Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyampaikan optimisme terhadap kinerja sektor hulu migas nasional saat membuka Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dan perwakilan 10 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Rabu (3/6/2026).
Dalam pengantarnya, Bambang menilai capaian produksi migas pada triwulan pertama 2026 memberikan sinyal positif di tengah tantangan geopolitik global dan berbagai kendala teknis yang masih dihadapi industri migas nasional.
“Berdasarkan data yang kami terima, realisasi lifting migas pada triwulan I tahun 2026 mencapai sekitar 1,524 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), yang terdiri atas produksi minyak bumi sekitar 495,589 barel per hari, kondensat sekitar 150 ribu barel per hari, NGL sekitar 21,591 barel per hari, serta gas terproses yang dikonversikan setara sekitar 444 ribu barel per hari.
Apabila dibandingkan dengan target lifting minyak bumi dalam APBN Tahun 2026 sebesar 610 ribu barel per hari, maka capaian produksi minyak bumi pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan kinerja yang cukup baik dan memberikan optimisme di tengah dinamika geopolitik global yang masih berfluktuasi serta berbagai kendala teknis yang dihadapi di lapangan,” ujar Bambang di hadapan jajaran SKK Migas dan pelaku industri migas.
Menurutnya, optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah proyek strategis migas dijadwalkan mulai beroperasi dan memberikan tambahan produksi sepanjang 2026 hingga 2027. Di antaranya peningkatan produksi kondensat dari proyek PHE ONWJ yaitu sebesar 2996 barel kondensat per hari, JOB Pertamina MedcoTomori-Sulawesi Tengah sebesar 2800 barel kondensat per hari, percepatan pengembangan sumur di wilayah Sidingin dan Minas yang dikembangkan Pertamina Hulu Rokan (PHR), pengembangan Lapangan Puspasari Jambi oleh Pertamina EP Jambi Field, hingga peningkatan produksi dari sejumlah lapangan yang dikelola perusahaan nasional, dari Energi Mega Persada dengan tambahan produksi sekitar 1449 barel oil per hari.
Bambang menegaskan bahwa sektor migas masih memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menopang penerimaan negara. Karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, SKK Migas, dan para KKKS untuk memastikan target lifting nasional dapat tercapai.
“Untuk menjaga stabilitas lifting migas dan mendukung pencapaian target produksi, dibutuhkan kolaborasi yang kuat serta percepatan berbagai program pengembangan lapangan dan peningkatan produksi,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Komisi XII DPR RI meminta penjelasan rinci dari SKK Migas mengenai realisasi lifting minyak dan penyaluran gas bumi sepanjang 2026 serta proyeksinya pada 2027. Selain itu, DPR juga menyoroti progres pengelolaan sumur masyarakat dan kerja sama pengembangan sumur oleh badan usaha.
Aspek cost recovery juga menjadi perhatian penting. Komisi XII meminta penjelasan mengenai proyeksi cost recovery dalam RAPBN 2027, termasuk rata-rata biaya produksi serta mekanisme penghitungan apabila terjadi kondisi over lifting maupun under lifting.
Rapat yang dihadiri anggota Komisi XII dari delapan fraksi tersebut berlangsung dalam suasana konstruktif. DPR berharap forum ini dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat kinerja sektor hulu migas nasional sekaligus mendukung target swasembada energi yang menjadi agenda strategis pemerintah.
“Kami ingin memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi riil sektor hulu migas saat ini dan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk meningkatkan produksi nasional ke depan,” tegas Bambang sebelum mempersilakan Kepala SKK Migas menyampaikan paparan.


