Catat Ya, BPMA Evaluasi Gas Lepas Pantai Aceh, Singkil dan Meulaboh Jadi Sasaran

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Banda Aceh, Aceh, ruangenergi.com-Setelah menuntaskan tahapan penanganan sumur masyarakat, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) kini membidik peluang pengembangan potensi gas bumi di Struktur Singkil dan Meulaboh, lepas pantai barat daya Aceh.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Aceh sekaligus membuka peluang tambahan pasokan gas untuk mendukung ketahanan energi nasional.

BPMA mulai mengintensifkan pembahasan teknis bersama Conrad Asia Ltd melalui Workshop Penentuan Status Eksplorasi (PSE) Struktur Meulaboh dan Singkil yang berlangsung di Jakarta pada 15–16 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi potensi kedua struktur, menentukan status eksplorasinya, serta mempersiapkan tahapan kegiatan berikutnya menuju rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (POD), apabila persyaratan teknis dan keekonomian telah terpenuhi.

Kepala BPMA Mawardi Nur hadir langsung dalam workshop tersebut bersama Deputi Perencanaan BPMA Afrul Wahyuni, Kepala Divisi Perencanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Teuku Rizky, Kepala Divisi Teknologi dan Pengembangan Lapangan Arie Fahdhomi, serta tim perencanaan BPMA.

Sementara itu, Conrad Asia Ltd diwakili General Manager Eryanto Effendi, Exploration Manager Minarwan, dan tim teknis terkait.

Ada catatan menarik dari pembahasan potensi gas di kedua struktur tersebut. Data historis menunjukkan bahwa wilayah Singkil dan Meulaboh pernah mencatat aliran gas dari kegiatan pengeboran yang dilakukan lebih dari lima dekade lalu.

Dalam pemaparan workshop, Sumur Singkil-1 yang dibor pada 1973 pernah mencatat aliran gas sebesar 10,06 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day atau MMSCFD).

Sementara itu, Sumur Meulaboh-1 yang dibor pada 1970 mencatat aliran gas sebesar 6,7 MMSCFD.

Catatan tersebut menjadi salah satu referensi awal dalam mengevaluasi potensi sumber daya gas di kedua struktur. Namun, angka aliran gas historis itu belum dapat langsung dianggap sebagai cadangan gas yang siap diproduksikan.

Diperlukan kajian teknis lanjutan untuk memastikan besaran sumber daya yang dapat dikembangkan, karakteristik reservoir, potensi produktivitas, hingga kelayakan komersialnya.

Di sinilah evaluasi yang dilakukan BPMA bersama Conrad Asia Ltd menjadi penting. Data dan hasil kajian harus diterjemahkan menjadi dasar pengambilan keputusan yang terukur sebelum pengembangan lapangan dapat dilakukan.

Kepala BPMA Mawardi Nur menegaskan, percepatan evaluasi dan tindak lanjut pengembangan merupakan langkah penting agar potensi migas Aceh dapat dinilai dan dimanfaatkan secara optimal.

“Kita ingin memastikan proses pengembangan potensi migas Aceh dapat berjalan lebih cepat, khususnya pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Percepatan ini penting agar potensi sumber daya migas Aceh dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara optimal,” ujar Mawardi.

Ia menekankan bahwa setiap tahapan harus dilaksanakan secara terukur berdasarkan kajian teknis, dengan tetap memperhatikan kelayakan komersial serta pemenuhan seluruh ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

Menurut Mawardi, rencana pengembangan lapangan tidak bisa hanya bertumpu pada indikasi potensi sumber daya. Evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis, karakteristik reservoir, dan keekonomian tetap menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu struktur layak dikembangkan.

Karena itu, koordinasi antara BPMA dan kontraktor menjadi bagian penting dalam memastikan setiap keputusan didukung data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mawardi mengatakan, selain mengevaluasi peluang pengembangan Struktur Singkil dan Meulaboh, BPMA juga menegaskan pentingnya pelaksanaan sisa Komitmen Pasti sesuai jadwal yang telah disepakati.

Komitmen tersebut merupakan kewajiban kegiatan eksplorasi yang harus tetap dilaksanakan kontraktor sesuai dengan ketentuan kontrak yang berlaku.

Artinya, evaluasi potensi pengembangan dan pemenuhan komitmen eksplorasi perlu berjalan beriringan. Dengan begitu, proses pencarian dan pengembangan sumber daya migas tidak berhenti pada identifikasi potensi, tetapi berlanjut melalui tahapan kerja yang jelas dan terukur.

BPMA menyatakan akan terus mengawal proses evaluasi dan persiapan pengembangan potensi migas Aceh, termasuk di Struktur Singkil dan Meulaboh.

Jika hasil kajian lanjutan menunjukkan potensi yang memadai dan memenuhi persyaratan teknis serta keekonomian, kedua struktur tersebut berpeluang menjadi bagian dari upaya peningkatan pasokan gas pada masa mendatang.

Bagi Aceh, langkah ini membuka ruang bagi pengembangan potensi sumber daya alam yang lebih optimal. Sementara bagi Indonesia, keberhasilan pengembangan lapangan migas baru dapat menjadi salah satu kontribusi dalam memperkuat pasokan energi nasional di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang.