Luar Biasa! Kondensat WK B Kembali Bergerak, 86 Ribu Barel PGE Diangkut Aman

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Lhokseumawe, Aceh, ruangenergi.com— Rantai produksi hingga penyaluran kondensat dari Wilayah Kerja (WK) B kembali bergerak. PT Pema Global Energi (PGE) berhasil merealisasikan lifting kedua sepanjang 2026 dengan menyalurkan 86.000 barel kondensat untuk kebutuhan domestik.

Kegiatan lifting berlangsung pada 20–21 September 2026 menggunakan kapal MT Union Trust. Pengapalan ini menjadi kelanjutan dari lifting perdana WK B yang sebelumnya telah terlaksana pada Juli 2026.

Dalam pengapalan tersebut, total kargo yang dimuat mencapai 102.537,63 barel. Dari jumlah itu, 86.000 barel merupakan kondensat WK B/PGE, sementara 16.537,63 barel berasal dari PHE North Sumatra Offshore (PHE NSO).

Namun, sebelum kapal melakukan pemuatan, sejumlah aspek teknis harus dipastikan terlebih dahulu. Salah satunya menyangkut keberterimaan kapal tipe MR terhadap kondisi operasional Terminal Blang Lancang.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam persiapan lifting. PGE bersama PT Perta Arun Gas (PAG) kemudian melakukan risk assessment dan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi agar kegiatan dapat berlangsung dengan aman.

Pengawas Lifting BPMA, Muhammad Akmal, mengatakan hasil kajian risiko menjadi salah satu dasar dalam mengendalikan aspek operasional selama proses pemuatan.

“Dengan adanya hasil risk assessment dan mitigasi yang telah disiapkan oleh PGE dan PAG, aspek-aspek operasional yang berkaitan dengan keberterimaan kapal dapat dikendalikan selama pelaksanaan lifting,” jelas Akmal.

Menurut dia, koordinasi antara pihak terminal, kapal, dan para pemangku kepentingan dilakukan secara intensif. Dengan demikian, proses pemuatan dapat berjalan sesuai dengan prosedur keselamatan.

Hasilnya, seluruh rangkaian loading berhasil diselesaikan dengan aman dan selamat. Setelah pemuatan rampung, MT Union Trust melakukan unmooring dan melanjutkan pelayaran.

Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, mengatakan realisasi lifting kedua WK B menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi sekaligus memastikan hasil produksi dapat segera disalurkan.

Menurutnya, setelah lifting perdana pada Juli 2026, keberhasilan lifting kedua menunjukkan kesinambungan penyaluran kondensat WK B terus dijaga.

“Lifting kedua ini menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan penyaluran kondensat WK B. Dengan produksi yang telah kembali berjalan, tentunya kita perlu memastikan hasil produksi tersebut dapat disalurkan secara optimal melalui kegiatan lifting yang terencana dan aman,” ujar Ibnu.

BPMA, lanjutnya, akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) serta para pihak terkait, mulai dari sisi produksi, penyimpanan, terminal hingga pengangkutan kondensat.

Langkah tersebut penting untuk memastikan setiap kegiatan lifting berjalan sesuai rencana sekaligus tetap mengedepankan keselamatan operasi.

Sementara itu, Deputi Operasi BPMA Muhammad Mulyawan menyampaikan apresiasi kepada PGE, PAG, PHE NSO, SKK Migas, serta seluruh pihak yang terlibat.

Menurut Mulyawan, keberhasilan lifting tidak hanya ditentukan saat kapal melakukan pemuatan. Persiapan teknis, pembahasan operasional, risk assessment, hingga mitigasi menjadi rangkaian penting sebelum kegiatan dilaksanakan.

“BPMA mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja sama sehingga lifting kedua WK B tahun ini dapat terlaksana dengan aman dan selamat. Pembahasan teknis, risk assessment, serta mitigasi yang dilakukan sebelum kegiatan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh aspek operasi dapat dikendalikan,” ujar Mulyawan.

Dengan terealisasinya lifting kedua tersebut, 86.000 barel kondensat WK B/PGE telah disalurkan pada 2026 melalui kegiatan pengapalan September.

Bagi BPMA, kesinambungan lifting menjadi mata rantai penting dalam mengoptimalkan produksi migas Aceh. Produksi yang berhasil diperoleh harus diikuti kemampuan penyimpanan, kesiapan terminal, ketersediaan kapal, serta koordinasi antarpihak agar hasil produksi benar-benar dapat tersalurkan.

Lifting WK B kali ini pun memperlihatkan satu hal penting: produksi dan lifting bukan dua pekerjaan yang berdiri sendiri. Keduanya membutuhkan orkestrasi yang rapi dari hulu hingga terminal agar setiap barel kondensat dapat bergerak dengan aman menuju pasar domestik.