BSD, Tangsel, ruangenergi.com- — Pemerintah kembali menegaskan optimisme terhadap masa depan industri hulu migas nasional. Di hadapan pelaku industri energi, investor, dan pemangku kepentingan sektor migas, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto melakukan penandatanganan kontrak kerja sama delapan wilayah kerja (WK) migas hasil lelang, yang disaksikan langsung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Momentum ini menjadi salah satu penanda penting agresivitas pemerintah dalam mendorong eksplorasi migas baru demi menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menarik investasi global ke Indonesia.
Delapan wilayah kerja yang diteken terdiri dari WK Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Southwest Andaman, Barong, dan Nawasena. Total potensi sumber daya dari blok-blok tersebut mencapai belasan triliun kaki kubik (TCF) gas dan ratusan juta barel minyak.
Sorotan utama tertuju pada WK Southwest Andaman yang dikelola Mubadala Energy dengan potensi mencapai 3 TCF. Kawasan Andaman memang tengah menjadi “primadona baru” eksplorasi migas Indonesia setelah sejumlah temuan gas jumbo dalam beberapa tahun terakhir menarik perhatian investor internasional.
Selain itu, WK Jalu di lepas pantai Andaman yang digarap Armada Jalu B.V. juga diperkirakan menyimpan potensi 2,9 TCF gas. Sementara WK Barong yang berada di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan memiliki estimasi sumber daya 2,9 TCF dan akan dikelola konsorsium INPEX dan BP.
Acara penandatanganan berlangsung meriah dengan kehadiran para pimpinan perusahaan migas nasional maupun internasional. Nuansa optimisme terasa kuat, terutama ketika pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan energi domestik, tetapi juga kembali menjadi pemain penting dalam peta energi kawasan Asia Pasifik.
Dengan masuknya investasi baru di delapan wilayah kerja ini, industri hulu migas Indonesia kini memasuki babak baru: eksplorasi agresif, kompetisi global, dan harapan besar menemukan giant discovery berikutnya.

