Djoko Siswanto Ungkap Kabar Besar: 37 Juta Barel Minyak dari UEA Tanpa Biaya Kapal!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang bagi Indonesia di tengah upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) akan segera mengirimkan minyak ke Indonesia hingga 37 juta barel tanpa biaya, termasuk biaya pengangkutan kapal.

Informasi tersebut disampaikan Djoko saat menjelaskan alasan keterlambatannya menghadiri Acara Ceremony Selesainya Keseluruhan Kegiatan FEED Proyek LNG Abadi  pada Selasa (27/10/2026), di Jakarta.

Sebelumnya, ia mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerima Duta Besar Uni Emirat Arab bersama Presiden Direktur Mubadala.

“Saya mohon maaf karena sedikit terlambat. Tadi saya mendampingi Bapak Menteri menerima Duta Besar Uni Emirat Arab bersama Presiden Direktur Mubadala,” ujar Djoko.

Menurut Djoko, pertemuan tersebut juga membahas perkembangan investasi sektor energi, khususnya proyek gas di Andaman, Aceh, yang tengah bergerak menuju tahap Final Investment Decision (FID) atau keputusan investasi final.

Proyek gas Andaman menjadi salah satu agenda penting dalam pengembangan potensi migas Indonesia. Pencapaian FID akan menjadi tahapan krusial sebelum proyek memasuki fase pengembangan berikutnya.

Di luar perkembangan proyek gas Andaman, Djoko mengungkapkan informasi mengenai rencana pengiriman minyak ke Indonesia hingga 37 juta barel tanpa biaya, termasuk biaya kapal.

“Selain itu, Duta Besar Uni Emirat Arab menyampaikan bahwa pemerintah Uni Emirat Arab akan segera mengirimkan minyak ke Indonesia hingga 37 juta barel tanpa biaya, termasuk tanpa biaya kapal. Ini merupakan kabar yang sangat baik bagi kita,” kata Djoko.

Jika terealisasi sesuai dengan informasi tersebut, pengiriman minyak ini berpotensi menjadi dukungan bagi upaya Indonesia menjaga ketersediaan pasokan energi nasional.

Meski demikian, sejumlah detail masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut, antara lain jadwal pengiriman, jenis minyak, mekanisme penyaluran, serta skema kerja sama yang mendasari rencana tersebut.

Keterangan mengenai pengiriman tanpa biaya juga perlu diperjelas melalui penjelasan resmi pemerintah mengenai bentuk dukungan dan ketentuan yang menyertainya.

Pernyataan Djoko menyoroti dua agenda penting, yakni perkembangan investasi gas di Andaman, Aceh, serta rencana pengiriman minyak dari Uni Emirat Arab.

Di satu sisi, percepatan proyek gas Andaman diharapkan memperkuat pengembangan sumber daya gas bumi domestik. Di sisi lain, rencana tambahan pasokan minyak menjadi perhatian karena berkaitan dengan upaya menjaga ketahanan energi Indonesia.

Kedua agenda tersebut memiliki konteks berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan kepentingan strategis sektor energi nasional.

Kepastian mengenai realisasi pengiriman minyak hingga 37 juta barel masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah terkait. Konfirmasi mengenai jadwal, mekanisme, dan ketentuan pengiriman akan menjadi penting untuk mengetahui dampaknya terhadap pasokan energi Indonesia.