Indonesia Buka Pintu Investasi Global, 4 Kerja Sama Strategis Ditandatangani di ADIPEC

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

lol Abu Dhabi, UAE, ruangenergi.com-Indonesia menuntaskan partisipasinya dalam Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 dengan membawa semangat percepatan pengembangan hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional.

Tak sekadar mempromosikan potensi migas, kehadiran Indonesia di ajang energi internasional ini juga menjadi langkah strategis untuk menarik investasi, memperluas kemitraan global, dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan, Indonesia memiliki potensi minyak dan gas bumi yang besar dan masih menunggu untuk ditemukan serta dikembangkan. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik, potensi tersebut menjadi peluang investasi jangka panjang yang menarik bagi pelaku industri migas dunia.

“Untuk dapat memanfaatkan potensi ini, sumber daya alam saja tidaklah cukup. Diperlukan investasi, teknologi canggih, keahlian teknis, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional,” ujar Djoko dalam keterangan resminya, Kamis (5/11).

Menurutnya, kehadiran Indonesia melalui Indonesia Pavilion di ADIPEC 2026 menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi migas sekaligus menunjukkan kesiapan pemerintah dan industri nasional dalam membangun kerja sama dengan mitra global.

Bidik peluang investasi dari raksasa migas dunia

Selama tiga hari penyelenggaraan ADIPEC 2026, Indonesia aktif menjalin komunikasi dengan investor dan perusahaan energi internasional.

Pada hari ketiga, Rabu (4/11), SKK Migas memaparkan peluang investasi dan eksplorasi migas Indonesia melalui Divisi Prospektivitas dan Divisi Eksplorasi.

PT Medco E&P Indonesia juga berbagi pengalaman mengenai perjalanan MedcoEnergi mengembangkan berbagai wilayah kerja migas di Indonesia hingga memperluas bisnis ke Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Di kawasan Timur Tengah, MedcoEnergi kini mengoperasikan Karim Small Fields di Oman.

SKK Migas turut menggelar pertemuan bisnis dengan perusahaan rekayasa global JGC Holdings Corporation dan raksasa migas Italia, Eni. Sebelumnya, pertemuan tingkat tinggi juga dilakukan dengan INPEX, Samsung, serta sejumlah mitra bisnis lainnya.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah momentum penting pengembangan proyek-proyek migas berskala besar di Indonesia.

Pada April 2026, Eni mengumumkan penemuan gas raksasa melalui sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur. Penemuan tersebut memiliki estimasi sumber daya gas in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat.

Sementara itu, proyek LNG Abadi yang dikembangkan INPEX di Blok Masela, Maluku, telah memasuki tahap pembangunan fisik sejak Juli 2026.

Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta memasok gas untuk kebutuhan domestik sebesar 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kedua proyek tersebut menjadi gambaran besarnya peluang investasi dan pengembangan hulu migas Indonesia yang ditawarkan kepada komunitas energi internasional.

Tegaskan prioritas kebutuhan energi domestik

Di tengah upaya memperluas pasar energi global, Indonesia juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen ekspor dan kebutuhan dalam negeri.

Djoko menyampaikan hal tersebut dalam sesi diskusi bertema “Global LNG Market Trends and Outlook” pada Selasa (3/11).

Dalam diskusi bersama Sekretaris Jenderal Gas Exporting Countries Forum (GECF) Dr. Philip Mshelbila, yang dimoderatori Editor Energi Financial Times Malcolm Moore, Djoko menjelaskan bahwa fleksibilitas kontrak dapat menjadi solusi ketika terjadi perubahan permintaan gas.

“Kami menegaskan kepada pembeli gas internasional bahwa prioritas utama Indonesia adalah memenuhi kebutuhan domestik. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, baru kami dapat melakukan ekspor,” tegasnya.

Djoko menambahkan, apabila permintaan dalam negeri meningkat, pemerintah Indonesia akan berdiskusi dengan konsumen gas internasional untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia menjaga keberlanjutan pasokan energi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik dan global.

Empat kerja sama strategis ditandatangani

Komitmen memperluas investasi dan kemitraan internasional juga diwujudkan melalui penandatanganan empat kerja sama strategis antara perusahaan nasional dan mitra internasional.

Kerja sama tersebut mencakup bidang jasa pengeboran, perkapalan, survei dan pemetaan, serta teknologi chemical reservoir stimulation.

Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 didukung 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN).

Kehadiran pemerintah, KKKS, dan perusahaan nasional dalam satu paviliun menjadi wadah untuk memperkenalkan kemampuan industri hulu migas Indonesia kepada komunitas energi dunia.

Melalui partisipasi di ADIPEC 2026, Indonesia tidak hanya memperluas jejaring bisnis dan membuka peluang investasi baru, tetapi juga memperkuat posisi dalam percaturan energi global.

Kemitraan yang terbangun diharapkan mampu mempercepat pengembangan potensi migas nasional, meningkatkan produksi, serta mendukung ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika kebutuhan energi dunia.