ERIA Dorong Kerja Sama Regional untuk Perkuat Ketahanan Energi dan Daya Saing Industri ASEAN

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) menggelar 2nd East Asia Media Caucus di Jakarta untuk membahas pentingnya kerja sama regional dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri ASEAN. Forum yang mempertemukan peneliti dan jurnalis dari sejumlah negara ASEAN ini mengangkat peluang efisiensi biaya penyediaan cadangan minyak darurat sekaligus mendorong pelaku usaha beralih ke proses produksi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Takayuki Yamanaka, Chief Operating Officer ERIA, mengatakan bahwa gangguan pasokan energi global menunjukkan pentingnya kesiapan dan kerja sama antarnegara dalam menghadapi tantangan energi. Menurutnya, upaya memperkuat ketahanan energi juga perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan hijau dan transformasi digital untuk meningkatkan daya saing serta memperkuat integrasi ekonomi kawasan.

Salah satu peluang kerja sama yang dibahas dalam forum ini adalah penyediaan cadangan minyak darurat secara regional. ERIA memperkirakan bahwa kerja sama antarnegara ASEAN dapat menekan biaya penyediaan dan penyimpanan cadangan minyak tambahan menjadi US$2,19 miliar per tahun. Sebagai perbandingan, jika masing-masing negara mengandalkan cadangan nasional, biayanya US$2,80 miliar per tahun. Dengan jumlah cadangan tambahan yang sama, skema kerja sama regional ini berpotensi menghemat biaya sekitar 22%, atau setara US$610 juta per tahun.

Perhitungan tersebut mengasumsikan bahwa cadangan bersama tetap dimiliki produsen atau mitra, sementara negara peserta memperoleh hak untuk menggunakannya berdasarkan kesepakatan. Biaya pengiriman darurat dan pengisian kembali cadangan dihitung secara terpisah. Skema ini merupakan rekomendasi ERIA yang masih memerlukan pertimbangan dan persetujuan pemerintah terkait.

Hak untuk menggunakan cadangan darurat baru merupakan langkah awal. Setiap negara perlu memiliki prosedur yang jelas untuk mengeluarkan cadangan, bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan, dan sarana untuk mengirimkannya ke tempat yang membutuhkan. Melalui uji coba sukarela, pemerintah dan operator dapat menguji apakah semua itu berjalan dengan baik sebelum pasokan terganggu,” ujar Dr. Han Phoumin, Ekonom Energi Senior ERIA.

Selain memperkuat kesiapan pasokan energi, ASEAN juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing industri di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi yang lebih hijau dan pemanfaatan teknologi digital. Kedua agenda ini menjadi penting agar pelaku usaha di kawasan dapat beradaptasi terhadap perubahan global sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi baru.

“Daya saing ASEAN ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan kawasan ini memadukan pertumbuhan hijau, transformasi digital, dan integrasi regional. Perubahan global membuka peluang bagi kita untuk mengembangkan industri baru, menarik investasi, memperkuat rantai nilai, dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik di seluruh kawasan,” ujar Dr. Intan Murnira Ramli, Senior Policy Fellow ERIA.

Tantangan dalam mewujudkan produksi yang lebih bersih terlihat dari hasil survei ERIA terhadap perusahaan Jepang yang beroperasi di ASEAN. Sebanyak 53,3% perusahaan yang disurvei telah mengambil langkah untuk mengurangi emisi karbon. Namun, hanya 7,1% yang melaporkan telah beralih ke pemasok dengan emisi lebih rendah atau mendorong pemasok mereka untuk mengurangi emisi. Survei terpisah terhadap perusahaan lokal ASEAN juga menemukan bahwa usaha kecil lebih jarang mengambil langkah serupa dibandingkan perusahaan besar, terutama karena keterbatasan pendanaan dan kemampuan teknis.

Kesenjangan serupa juga terlihat dalam penerapan teknologi digital. Di antara perusahaan Jepang yang disurvei, 70,8% menyebut kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan digital sebagai hambatan, sementara 64,7% menyoroti tingginya biaya penerapan teknologi. Temuan ini menunjukkan perlunya investasi dalam pengembangan keterampilan dan teknologi, serta perluasan akses pembiayaan agar lebih banyak pelaku usaha, termasuk usaha kecil, dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Untuk menjawab tantangan tersebut, peserta forum turut membahas pentingnya penyelarasan standar dan penguatan konektivitas antarnegara dalam mendukung daya saing industri kawasan. Salah satu peluang yang dibahas adalah ASEAN Green Economy Framework Agreement (GEFA), yang diharapkan dapat mendorong investasi dan membuka peluang usaha di sektor ekonomi hijau. Dr. Intan menekankan bahwa implementasi agenda bersama akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan ASEAN mengembangkan industri baru, memperkuat rantai nilai, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik.

Forum ditutup dengan diskusi bersama jurnalis dan editor mengenai verifikasi informasi, penyampaian temuan riset, serta keterkaitan kebijakan regional dengan kondisi di tingkat nasional. Diskusi juga menyoroti pentingnya memantau pelaksanaan kebijakan untuk menilai sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat.