Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Peralihan pengelolaan Wilayah Kerja (WK) Natuna Sea Block A dari Harbour Energy kepada Prime Oil Indonesia Natuna mulai menunjukkan hasil positif. Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) nasional tersebut berhasil menghidupkan kembali sumur NGA-1 melalui pekerjaan workover dengan capaian produksi gas mencapai 11,5 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Angka tersebut setara dengan 821 persen dari target produksi sebesar 1,4 MMSCFD. Keberhasilan ini menjadi kabar menggembirakan bagi industri hulu migas nasional, sekaligus menunjukkan potensi perusahaan migas lokal dalam mengoptimalkan aset produksi yang sebelumnya mengalami penurunan kinerja.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar keberhasilan tersebut dalam laporan Good News Natuna, Sabtu (7/11/2026), seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Menurut Djoko, keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras dan optimalisasi operasi yang dilakukan Prime Oil Indonesia Natuna setelah mengambil alih pengelolaan wilayah kerja tersebut.
“Alhamdulillah, kabar menggembirakan pascaalih kelola operator Wilayah Kerja Natuna Sea Block A dari Harbour Energy ke Prime Oil Indonesia Natuna, perusahaan oil and gas dalam negeri (lokal),” demikian laporan Djoko.
Djoko bercerita, yang membuat keberhasilan ini semakin menarik, sumur NGA-1 bukanlah sumur baru. Sumur tersebut pertama kali berproduksi pada November 2014 dengan laju awal mencapai 22,5 MMSCFD.
Namun, sejak Oktober 2023, sumur ini mengalami kondisi ceased to flow atau berhenti mengalir secara alami. Produksi terakhirnya berasal dari lapisan UA Aa-11 dan UA Aa-12.
Melalui pekerjaan workover atau kerja ulang sumur, Prime Oil Indonesia Natuna berhasil membuka kembali potensi produksi dari sejumlah lapisan reservoir.
Pekerjaan dimulai pada 24 Oktober 2026 dengan metode pindah lapisan. Setelah dilakukan kegiatan perforasi dan pengujian menggunakan Production Logging Tool (PLT), pada 3 November 2026 sumur NGA-1 mencatat produksi gas sebesar 11,5 MMSCFD.
Produksi tersebut berasal dari lima interval lapisan, yakni:
- UA Aa-12 pada kedalaman 5.055–5.070 ftMD.
- UA Aa-11 pada kedalaman 5.276–5.358 ftMD.
- MA Cb-6 pada kedalaman 6.160–6.180 ftMD.
- MA Cb-1 pada kedalaman 6.853–6.859 ftMD.
- MA Ca-3a pada kedalaman 7.558–7.580 ftMD.
Menariknya, setelah pekerjaan tersebut, sumur NGA-1 dapat langsung diproduksikan atau mencapai tahap Put on Production (PoP).
Keberhasilan ini juga terlihat dari sisi efisiensi operasional.
Pekerjaan dilakukan menggunakan metode rigless melalui teknik thru tubing perforation, sehingga tidak memerlukan penggunaan rig pengeboran konvensional.
Hingga laporan disampaikan, pekerjaan telah berlangsung selama 12 hari. Proses selanjutnya berupa rig down (R/D) peralatan dijadwalkan selesai keesokan harinya.
Dengan demikian, pelaksanaan pekerjaan diproyeksikan membutuhkan waktu sekitar 13 hari, lebih cepat dibandingkan rencana awal selama 17 hari.
Dari sisi anggaran, biaya berdasarkan estimasi lapangan (field estimate cost) tercatat sebesar US$100.861. Angka tersebut hanya 68,12 persen dari rencana anggaran sebesar US$148.059.
Artinya, selain berhasil melampaui target produksi, pekerjaan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu pelaksanaan.
Bukti Kemampuan Operator Migas Nasional
Bagi industri hulu migas Indonesia, keberhasilan sumur NGA-1 memiliki arti lebih dari sekadar tambahan produksi gas.
Peristiwa ini menjadi gambaran bahwa perusahaan migas nasional memiliki peluang untuk mengoptimalkan lapangan-lapangan migas yang telah berproduksi, termasuk aset yang membutuhkan pendekatan teknis dan strategi pengelolaan baru.
Pengaktifan kembali sumur yang sempat berhenti mengalir selama lebih dari tiga tahun juga memperlihatkan pentingnya optimalisasi lapangan eksisting di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi migas nasional.
Djoko Siswanto menegaskan bahwa peningkatan laju alir produksi tersebut menjadi bukti eksistensi dan komitmen perusahaan minyak dan gas bumi lokal dalam mendukung penambahan produksi gas nasional.
Keberhasilan Prime Oil Indonesia Natuna di sumur NGA-1 sekaligus memberikan pesan bahwa optimalisasi aset migas tidak selalu harus dimulai dari pengeboran sumur baru. Melalui evaluasi reservoir, teknologi yang tepat, serta pelaksanaan operasi yang efisien, sumur lama pun masih dapat memberikan kontribusi signifikan.


