ABB Perkuat Transformasi Energi Indonesia, dari Panas Bumi hingga Biofuel

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Komitmen ABB dalam mendukung transformasi energi Indonesia kembali ditegaskan oleh jajaran pimpinan regionalnya. Dalam pernyataan bersama, Abhinav Harikumar, Vice President divisi Energy Industries ABB untuk Asia Tenggara, dan Anders Maltesen, President ABB Energy Industries Asia, menegaskan bahwa ABB telah lama beroperasi di Indonesia dengan basis pelanggan yang luas di berbagai sektor strategis.

“Kami sudah cukup lama hadir di Indonesia dan memiliki customer base yang luas. Namun untuk menyampaikan detail proyek, tentu kami harus meminta izin kepada pelanggan kami terlebih dahulu,” ujar Abhinav dalam keterangannya kepada media massa, menjawab pertanyaan ruangenergi.com saat hadir di sana, Rabu (25/02/2026), di Jakarta.

Meski belum dapat membuka rincian proyek secara spesifik, ABB memberi sejumlah petunjuk mengenai sektor-sektor utama yang kini menjadi fokus perusahaan teknologi asal Swiss-Swedia tersebut.

ABB saat ini aktif di berbagai lini industri energi, mulai dari panas bumi, waste-to-energy, biofuel, hingga pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Bahkan, solusi otomasi ABB juga merambah sektor yang lebih luas seperti sistem pendukung industri berbasis teknologi, termasuk integrasi untuk fasilitas hidroponik modern.

Salah satu proyek yang sempat disinggung adalah turbin listrik panas bumi di Wayang Windu yang dikembangkan oleh Star Energy Geothermal. Proyek ini menjadi contoh konkret bagaimana ABB berperan dalam memperkuat keandalan dan efisiensi sistem energi berbasis energi baru terbarukan (EBT).

“Kami percaya pada potensi Star Energy geothermal dan kami yakin kolaborasi ini dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku industri,” kata Anders Maltesen.

Automation Extended, Akselerator Energi Masa Depan

Di tengah dorongan transisi energi dan target net zero emission Indonesia, ABB mengandalkan inovasi teknologi seperti Automation Extended. Solusi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat integrasi sistem, serta mempercepat digitalisasi sektor energi nasional.

Menurut Anders, ABB tidak datang dengan klaim sebagai pihak yang paling ahli di setiap sektor. Sebaliknya, pendekatan yang diusung adalah kolaboratif.

“Kami tidak mengklaim sebagai ahlinya, tetapi kami dapat memberikan nilai tambah yang signifikan melalui teknologi dan pengalaman global kami,” tegasnya.

Dalam konteks panas bumi, misalnya, ABB menawarkan solusi otomasi dan elektrifikasi yang kuat untuk meningkatkan performa pembangkit sekaligus menjaga keandalan operasi jangka panjang.

Dengan portofolio lintas sektor—mulai dari biofuel hingga PLTS—ABB memposisikan diri sebagai mitra strategis dalam percepatan transformasi energi Indonesia. Fokusnya bukan sekadar pada penyediaan perangkat keras, melainkan pada integrasi sistem cerdas yang mendorong efisiensi, keberlanjutan, dan daya saing industri nasional.

Di tengah dinamika transisi energi global, langkah ABB ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tetap menjadi pasar penting dalam peta energi Asia. Dan bagi ABB, perjalanan panjang di Tanah Air tampaknya masih akan terus berlanjut—mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi, dan mempercepat transformasi energi nasional.