Dirjen Minerba

Dirjen Minerba sebut Nuklir Bakal Gantikan Posisi Energi Fosil

Jakarta, Ruangenergi.com – Pemerintah melalui kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut bahwa nuklir menjadi salah satu opsi energi potensial bagi Indonesia yang akan berdampak positif terhadap perkembangan industri dalam negeri.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba), Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin, dalam Webinar series yang dihelat oleh Direktorat Jenderal Minerba berjudul “Minerba Untuk Indonesia Tangguh dan Indonesia Tumbuh”, Jumat malam (10/09).

“Kita memiliki cukup banyak bahan bakunya, energi ini juga akan menjadi murah, sehingga secara keseluruhan dampak ekonomi terhadap industri kita akan cukup baik,” ujar Ridwan.

Ridwan menambahkan bahwa di masa depan energi nuklir berpotensi menggantikan energi berbasis fosil pada pembangkit listrik.

Untuk itu, pemerintah mendorong sektor pertambangan mineral dan batu bara untuk tidak menjual barang mentah, tetapi mengolahnya agar menjadi yang memiliki nilai tambah yang dapat dimanfaatkan bagi industri dalam negeri.

“Ketika kita bicara mineral untuk energi saya kira ini sebuah topik hangat karena cukup relevan ketika kita membicarakan energi berbasis nuklir atau radioaktif karena ini akan menjadi potensi pengganti energi berbasis batu bara atau energi berbasis fosil,” imbuh Ridwan.

Sebagaimana diketahui pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) akan dilakukan setelah 2025.

BACA JUGA  Komisi VII Gelar RDP Dengan Sekjen Kementerian ESDM, Bahas Ini

Selain itu, peta jalan pembangunan PLTN sudah masuk dalam strategi besar energi nasional. Ridwan mengemukakan, rencananya pemerintah akan membangun pembangkit energi nuklir dalam skala kecil mulai dari 100 Megawatt (MW) hingga 200 MW.

Lebih jauh, ia mengatakan, Kalimantan merupakan pulau yang paling cocok untuk dibangun pembangkit energi nuklir, di antara semua pulau di Indonesia. Ia melanjutkan, karena Kalimantan tidak memiliki garis patahan langsung dan tidak ada gunung berapi aktif, sehingga Kalimantan memiliki risiko gempa bumi dan tsunami paling kecil dibandingkan daerah lain.

Sebagai informasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengatakan bahwa bahan baku nuklir berupa sumber daya uranium yang dimiliki Indonesia sebanyak 81.090 ton dan thorium sebanyak 140.411 ton.

Adapun berdasarkan data BATAN bahan baku nuklir itu tersebar di tiga pulau besar, yakni Sumatera dengan potensi 31.567 ton uranium dan 126.821 ton torium, Kalimantan sebanyak 45.731 ton uranium dan 7.028 ton torium, dan Sulawesi sebanyak 3.793 ton uranium dan 6.562 ton torium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *