak cepat dengan mengerahkan tim Fire Brigade untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas ke fasilitas operasi.
Penanganan dilakukan sejak Selasa (8/9) sekitar pukul 15.00 WIB hingga malam hari.
Field Manager Pertamina EP Lirik, Luqman Arif, mengatakan perusahaan langsung melakukan pengecekan dan koordinasi setelah menerima laporan mengenai karhutla di sekitar wilayah operasi.
“Dari hasil pengecekan, titik kebakaran berada sekitar 250 meter dari fasilitas produksi Sumur ML-12. Kami langsung menyiagakan tim Fire Brigade untuk mengantisipasi agar api tidak mendekati dan berdampak terhadap area operasi.”
Menurut Luqman, kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri karena titik awal kebakaran sulit dijangkau menggunakan Fuso Fire Truck milik Lirik Field.
PEP Lirik kemudian memperkuat penanganan dengan berkoordinasi bersama Kapolsek setempat serta meminta dukungan instansi di sekitar lokasi. PT Tunggal, yang berada di sekitar area kebakaran, turut membantu dengan mengerahkan Cold Diesel Fire untuk menjangkau titik awal api.
Situasi semakin membutuhkan respons cepat ketika api mulai menjalar ke arah Sumur ML-12. Fire Brigade PEP Lirik langsung diarahkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman.
“Saat api mulai menjalar mendekati lokasi Sumur ML-12 sekitar pukul 15.00 WIB, Fire Brigade langsung kami arahkan untuk melakukan pemadaman. Penanganan dilakukan bersama pihak terkait hingga malam hari dan kondisi api berhasil dikendalikan,” kata Luqman.
Namun, keberhasilan memadamkan api tidak serta-merta membuat tim meninggalkan lokasi.
PEP Lirik tetap menyiagakan personel untuk melakukan pendinginan dan patroli di sekitar area kebakaran. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bara api tidak kembali menyala dan memunculkan titik kebakaran baru.
“Tim tetap kami siagakan untuk melakukan pendinginan dan patroli. Ini penting untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dan menjadi titik api baru, khususnya karena lokasinya berada dekat dengan area operasi,” ujarnya.
Penanganan karhutla di Lirik menjadi bagian dari pemantauan yang dilakukan di seluruh wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1.
Dalam Laporan Harian Status Karhutla Zona 1 per 9 September 2026, sejumlah wilayah operasi tercatat dalam kondisi relatif aman. North Sumatra Offshore (NSO), Rantau, Pangkalan Susu, dan Jambi Merang berstatus aman dan penanganannya dinyatakan selesai.
Sementara Lirik berada dalam status siaga setelah kebakaran lahan yang mendekati Sumur ML-12 berhasil dipadamkan dan dinyatakan terkendali.
Status siaga juga diterapkan di Jambi Field, dengan fokus pemantauan terhadap hotspot dan firespot di wilayah operasi.
Bagi PEP Lirik, ancaman karhutla tidak hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga keselamatan masyarakat dan keandalan fasilitas produksi. Karena itu, setiap indikasi kebakaran di sekitar wilayah operasi harus direspons sedini mungkin.
Luqman menegaskan perusahaan terus memperkuat pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mencegah karhutla berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
“Kami terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Prinsipnya, setiap potensi karhutla yang berada di sekitar wilayah operasi harus segera ditangani untuk mencegah api meluas dan memastikan keselamatan masyarakat, lingkungan, maupun fasilitas operasi,” tegasnya.
Selain respons pemadaman, kegiatan patroli, pendinginan, monitoring hotspot dan firespot terus dilakukan sesuai kondisi masing-masing wilayah operasi.
Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan Pertamina menghadapi musim rawan karhutla, sekaligus memastikan kegiatan operasi migas di wilayah Zona 1 tetap berlangsung dengan mengutamakan keselamatan manusia, lingkungan, dan fasilitas produksi.


