Corona Sebabkan Penjualan BBM Pertamina Anjlok 34 Persen

Jakarta, Ruangenergi.com –  Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan, penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) merosot tajam akibat penyebaran virus corona (covid-19). 
“Berdasarkan data yang dimilikinya, secara nasional penurunan penjualan BBM mencapai 34,9 persen per Kamis (16/4) ini. Penurunan tersebut dibandingkan rata-rata penjualan pada Januari dan Februari 2020,” kata Nicke dalam rapat virtual dengan KOmisi VI DPR, Kamis (16/4).
Ia mengatakan penurunan terbesar penjualan BBM terjadi di DKI Jakarta, yakni 59 persen. “Penurunan kedua terbesar terjadi di Bandung sebesar 57 persen, dan Makassar 53 persen. Sementara itu, penurunan permintaan di kota lain rata-rata di atas 45 persen,” ujarnya.
“Penurunan permintaan dihitung berdasarkan ketika pemerintah mengumumkan dan memutuskan WFH di sebagian daerah. Tapi sebetulnya dengan PSBB di DKI Jakarta dan di beberapa daerah lainnya, maka permintaan akan semakin tertekan,” tambah.dia
Selain BBM, lanjut Nicke, masalah sama juga terjadi pada penjualan avtur. Bahkan, penurunan penjualan avtur sampai 60 persen. :Penurunan terjadi karena  sebagian besar penerbangan sudah berhenti akibat penyebaran virus corona,” tukasnya.
Nicke mengatakan penurunan penjualan tersebut berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan minyak pelat merah itu. “Pasalnya, di tengah penurunan permintaan, Pertamina juga mendapatkan dua pukulan dari sentimen global. Pertama, pelemahan harga minyak mentah global yang terjadi akibat kenaikan pasokan,” paparnya.
Seperti diketahui, pada Rabu (15/4), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$1,91 atau 6,45 persen ke posisi US$27,69 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei merosot 24 sen atau 1,19 persen menjadi US$19,87 per barel.
“Harga tersebut hanya setengah dari target perseroan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020. Pukulan kedua, dari pelemahan nilai tukar rupiah,” tukasnya.
Nicke menambahkan pelemahan tersebut memberatkan Pertamina. Pasalnya, di satu sisi pihaknya harus membayar impor minyak menggunakan dolar AS. Tapi, di sisi lain pihaknya menjual dengan hasil rupiah. Pada Kamis (16/4) pukul 14.00 WIB rupiah melemah 0,90 persen ke level Rp15.715 per dolar AS.
“Situasi ini belum pernah terjadi, dilihat dari sales merupakan terendah dalam sejarah pertamina. Kondisi ini berdampak ke operasional kilang dan keuangan Pertamina,” pungkasnya.(Red)

BACA JUGA  Hilangkan Premium, BPH Migas: Revisi Perpres 191/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *