Foto istimewa

BKPM Sebut, Jaringan Distribusi jadi Kendala Pembangunan PLTM Tomata

Tomata, Ruangenergi.com – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Tomata diperkirakan akan selesai atau commercial operation date (COD) pada akhir tahun.

Selain akan meningkatkan keandalan listrik wilayah Sulawesi Utara, pembangunan PLTM Toamata ini juga turut meningkatkan Bauran Energi Baru Terbarukan yang dicanangkan pemerintah sebesar 23% hingga 2025 mendatang.

Akan tetapi masih terdapat sejumlah kendala dilapangan untuk distribusi daya ke masyarakat atau konsumen, kiranya seperti itu yang diungkapkan oleh Komite Investasi BKPM, Rizal Calvary Marimbo, saat meninjau kelapangan.

Turut mendampingi Komite BKPM CEO PT. Buminata Energi Perkasa, Hengky Hendrarto; Kepala Dinas Inspektorat Morowali Utara, Frits Sam Kandori; Camat Mori Atas, Balirante serta Tokoh Mori di Jakarta Christian Parinsi.

“Kendalanya itu jaringan yang ada hanya mampu menampung 2 Megawatt (MW). Jaringan tegangannya lebih rendah. Sedangkan yang akan dilepas ke konsumen sebesar hingga 10 MW sampai ke Wilayah Petasia, cukup ini dayanya,” jelas Rizal kepada ruangenergi.com, (08/09).

Rizal menambahkan, pemerintah daerah sebelumnya sudah berencana menganggarkan dana sebesar Rp 14 Miliar untuk menaikkan kemampuan jaringan (upgrading) transmisi.

BACA JUGA  Tetap Komit Kerja Bauran EBT 23%

Akan tetapi, lanjut Rizal yang juga menjadi Komisaris PT PLN Batam, ada kendala potensi pelanggaran aturan bila APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) membiayai peningkatan kapasitas jaringan tersebut.

“Kita juga lagi lihat apa ada anggaran internal di PLN Wilayah Sulutenggo (Sulawesi Utara-Tengah-Gorontallo). Kita mau komunikasikan dulu, perlu dana RP 14 Miliar, kalau lewat APBD ada potensi berhadapan dengan penegak hukum,” ungkap Rizal.

Menurutnya, BKPM juga akan membantu mencarikan jalan keluar terhadap masalah dilapangan (jaringan distribusi).

Lebih jauh, Rizal mengungkapkan, kehadiran PLTM Tomata, tak hanya akan menerangi Wilayah Morowali Utara (Morut), namun juga akan memberikan optimisme pada investasi di wilayah ini.

Terkait harga pembelian energi listrik dari PLTM sangat murah yaitu Rp 1.000/kWh dibandingkan dengan harga PLTD (diesel) mencapai Rp 3.000/kwh.

“Kita harap harganya yang affordable (terjangkau) bagi masyarakat,” tandas Rizal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *