BBG Makin Ngebut: Bahan Bakar Gas Jadi Andalan Baru Kendaraan, Lebih Irit dan Ramah Lingkungan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com– Di tengah dorongan memperkuat ketahanan energi nasional, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) kian serius menggenjot pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk kendaraan. Tak sekadar alternatif, BBG mulai diposisikan sebagai standar baru bahan bakar yang efisien, bersih, dan ekonomis.

Di sektor otomotif, BBG menawarkan sejumlah keunggulan yang sulit diabaikan. Dengan nilai oktan tinggi—mencapai RON 120 hingga 130—BBG memungkinkan mesin bekerja pada rasio kompresi lebih tinggi. Hasilnya, pembakaran menjadi lebih efisien dan performa mesin meningkat.

Tak hanya itu, sebagai bahan bakar berbasis metana (CH4), BBG menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna. Emisi karbonnya diklaim sekitar 20% lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), sekaligus minim residu. Artinya, mesin kendaraan bisa lebih awet dan biaya perawatan pun lebih hemat.

Dari sisi keamanan, BBG juga dirancang dengan standar tinggi. Tangki khusus berkapasitas hingga 15 liter gas dilengkapi sistem pengaman berlapis. Jika terjadi kebocoran, gas akan langsung menguap ke udara sehingga risiko ledakan jauh lebih kecil.

“Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai aspek keamanan, karena pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar keselamatan internasional oleh tenaga ahli yang kompeten,” ujar Direktur Operasi dan Komersial Gagas, Maisalina.

Dari sisi ekonomi, BBG menawarkan daya tarik utama: harga yang stabil di kisaran Rp4.500 per liter setara pertalite (LSP). Dengan konsumsi rata-rata kendaraan pribadi sekitar 10 LSP per hari dan jarak tempuh hingga 10 kilometer per LSP, BBG menjadi pilihan hemat di tengah fluktuasi harga BBM.

Untuk kendaraan umum, konsumsi BBG bervariasi—taksi sekitar 20 LSP per hari, angkot dan bajaj 15–20 LSP, sementara truk dan bus bisa mencapai 125–165 LSP per hari.

Lebih fleksibel lagi, BBG dapat digunakan pada kendaraan khusus maupun sistem **dual fuel**. Dengan pemasangan converter kit, kendaraan bisa beralih antara BBG dan BBM, memperpanjang jarak tempuh sekaligus memberi opsi saat pasokan terbatas.

Saat ini, BBG sudah digunakan secara luas, mulai dari taksi konvensional dan online, bajaj, angkot, kendaraan pribadi hingga armada TransJakarta.

Upaya Gagas tidak berhenti pada penyediaan bahan bakar. Bersama Komunitas Mobil Gas (Komogas), perusahaan ini aktif membangun ekosistem BBG di Indonesia.

Salah satu terobosan terbaru adalah peluncuran bengkel keliling BBG—layanan servis bergerak yang memudahkan pengguna dalam perawatan dan perbaikan kendaraan berbahan bakar gas.

Ketua Komogas, Andy Lala, menyebut BBG kini semakin dilirik karena kombinasi efisiensi dan keterjangkauan.

“Selain karena harga BBM yang terus naik, BBG juga membuat ruang bakar lebih bersih. Bagi banyak pengguna, ini solusi realistis dibanding harus langsung beralih ke kendaraan listrik yang masih mahal,” jelasnya.

Ia menambahkan, kehadiran bengkel keliling menjadi solusi konkret bagi pengguna yang selama ini kesulitan mencari layanan khusus BBG.

Dengan berbagai keunggulan—mulai dari efisiensi, biaya, hingga dampak lingkungan—BBG perlahan tapi pasti mulai menemukan momentumnya. Dukungan infrastruktur dan edukasi yang terus diperkuat diyakini akan mempercepat adopsi di masyarakat.

PGN dan Gagas pun optimistis, BBG bisa menjadi salah satu pilar penting dalam transisi energi Indonesia—menjembatani kebutuhan saat ini menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.