Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari wilayah operasi Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Sumur pengembangan JUM-101 berhasil mencatatkan produksi gas sebesar 3,3 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd), melampaui target awal sebesar 3 MMscfd.
Tak hanya menghasilkan gas di atas target, sumur baru tersebut juga memberikan tambahan produksi minyak sebesar 250 barel minyak per hari (BOPD).
Keberhasilan ini dilaporkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto kepada RuangEnergi.com, Sabtu (7/11/2026), sebagai salah satu kabar baik dari upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional.
Berdasarkan laporan tersebut, pengeboran sumur JUM-101 dilaksanakan PHM pada 20 Juli hingga 4 Agustus 2026 dengan menggunakan Jack Up Rig Tasha.
Setelah melalui serangkaian tahapan pekerjaan, sumur JUM-101 akhirnya berhasil memasuki tahap Put on Production (PoP) atau mulai berproduksi pada 7 November 2026. Proses produksi perdana ini menggunakan Barge AWB Bayu Cakrawala.
Ada sejumlah pekerjaan teknis yang harus diselesaikan sebelum sumur tersebut resmi mengalirkan hidrokarbon. Tahapannya meliputi cement log, Coiled Tubing (CT) Unload, initial perforation, hingga pemasangan Thru Tubing Ceramic Screen.
Hasilnya cukup menggembirakan.
“Berdasarkan hasil clean up pada bukaan choke 36/64 inci, sumur JUM-101 mampu mengalirkan gas 3,3 MMscfd. Angka ini mencapai 110 persen dari target produksi awal.Di saat bersamaan, sumur tersebut juga menghasilkan tambahan produksi minyak sebesar 250 BOPD,”kata Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Capaian ini menjadi bukti bahwa upaya optimalisasi kegiatan pengeboran dan pengembangan sumur di wilayah operasi PHM terus memberikan hasil positif.
Djoko Siswanto menyampaikan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi dan koordinasi seluruh pihak yang terlibat dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan dengan baik hingga sumur siap berproduksi.
Keberhasilan PoP sumur JUM-101 diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi migas nasional, sekaligus memperkuat upaya pemerintah menjaga ketahanan energi Indonesia.
Bagi industri hulu migas, tambahan produksi dari sumur-sumur pengembangan seperti JUM-101 menjadi sangat berarti. Sebab, peningkatan produksi nasional bukan hanya bertumpu pada proyek-proyek besar, tetapi juga pada keberhasilan mengoptimalkan setiap potensi yang ada di lapangan.


