Dirut Vanda Energi Enda Ginting: Proyek Energi Butuh Kepastian Jangka Panjang, Bukan Regulasi 5 Tahunan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com – Direktur Utama Vanda RE Pte Ltd, Enda Ginting, menegaskan bahwa keberhasilan proyek energi nasional sangat bergantung pada kepastian regulasi jangka panjang, sejalan dengan karakter investasi yang memiliki horizon hingga puluhan tahun.

Menurut Enda, proyek energi—terutama yang terkait gas dan infrastruktur industri—umumnya dirancang dengan masa operasi hingga 30 tahun. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang masih bersifat jangka pendek.

“Kita bicara investasi jangka panjang, bisa 20 sampai 30 tahun. Tapi regulasi ekspor kita hanya 5 tahunan. Ini tentu menjadi tantangan besar bagi investor dalam mengambil keputusan,” ujar Enda, seperti dilaporkan reporter ruangenergi.com Destian Anugrah Ramadhan dan Marcello Putra S, Selasa (21/04/2026), di Jakarta.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya periode 2020–2022, terjadi penyesuaian terhadap sejumlah proyek akibat dinamika global, termasuk pandemi dan volatilitas harga energi.

Lebih lanjut, Enda menyoroti bahwa perubahan harga gas dunia yang dipengaruhi faktor geopolitik juga turut mempengaruhi perencanaan proyek.

“Harga gas global sangat fluktuatif. Situasi geopolitik membuat kita harus terus melakukan evaluasi, baik dari sisi keekonomian proyek maupun strategi offtake,” katanya.

Vanda Energi sendiri saat ini tengah mengkaji pengembangan proyek dengan nilai investasi sekitar Rp1,3 triliun, termasuk rencana pembangunan fasilitas industri dengan kapasitas terbatas sebagai tahap awal.

Menurut Enda, langkah tersebut dilakukan secara bertahap untuk memastikan keberlanjutan proyek, sekaligus menyesuaikan dengan kesiapan pasar dan kebijakan pemerintah.

“Kita tidak bisa langsung besar. Kita mulai dari kapasitas yang realistis, sambil melihat perkembangan pasar dan dukungan regulasi,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha agar proyek-proyek energi nasional dapat berjalan optimal dan memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri.

“Yang kita butuhkan adalah kepastian dan konsistensi kebijakan. Kalau itu ada, investasi akan datang dengan sendirinya,” tutup Enda.

Dalam catatan ruangenergi.com, Vanda RE Pte Ltd, perusahaan joint venture antara Gurīn Energy Pte Ltd dan Gentari melalui Gentari International Renewables Pte Ltd, resmi menandatangani framework supply agreement berskala besar dengan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), penyedia global terkemuka untuk teknologi baterai dan sistem manajemen baterai.

Melalui perjanjian ini, Vanda RE akan mendapatkan pasokan hingga 2,2 gigawatt hours (GWh) sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) EnerX dari CATL. Sistem tersebut akan digunakan untuk mendukung Proyek Vanda Solar & Battery, proyek tenaga surya skala utilitas yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi, dan akan berlokasi di Kepulauan Riau, Indonesia.

BESS dari CATL ini akan mendukung proyek dengan kapasitas panel surya sebesar 2 gigawatt peak (GWp) dan kapasitas penyimpanan baterai mencapai 4,4 GWh. Sistem tersebut juga dirancang agar dapat memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Indonesia. Adapun baterai akan diproduksi di pabrik CATL yang berlokasi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan sejak akhir Juni, dengan kapasitas produksi mencapai 15 GW.

Proyek ini menjadi bagian dari inisiatif bersama antara Indonesia dan Singapura dalam membangun koridor ekonomi hijau, dengan fokus awal pada pengembangan energi hijau. Melalui proyek ini, perusahaan-perusahaan teknologi bersih seperti CATL terdorong untuk menanamkan investasi dalam bentuk fasilitas manufaktur lokal di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan rantai pasok industri energi bersih, menurunkan biaya pengembangan energi terbarukan di dalam negeri, serta menjadikan Indonesia sebagai lokasi yang menarik bagi investasi sektor berbasis energi hijau.

Enda Ginting, Country Manager Indonesia Gurīn Energy, menyampaikan bahwa penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan Proyek Vanda Solar & Battery.

“Vanda RE berkomitmen untuk membangun proyek ini dengan standar teknis dan operasional tertinggi. Karena itu, kami sangat antusias telah berhasil mengamankan pasokan baterai dari CATL, salah satu yang terbaik di dunia,” ujarnya.