Dari Dumai ke Cilacap, Pertamina Pacu Hilirisasi Energi Bernilai Triliunan Rupiah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Upaya menuju kemandirian energi nasional kembali dipercepat. PT Pertamina Patra Niaga resmi mengakselerasi pembangunan proyek Kilang Gasoline di Cilacap dan Dumai sebagai bagian dari Proyek Hilirisasi Nasional Fase II. Langkah ini diyakini bakal menjadi game changer dalam menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan proyek tersebut merupakan bentuk konkret dukungan terhadap agenda besar pemerintah dalam menciptakan kemandirian energi nasional melalui hilirisasi industri.

“Melalui pendekatan Dual Growth Strategy, Pertamina Patra Niaga tidak hanya memperkuat bisnis eksisting, tetapi juga meningkatkan kompleksitas kilang agar mampu menghasilkan produk bernilai tinggi dan kompetitif secara global,” ujar Roberth dalam keterangannya, Selasa (13/5).

Dua kilang baru ini dirancang menggunakan konsep high conversion refinery, teknologi yang memungkinkan pengolahan energi menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan lebih ramah lingkungan.

Kilang Dumai ditargetkan mampu memproduksi sekitar 900 ribu kiloliter gasoline per tahun, ditambah 86 ribu ton LPG dan 124 ribu ton propylene. Sementara Kilang Cilacap diproyeksikan menghasilkan 1,1 juta kiloliter gasoline, 50 ribu ton LPG, serta 145 ribu ton propylene per tahun.

Dengan tambahan kapasitas tersebut, pemerintah berharap ketergantungan impor BBM bisa ditekan secara signifikan.

Tak hanya berdampak pada sektor energi, proyek ini juga diprediksi memberi efek ekonomi besar. Pertamina memperkirakan pengoperasian dua kilang itu dapat menghemat devisa negara hingga Rp20 triliun per tahun.

Selain itu, proyek strategis ini diperkirakan menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja selama masa konstruksi hingga operasional, sehingga menjadi stimulus baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

Secara teknis, Kilang Gasoline Dumai akan memiliki kapasitas 30 ribu barel per hari, sedangkan Kilang Cilacap mencapai 32 ribu barel per hari. Kedua fasilitas itu akan diintegrasikan dengan infrastruktur kilang eksisting demi meningkatkan efisiensi operasional.

Yang menarik, produk gasoline yang dihasilkan nantinya diklaim memenuhi standar ramah lingkungan dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm. Standar ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam transisi energi dan pengurangan emisi.

Tak hanya itu, proyek ini juga menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen, sehingga diharapkan mampu menggerakkan industri nasional dari hulu hingga hilir.

“Ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk keberlanjutan ekonomi dan lingkungan,” tegas Roberth.

Pembangunan kilang gasoline di Cilacap dan Dumai sendiri merupakan bagian dari gelombang besar 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang sebelumnya diresmikan Presiden RI dengan total investasi mencapai Rp116 triliun.

Rangkaian proyek tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari pengolahan komoditas kelapa dan pala di Maluku Tengah, pengembangan DME di Tanjung Enim sebagai substitusi LPG, hingga optimalisasi Aspal Buton dan peningkatan produksi baja karbon nasional.

Melalui proyek-proyek hilirisasi ini, pemerintah berharap Indonesia tak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, melainkan mampu membangun rantai industri bernilai tambah tinggi yang memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan.