Bahlil: Lemigas Jangan Jalan Biasa, BPMA Wajib Dongkrak Produksi Migas Aceh!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia langsung memberikan sederet tugas strategis kepada para pejabat yang baru dilantik di lingkungan Kementerian ESDM, Rabu (5/8/2026).

Mulai dari memperkuat basis data geologi nasional, meningkatkan produktivitas Lemigas, hingga mempercepat kenaikan produksi migas di Aceh.

Usai pelantikan, Bahlil menegaskan bahwa pengisian jabatan tersebut bukan sekadar rotasi birokrasi, melainkan bagian dari penguatan agenda strategis sektor energi dan sumber daya mineral.

“Yang pertama adalah kita melantik Kepala Badan Geologi, karena menurut kami Badan Geologi ini sangat penting. Sebab, di sanalah awal sumber data menyangkut kekayaan sumber daya alam kita, baik mineral, batu bara maupun sektor migas,” ujar Bahlil kepada wartawan.

Menurutnya, kualitas data geologi menjadi fondasi utama dalam menentukan arah kebijakan eksplorasi dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Selain itu, Bahlil juga melantik Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi untuk memastikan setiap kebijakan ESDM memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Yang kedua, saya juga melantik staf ahli di bidang ekonomi karena penting sekali bagaimana arah kebijakan negara lewat Kementerian ESDM itu betul-betul dikaji secara baik terhadap dampak ekonominya langsung kepada rakyat,” katanya.

Perhatian khusus diberikan kepada Kepala Lemigas yang baru, Ihsan (Ikhsan). Menurut Bahlil, lembaga tersebut kini memegang peran strategis setelah mendapat mandat pemerintah, atas arahan Presiden, dalam pengadaan minyak mentah (crude) maupun LPG untuk kepentingan nasional.

“Lemigas mendapat mandat dari pemerintah atas arahan Bapak Presiden untuk melakukan pengadaan migas, crude maupun LPG, dalam kepentingan nasional,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai arahan khusus, termasuk terkait pengembangan CNG, Bahlil menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah meningkatkan produktivitas lembaga tersebut.

“Arahan saya tadi saya katakan bahwa segera meningkatkan produktivitas kerja daripada Lemigas. Selain melakukan impor, dia juga harus mengecek kualitas dan segala macam. Silakan melakukan konsolidasi internal dengan KPI-KPI yang tadi saya sampaikan,” tegasnya.

BPMA Diminta Dongkrak Lifting Migas Aceh

Instruksi tegas juga diberikan kepada Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) yang baru dilantik. Bahlil meminta agar produksi migas di Aceh segera ditingkatkan, terutama dengan memaksimalkan potensi kawasan Andaman yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan industri migas.

“Tingkatkan lifting di Andaman dan naikkan semua sumber-sumber blok-blok minyak kita yang ada di wilayah Aceh,” katanya.

BPMA sendiri memiliki fungsi serupa SKK Migas, namun khusus mengelola kegiatan usaha hulu migas di Aceh sebagai konsekuensi status otonomi khusus provinsi tersebut.

Impor Minyak Rusia: Negara yang Mengatur

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menyinggung perkembangan impor minyak mentah dari Rusia. Ia mengungkapkan bahwa pengiriman tahap pertama telah tiba di Indonesia, sementara tahap kedua masih dalam proses.

“Tahap pertama kan sudah. Tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak yang kepanjang,” ujarnya.

Namun, Bahlil menekankan bahwa mekanisme pengadaan tersebut dilakukan langsung oleh negara, bukan oleh Pertamina.

“Yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina, ya, negara. Negara enggak boleh diintervensi oleh negara lain. Setelah negara ambil, baru negara menentukan untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.”

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

“Negara kita menganut asas bebas aktif. Kita tidak mendikte negara lain, tapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita. Independensi negara kita harus kita jaga sebagai bagian daripada pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi,” tutup Bahlil.