Jakarta,ruangenergi.com-Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berharap PT Pertamina (Persero) lebih strategis lagi dalam memilih partner untuk mengembangkan wilayah kerja perminyakan (blok migas)
Sebaiknya perusahaan plat merah itu memilih perusahan-perusahaan (migas) yang punya investasi besar dan mengerjakan area perminyakan yang ada di Pertamina tersebut.
“Harapan kita Pertamina lebih stratejik lagi berpartnernya dengan perusahaan-perusahaan yang punya investasinya yang gede-gede dan mengerjakan area-area yang tidak sleeping, tapi ada potensi produksinya bisa di boosting lagi.Pembagiannya melalui incremental. Kira-kira begitu,” kata Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf menjawab pertanyaan ruangenergi.com ketika konferensi pers Capaian Kinerja Hulu Migas Tahun 2022 dan Target Tahun 2023,Rabu (18/01/2023) di Jakarta.
Nanang menegaskan, di Pertamina itu sendiri sudah ada solusi dengan partnership untuk menggarap wk migas milik perusahaan tersebut.
“Di Pertamina EP (PEP) ada yang khusus menangani partnership apakah itu kso (kerjasama operasi), sumur iddle, bahkan kita mendorong kalau mau berpartner dengan service provider terutama yang ingin mengimplementasikan teknologi baru dan sebagainya,misalnya dengan skema no cure no pay kita buka. Artinya setiap potensi-potensi itu kita usahakan unlocking. Jadi potensi itu jangan hanya potensi, tapi kita buktikan kita kerjakan. Kalau sudah tidak bisa dikerjakan, tidak ekonomis dan sebagainya kita tawarkan mungkin dengan perusahaan-perusahaan yang lebih bisa efisien karena pegawainya tidak banyak, investasinya tidak besar dan sebagainya itu bisa dikerjakan,” ungkap Nanang yang pernah menjabat sebagai Direktur Pertamina EP pada 23 Mei 2017 hingga 27 Mei 2020 lalu.
Contohnya,lanjut Nanang, adalah sumur dan itu ada aturannya Permen ESDM Nomor 1 tahun 2008 dimana dimungkinkan KUD dan BUMD mengerjakan sumur-sumur tua dan sampai sekarang ada hasilnya. Contoh di Cepu, Blora, Muba.
Buat Nanang,pria yang pernah mengalami gejolak Libya saat menjadi General Manajer Proyek EP, Pertamina EP Libya,menjelaskan sleeping area mungkin (lahan tidur) tidak hanya ada di Pertamina Group saja namun ada juga di beberapa kontraktor kontrak kerjasama (KKKS).
“Beberapa diidentifikasi namun ada juga di beberapa area kita identifikasi.Ada yang belum optimum lah melalui kegiatan yang kita harapkan lebih massive tadi,” ucap Nanang.