Selamat Tinggal Cara Kuno! Era Digitalisasi dan Kendaraan Listrik Siap Ubah Wajah Pertambangan Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- industri pertambangan global dan nasional kini tengah mengalami pergeseran radikal. Orientasi perusahaan tambang tidak lagi melulu soal seberapa banyak sumber daya alam yang bisa dikeruk dari perut bumi, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah melalui operasional yang aman, berkelanjutan, dan rendah emisi.

Mining Team Lead Lubrizol Southeast Asia (Pte) Ltd., Serena Yei, mengungkapkan bahwa tren pertambangan masa depan akan sangat digerakkan oleh digitalisasi dan teknologi otonom. Di negara maju seperti Australia, penggunaan truk tambang raksasa tanpa awak (otonom) sudah menjadi standar. Indonesia pun dinilai akan segera bergerak ke arah pemanfaatan teknologi serupa, beriringan dengan masifnya tren elektrifikasi dan transisi energi.

“Dahulu, fokus kita hanya memastikan mesin beroperasi 24 jam sehari demi menjaga tingkat ketersediaan (uptime). Namun kini, perhatian bergeser pada seberapa lama aset tersebut bisa terus memberikan manfaat. Pendekatan pemeliharaan yang dulunya reaktif kini harus menjadi proaktif melalui digitalisasi dan pemasangan sensor,” ujar Serena.

Melalui aplikasi pemantauan terintegrasi, perusahaan tidak perlu lagi mengganti pelumas hanya berdasarkan patokan jam operasional baku. Sensor akan mendeteksi secara real-time kondisi dan tingkat kontaminasi pelumas, sehingga usia pakai kendaraan berat dapat diperpanjang secara signifikan.

Tantangan Implementasi B50 dan Elektrifikasi Tambang

Di tengah dorongan keberlanjutan, transisi energi memunculkan tantangan tersendiri bagi operasional alat berat. Serena menyoroti kebijakan pemerintah Indonesia yang tengah bersiap beralih dari biodiesel B40 menuju B50, bahkan dengan wacana jangka panjang menuju B100.

“Ketika kandungan bahan nabati semakin tinggi, produsen peralatan asli (OEM) harus mengkaji ulang apakah diperlukan modifikasi pada perangkat keras atau komponen mesin. Selain itu, ada kekhawatiran terkait persaingan pasokan minyak sawit antara kebutuhan energi dan pangan masyarakat,” jelasnya.

Sebagai alternatif dekarbonisasi, adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di area tambang diyakini menjadi keniscayaan. Meski demikian, tantangan infrastruktur masih membayangi, terutama terkait pasokan listrik di area tambang terpencil (remote area). Ironisnya, proses pembangkitan listrik di area tersebut kerap kali masih bergantung pada energi fosil seperti batu bara, yang menuntut industri untuk terus menyeimbangkan ekosistem energinya.

Menyongsong proyeksi pertambangan 2027–2036, Serena memprediksi komoditas mineral kritis seperti litium dan nikel akan terus merajai tren pasar seiring lonjakan produksi baterai EV dan semikonduktor. Namun, ia menegaskan bahwa batu bara akan tetap mempertahankan pangsa pasarnya. Permintaan dari sektor pembangkit listrik maupun proses hilirisasi industri pendukung otomotif di Tiongkok dan Korea masih sangat kuat.

Perkuat Kolaborasi dengan Pertamina dan United Tractors

Menyadari kompleksitas transisi ini, Lubrizol—yang telah beroperasi lebih dari satu abad secara global dan 40 tahun di Asia Tenggara—memposisikan diri sebagai penyedia teknologi aditif pelumas strategis.

Melihat Indonesia sebagai raksasa pertambangan terbesar di Asia Tenggara dan kunci utama di Asia Pasifik, Lubrizol terus berekspansi. Tahun lalu, seiring dengan pembukaan kantor baru di Indonesia, Lubrizol telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Pertamina.

“Tidak ada satu pihak pun yang bisa mewujudkan tambang berkelanjutan sendirian. Pemasok pelumas, OEM, penyedia teknologi, dan pemerintah harus terintegrasi. Kami melihat banyak potensi kerja sama lebih lanjut, termasuk peluang kolaborasi penyediaan solusi teknologi dengan United Tractors maupun distributor alat berat lainnya seperti Caterpillar dan Komatsu,” tegas Serena.

Melalui pendekatan teknologi perlindungan mesin mutakhir, Lubrizol menargetkan penurunan downtime secara drastis bagi para pelaku tambang di Indonesia. Pada akhirnya, inovasi pelumas bukan sekadar meningkatkan penjualan, tetapi menjadi kunci agar rantai pasok energi dan mineral Indonesia tetap tangguh menghadapi transisi teknologi dekade mendatang.