Jakarta, ruangenergi.com – PT TIMAH (Persero) Tbk (“Perseroan”; IDX: TINS) hari ini mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, yang mencerminkan penguatan kinerja keuangan dan operasional Perseroan.
Kondisi Pasar Timah Global
Harga timah global sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M 2026) bertahan pada level tinggi dengan volatilitas yang cukup besar, didukung keterbatasan pasokan dan prospek permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, serta infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Pada periode tersebut, harga rata-rata Cash Settlement Price (CSP) timah di London Metal Exchange (LME) tercatat sebesar USD51.636,61 per metrik ton, meningkat 57,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD32.775,58 per metrik ton.
Dari sisi pasokan, ketersediaan bahan baku timah global masih menghadapi ketidakpastian. Pengiriman bijih dan konsentrat timah dari Myanmar ke China mulai pulih pada semester pertama 2026, meskipun kontribusi pasokan dari Myanmar belum sepenuhnya kembali ke tingkat historis. Selain itu, aktivitas pertambangan anak usaha Malaysia Smelting Corporation dihentikan sementara pada 12 Agustus hingga 11 September 2026 akibat kerusakan sistem drainase dan kolam penampungan setelah hujan ekstrem. Penghentian tersebut terjadi pada kegiatan pertambangan, bukan secara spesifik pada aktivitas peleburan.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada 9M 2026 tercatat sebesar 264.064 ton, sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan mencapai 275.047 ton. Sementara itu, persediaan timah di gudang LME pada akhir September 2026 tercatat sebesar 4.480 ton, turun 17,3% dibandingkan posisi awal tahun sebesar 5.415 ton.
Dalam jangka panjang, International Tin Association (ITA) memproyeksikan permintaan timah global meningkat 22% selama periode 2026-2035, sementara pasokan logam timah global diperkirakan hanya meningkat 16%. Kesenjangan proyeksi tersebut menegaskan perlunya pengembangan kapasitas pertambangan baru untuk memenuhi peningkatan kebutuhan timah global di masa mendatang.
Kinerja Keuangan
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp16,15 triliun pada 9M 2026, meningkat 144% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp6,61 triliun. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan volume penjualan serta harga jual rata-rata logam timah. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, Perseroan mencatatkan laba usaha sebesar Rp5,60 triliun, meningkat 594% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp807,25 miliar. EBITDA mencapai sebesar Rp6,18 triliun, meningkat 323% dibandingkan EBITDA 9M 2025 sebesar Rp1,46 triliun. Sementara itu, laba bersih Perseroan tercatat sebesar Rp4,12 triliun, meningkat 584% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp602,42 miliar.
Profitabilitas Perseroan juga menunjukkan penguatan. Operating Margin tercatat sebesar 34,67%, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 12,22%. EBITDA Margin mencapai 38,26%, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 22,08%. Sementara itu, Net Profit Margin meningkat menjadi 25,52%, dari 9,12% pada 9M 2025.
Dari sisi posisi keuangan, total aset Perseroan per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp17,26 triliun, meningkat 26% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp13,64 triliun. Total liabilitas tercatat sebesar Rp5,29 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp5,23 triliun. Sementara itu, ekuitas meningkat 42% menjadi Rp11,97 triliun dari Rp8,41 triliun pada akhir tahun 2025, sejalan dengan perolehan laba Perseroan selama 9M 2026.
Dari sisi pengembalian atas modal yang digunakan, Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 23,88% pada 9M 2026, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 4,40%. Return on Equity (ROE) juga meningkat menjadi 34,42% dari 8,00% pada 9M 2025. Peningkatan ini mencerminkan penguatan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba relatif terhadap aset dan ekuitas yang dimiliki.
Dari sisi arus kas, Perseroan membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi pada 9M 2026 tercatat positif sebesar Rp4,09 triliun, berbalik dari arus kas keluar bersih sebesar Rp388,64 miliar pada 9M 2025. Saldo kas akhir periode mencapai Rp4,25 triliun, meningkat dibandingkan Rp1,34 triliun pada 9M 2025.
Kinerja Operasi dan Produksi
Pada 9M 2026, Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 18.883 ton Sn, meningkat 55% dibandingkan 9M 2025 sebesar 12.190 ton Sn. Sejalan dengan peningkatan tersebut, produksi logam timah mencapai 16.190 metrik ton Sn, meningkat 49% dibandingkan 9M 2025 sebesar 10.855 metrik ton Sn.
