Djoksis: Dua Tahun Bahlil, 25 “Pending Matters” Hulu Migas Mulai Tuntas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Dua tahun kepemimpinan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dinilai mulai mengubah peta penyelesaian persoalan lama di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).

Sejumlah proyek yang selama bertahun-tahun tertunda mulai bergerak. Blok Natuna D-Alpha kembali memiliki pengelola, pembangunan Blok Masela dimulai, pipa WNTS-Pemping dituntaskan, dan investasi perusahaan migas global kembali diarahkan ke Indonesia.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut rangkaian langkah tersebut sebagai bagian dari “25 sukses komando Pak Bahlil pada hulu migas.”

Kepada ruangenergi.com, Djoko—yang akrab disapa Djoksis—menjelaskan satu per satu capaian yang menurutnya menjadi penanda penyelesaian berbagai pending matters di sektor hulu migas.

“Alhamdulillah,” kata Djoko mengawali ceritanya.

Dari Natuna hingga Masela

  1. Blok Natuna D-Alpha kembali memiliki pengelola
    Blok Natuna D-Alpha yang selama puluhan tahun belum memiliki pengelola kini telah dikembalikan kepada pemerintah, dilelang, dan dimenangkan oleh PT Nation Petroleum. Blok dengan cadangan gas yang disebut mencapai 46 TCF itu memiliki dua lapangan, yakni lapangan gas dan lapangan minyak. Pengembangan lapangan minyak direncanakan menjadi tahap awal.
  2. Blok Natuna D-Alpha memperoleh komitmen pengeboran
    Setelah mendapatkan pengelola, Blok Natuna D-Alpha juga memiliki komitmen pengeboran sebagai bagian dari rencana pengembangan lapangan.
  3. Pembangunan Blok Masela resmi dimulai
    Proyek Blok Masela yang disebut telah mangkrak selama 26 tahun kini memasuki fase pembangunan setelah proses pengembangan kembali berjalan.
  4. Pipa WNTS-Pemping dituntaskan
    Pembangunan pipa WNTS-Pemping yang sempat mandek sekitar 10 tahun telah diselesaikan. Infrastruktur ini diharapkan mempercepat penyaluran gas Natuna ke dalam negeri.
  5. Gas Natuna diproyeksikan mengalir ke dalam negeri
    Dengan selesainya pipa WNTS-Pemping, gas Natuna diharapkan untuk pertama kalinya dapat mengalir ke pasar domestik dalam sejarah Republik Indonesia.
  6. Pengembangan minyak nonkonvensional Rokan dimulai
    Pengembangan minyak nonkonvensional (MNK) Rokan kembali bergerak setelah melalui proses panjang sejak era 1990-an. Pengeboran telah dilakukan dan ditemukan indikasi cadangan minyak yang besar.
  7. PSC MNK Rokan diserahkan kepada PHR
    Kontrak kerja sama MNK Rokan telah diserahkan kepada Pertamina Hulu Rokan (PHR), dengan rencana pengeboran dua sumur delineasi pada tahun ini.
  8. MNK Rokan menjadi tonggak pengembangan skala besar
    Pengembangan MNK Rokan dipandang sebagai langkah awal menuju pengembangan minyak nonkonvensional dalam skala besar di Indonesia.

Membuka kembali pintu investasi

  1. Moratorium terhadap perusahaan migas Thailand dicabut
    Pemerintah memproses pencabutan moratorium terhadap perusahaan migas Thailand terkait kasus Montara. Langkah ini dinilai membuka peluang masuknya kembali investasi PTT Thailand ke Indonesia.
  2. Potensi investasi PTT Thailand mencapai US$5 miliar
    Kembalinya peluang investasi PTT Thailand diperkirakan dapat membawa nilai investasi sekitar US$5 miliar ke sektor migas Indonesia.
  3. Minyak produksi sumur masyarakat masuk produksi nasional
    Minyak hasil produksi sumur masyarakat mulai dimasukkan sebagai bagian dari produksi minyak nasional.
  4. Minyak sumur masyarakat diolah di kilang Pertamina
    Minyak dari sumur masyarakat diarahkan untuk diolah di kilang Pertamina sehingga dapat mendukung pasokan bahan baku kilang dalam negeri.
  5. Swap gas Natuna-Sumatra dengan Singapura terlaksana
    Pemerintah merealisasikan skema pertukaran gas Natuna-Sumatra dengan Singapura.
  6. Kebutuhan gas domestik, khususnya Batam, diperkuat
    Skema swap gas tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan gas domestik, terutama untuk wilayah Batam.
  7. 50 kargo LNG ekspor dialihkan ke dalam negeri
    Sebanyak 50 kargo LNG yang sebelumnya dialokasikan untuk ekspor dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik mulai 2025 dan seterusnya.
  8. Harga gas disesuaikan dengan daya beli industri
    Penyesuaian harga gas dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan daya beli konsumen industri agar pasokan tetap terserap dan kegiatan industri dapat berjalan.
  9. Perizinan hulu migas dipercepat
    Proses perizinan hulu migas dipercepat melalui berbagai inovasi, pendekatan, dan koordinasi lintas pihak.
  10. Networking digunakan untuk mempercepat investasi
    Djoko menilai gaya kepemimpinan, taktik, inovasi, dan jejaring Bahlil turut membantu mempercepat proses perizinan serta mendorong masuknya investasi baru.

Menghadapi perubahan geopolitik

  1. Impor crude oil menjadi alternatif pasokan
    Pemerintah membuka opsi masuknya crude oil impor melalui BLU Kementerian ESDM dan Pertamina ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik dan perang.
  2. Impor LPG disiapkan untuk menjaga pasokan
    Impor LPG dari luar negeri juga menjadi salah satu alternatif untuk menjaga ketersediaan energi di tengah ketidakpastian pasokan global.
  3. Pemerintah merespons gangguan pasokan akibat perang
    Kebijakan impor crude oil dan LPG diposisikan sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok energi.
  4. RUU Migas kembali didorong penyelesaiannya
    Penyelesaian RUU Migas menjadi salah satu agenda penting setelah proses pembahasannya berjalan lambat selama bertahun-tahun.
  5. Rencana pembentukan BUK Migas diperkuat
    RUU Migas dikaitkan dengan rencana pembentukan BUK Migas yang diharapkan dapat memperkuat fungsi kelembagaan sektor hulu migas.

Menarik kembali raksasa migas

  1. TotalEnergies kembali melirik Indonesia
    TotalEnergies disebut kembali menunjukkan minat terhadap sektor hulu migas Indonesia. Djoko juga menyebut kemungkinan adanya perusahaan besar lain yang menyusul masuk kembali.
  2. CCS, mini LNG, LPG, NGL, dan kondensat didorong
    Pemerintah mendorong pembangunan carbon capture and storage (CCS), mini LNG, dan LPG. NGL serta kondensat hilir juga diarahkan untuk dimasukkan sebagai bagian dari produksi minyak nasional.

Menuntaskan pekerjaan rumah hulu migas

Menurut Djoko, 25 capaian tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan lama di sektor hulu migas, mulai dari proyek yang tertunda, perizinan, investasi, infrastruktur, hingga penguatan pasokan domestik.

Rangkaian kebijakan itu juga menjadi bagian dari strategi menghadapi perubahan geopolitik dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Dengan bergeraknya kembali proyek-proyek strategis, pemerintah berharap produksi migas, investasi, serta ketahanan energi Indonesia dapat diperkuat.