US$22 Miliar Dipertaruhkan! SKK Migas Kawal Masela Menuju Keputusan Investasi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Proyek LNG Abadi Masela memasuki babak penting. Penyelesaian Front End Engineering Design (FEED) pada Oktober 2026 menjadi pijakan baru bagi proyek gas raksasa di Laut Arafura, Maluku, untuk melangkah menuju keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan kabar tersebut dalam acara perayaan penyelesaian FEED Proyek LNG Abadi Masela, Selasa (27/10/2026).

Dalam laporannya, Djoko mengungkapkan bahwa penyelesaian FEED berhasil dipercepat sekitar tiga bulan dari jadwal awal yang direncanakan selesai pada akhir 2026.

“Alhamdulillah, pekerjaan ini akhirnya dapat diselesaikan lebih cepat sekitar tiga bulan, yakni pada Oktober 2026,” ujar Djoko.

Bagi proyek dengan nilai investasi sekitar US$22 miliar tersebut, penyelesaian FEED bukan sekadar pencapaian teknis. Tahap ini menjadi salah satu fondasi penting untuk mematangkan desain, menyiapkan pengadaan, dan mempercepat langkah menuju keputusan investasi.

Djoko menjelaskan, penyelesaian FEED Proyek Abadi Masela melibatkan pekerjaan dengan tingkat kompleksitas tinggi. Pekerjaan tersebut mencakup sistem bawah laut, jaringan pipa ekspor gas, fasilitas penyimpanan dan pengapalan LNG, serta fasilitas LNG lepas pantai.

Prosesnya membutuhkan koordinasi lintas kontraktor, konsorsium, tenaga ahli, dan berbagai pemangku kepentingan. Untuk menjaga kualitas desain, proyek ini juga menjalani independent design review yang melibatkan lebih dari 200 tenaga profesional dan ahli.

Sejumlah perguruan tinggi turut berkontribusi dalam proses penelaahan desain, yakni Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung.

Menurut Djoko, kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam penyelesaian pekerjaan lebih cepat dari jadwal.

Ia mengapresiasi kontribusi INPEX Masela, jajaran SKK Migas, mitra proyek, perguruan tinggi, serta para vendor yang terlibat dalam tahapan tersebut.

Proyek LNG Abadi Masela dirancang menjadi salah satu penopang penting pasokan gas Indonesia. Dengan nilai investasi sekitar US$22 miliar, proyek ini ditargetkan menghasilkan gas sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

Dari produksi tersebut, proyek direncanakan menghasilkan LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA), memasok 100 MMSCFD gas untuk kebutuhan domestik, serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari.

Menurut Djoko, pengembangan Masela tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi gas, tetapi juga pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Gas juga diharapkan menjadi bagian dari transisi menuju energi yang lebih rendah emisi. Dalam laporannya, Djoko menyebut emisi gas sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan batu bara. Besaran tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan jenis emisi dan metode perbandingan yang digunakan.

Meski FEED telah rampung, pekerjaan belum selesai. Tahap berikutnya menuntut kesiapan berbagai aspek, mulai dari keputusan investasi, pengadaan barang dan jasa, hingga persiapan kegiatan fisik di lapangan.

Djoko mengungkapkan bahwa tim proyek telah menyiapkan berbagai kebutuhan pengadaan barang dan jasa. Sejumlah dokumen pengadaan juga telah ditandatangani untuk mendukung kelanjutan proyek.

Ia mengingatkan agar proses pengadaan berjalan sesuai ketentuan sehingga tidak menghambat jadwal pelaksanaan.

Selain aspek teknis dan komersial, perhatian juga diarahkan pada masyarakat yang terdampak langsung oleh proyek. Pembangunan pagar perimeter dan jalan telah memasuki tahap pengerjaan, sementara persiapan kompensasi bagi masyarakat terdampak terus dikawal.

Menurut Djoko, penyelesaian kompensasi sosial menjadi salah satu tahapan penting yang harus dituntaskan agar pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan baik.

Proyek Abadi Masela sebelumnya telah menjalani groundbreaking yang dihadiri Presiden Republik Indonesia pada Juli 2026. Sejak itu, aktivitas fisik di lapangan terus didorong untuk bergerak maju.

Djoko menegaskan, percepatan proyek harus tetap disertai kualitas pekerjaan, tata kelola yang baik, dan penerapan keselamatan.

Ia meminta seluruh pihak menjaga momentum positif yang telah terbentuk agar setiap tahapan berjalan sesuai target.

“On target, on budget, on schedule,” demikian prinsip yang ditekankan Djoko dalam laporannya.

Menurut dia, proyek hulu migas tidak cukup hanya selesai sesuai jadwal. Pelaksanaannya juga harus sesuai anggaran, lingkup pekerjaan, standar keselamatan, serta prinsip good corporate governance.

Jika seluruh tahapan dapat dilaksanakan dengan baik, pengembangan Masela diharapkan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional, pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan industri dalam negeri.

Bagi SKK Migas, rampungnya FEED menjadi momentum untuk menjaga kesinambungan pekerjaan menuju FID dan tahapan pengembangan berikutnya.

Djoko pun menutup laporannya dengan pantun yang menggambarkan harapan terhadap masa depan proyek tersebut:

Gas melimpah dari Gunung Buku,
Menjadi harapan bagi negeri.
SKK Migas dan INPEX bersatu padu,
Masela dikembangkan demi kemandirian energi.

Penyelesaian FEED telah menjadi satu tonggak penting. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh persyaratan investasi, pengadaan, dan kesiapan lapangan dapat dituntaskan sehingga potensi gas Abadi Masela benar-benar dapat diwujudkan menjadi pasokan energi bagi Indonesia.