Peningkatan produksi bijih timah didukung oleh optimalisasi penambangan darat dan laut. Pada penambangan darat, Perseroan meningkatkan produktivitas melalui penambahan unit operasi tambang, pembukaan blok rencana kerja di sejumlah lokasi, serta optimalisasi kegiatan pemboran pandu untuk mendukung efektivitas penggalian. Sementara itu, pada penambangan laut Perseroan mengoptimalkan kinerja Kapal Keruk (KK) dan Kapal Isap Produksi (KIP), serta meningkatkan pengawasan dan produktivitas Ponton Isap Produksi (PIP).
Perseroan turut memperkuat kegiatan eksplorasi melalui pengoperasian kapal bor yang tersebar di area produksi utama. Kegiatan pemboran ini bertujuan meningkatkan tingkat keyakinan atas sumber daya dan cadangan timah, serta menyediakan informasi yang lebih memadai untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan operasional berbasis data.
Selain itu, Perseroan meningkatkan pengawasan dan pengamanan wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) serta area produksi dengan dukungan satuan tugas pemerintah. Perseroan juga mengoptimalkan pencapaian produksi melalui program blok sistem sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pertambangan dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan rencana kerja penambangan.
Dari sisi penjualan, volume penjualan logam timah Perseroan pada 9M 2026 mencapai 16.304 metrik ton, meningkat 72% dibandingkan 9M 2025 sebesar 9.469 metrik ton. Peningkatan volume penjualan ini didukung oleh optimalisasi pengelolaan persediaan logam timah untuk memenuhi permintaan pasar.
Sejalan dengan perkembangan harga timah di pasar global, harga jual rata-rata logam timah Perseroan pada 9M 2026 mencapai USD51.011 per metrik ton, meningkat 52% dibandingkan 9M 2025 sebesar USD33.596 per metrik ton.
Berdasarkan wilayah pemasaran, penjualan logam timah Perseroan pada 9M 2026 didominasi oleh pasar ekspor yang berkontribusi sebesar 96% dari total penjualan, sedangkan pasar domestik berkontribusi sebesar 4%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi China sebesar 30%, Korea Selatan sebesar 12%, India sebesar 11%, Jepang sebesar 9%, Belanda sebesar 8%, dan Singapura sebesar 7%. Komposisi penjualan ini mencerminkan jangkauan pemasaran Perseroan di pasar global serta peran strategis pasar ekspor dalam mendukung penjualan logam timah Perseroan.
Prospek Usaha dan Strategi Perseroan
Memasuki kuartal terakhir 2026, Perseroan melihat peluang untuk melanjutkan momentum peningkatan kinerja, dengan tetap mencermati dinamika harga timah global dan ketidakpastian pasokan. Perseroan akan terus mendorong produktivitas operasional dan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan mempertimbangkan perkembangan pasar serta kondisi pasokan timah.
Dalam mendukung keberlanjutan usaha, Perseroan terus memperkuat pengelolaan sumber daya dan cadangan timah melalui kegiatan eksplorasi di darat maupun di laut. Berdasarkan neraca per September 2026, Perseroan mencatat sumber daya timah sebesar 797 ribu ton Sn dan cadangan timah sebesar 311 ribu ton Sn. Data sumber daya dan cadangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi Perseroan dalam menyusun rencana penambangan dan menentukan prioritas eksplorasi guna mendukung kesinambungan produksi serta pengembangan usaha ke depan.
Perseroan juga mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat tata kelola pertimahan nasional, termasuk melalui pelaksanaan kebijakan percepatan perbaikan tata kelola pertambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sejalan dengan hal tersebut, Perseroan berkomitmen menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menerapkan praktik pertambangan yang baik (Good Mining Practices), serta memperkuat tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
“Pencapaian laba bersih sebesar Rp4,12 triliun pada 9M 2026 merupakan rekor tertinggi Perseroan untuk periode sembilan bulan. Capaian ini mencerminkan penguatan kinerja operasional dan keuangan melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi kegiatan usaha, pengelolaan penjualan yang efektif, serta disiplin dalam pengelolaan keuangan. Ke depan, kami akan terus memperkuat kinerja dan menjaga kesinambungan usaha guna menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,“ ujar Restu Widiyantoro, Direktur Utama PT TIMAH (Persero) Tbk.


