Djoko Siswanto: 65 Cekungan Migas Indonesia Belum Dieksplorasi!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menemukan cadangan minyak dan gas bumi baru. Dari total 128 cekungan sedimen yang dimiliki Indonesia, sebanyak 65 cekungan di antaranya belum dieksplorasi.

Hal tersebut disampaikan Djoko Siswanto kepada RuangEnergi.com, Jumat (30/10/2026), merujuk paparan SKK Migas mengenai strategi memperkuat ketahanan energi Indonesia dan kerja sama ASEAN.

Dalam paparan tersebut dijelaskan, dari 128 cekungan sedimen Indonesia, sebanyak 20 cekungan telah berproduksi, 65 cekungan belum dieksplorasi, 27 cekungan telah ditemukan indikasi hidrokarbon, lima cekungan merupakan cekungan prospektif dengan sistem petroleum yang telah terbukti, tiga cekungan merupakan cekungan dengan indikasi hidrokarbon, dan delapan cekungan masih berada pada tahap kajian geologi serta geofisika.

SKK Migas mencatat, Indonesia memiliki potensi cadangan minyak sebesar 2,10 miliar barel dan gas bumi 21,07 triliun kaki kubik (TCF). Sementara cadangan terbukti minyak mencapai 2,33 miliar barel dan gas bumi 34,78 TCF.

Dari sisi kegiatan eksplorasi, Indonesia mencatatkan 122 penemuan migas sepanjang periode 2020–2026 dengan tingkat keberhasilan atau success ratio lebih dari 50 persen, termasuk kegiatan appraisal.

Sejumlah penemuan tersebut antara lain Geng North, Geliga, Layaran, Tangkulo, Timpan, Anambas, Hidayah, dan sejumlah temuan lainnya.

Untuk mendorong peningkatan investasi, SKK Migas mencatat realisasi investasi hulu migas sepanjang 2025 mencapai US$14,9 miliar atau sekitar Rp245,5 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan 2024.

Sementara itu, realisasi investasi hingga September 2026 mencapai US$11,7 miliar atau sekitar Rp203,8 triliun.

SKK Migas juga mendorong peningkatan investasi eksplorasi. Pada 2025, investasi eksplorasi tercatat sebesar US$900 juta, lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai US$1,3 miliar.

Untuk meningkatkan produksi migas nasional, SKK Migas menjalankan program Triple 100 yang mencakup 100 sumur eksplorasi, 100 kegiatan multistage fracturing, dan 100 sumur pengembangan.

Berdasarkan monitoring Oktober 2026, realisasi pengeboran sumur eksplorasi mencapai 20 sumur atau 20 persen, kegiatan multistage fracturing sebanyak 26 sumur atau 26 persen, serta sumur pengembangan sebanyak 18 sumur atau 18 persen. Secara keseluruhan, realisasi program mencapai 64 dari 300 target kegiatan atau 21,3 persen.

Selain pengeboran sumur baru, SKK Migas mengidentifikasi 16.990 sumur tidak aktif (idle well). Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.495 sumur dinilai berpotensi untuk diaktifkan kembali guna mendukung peningkatan produksi minyak nasional.

Optimalisasi produksi juga dilakukan melalui penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), termasuk injeksi kimia dan CO2, serta pengeboran horizontal.

Sejumlah proyek EOR yang telah berjalan antara lain di Minas, Walio, Meruap, dan Rama.

SKK Migas juga membuka peluang kerja sama strategis untuk mengembangkan 22 undeveloped discoveries, sembilan stranded Plan of Development (POD), serta 23 idle fields.

Dalam upaya meningkatkan daya tarik investasi, SKK Migas mengusulkan sejumlah langkah, antara lain perluasan wilayah kerja migas, penerapan skema fiskal yang lebih kompetitif, pemberian insentif untuk memperbaiki keekonomian lapangan, serta percepatan eksplorasi migas nonkonvensional.

Di sisi lain, penguatan ketahanan energi nasional juga menjadi bagian dari strategi kerja sama ASEAN. Indeks Ketahanan Energi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 7,13 atau meningkat 0,39 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

SKK Migas menilai percepatan eksplorasi, peningkatan investasi, optimalisasi lapangan eksisting, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, investor, dan penyedia teknologi menjadi faktor penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.