Doa Mengiringi “Perburuan” Migas di Laut Dalam Bali

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Denpasar, Bali, ruangenergi.com — Pagi itu, perjalanan menuju laut Cekungan Bawang bukan sekadar perjalanan menuju titik operasi eksplorasi. Ada doa yang ikut dibawa.

Dari kediaman Gubernur Bali, rombongan menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam. Tujuannya satu: mengikuti doa bersama dan prosesi adat sebelum dimulainya kegiatan survei seismik laut dalam (deep-water seismic) di sejumlah wilayah kerja migas.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan, Kamis (24/9/2026), prosesi tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus ikhtiar memohon keselamatan dan kelancaran kegiatan eksplorasi.

“Memohon restu dan ridho kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pemilik laut dan seisinya alam semesta,” demikian pesan Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Doa telah dimulai sejak malam sebelumnya di pura-pura terdekat. Hari ini, rangkaian dilanjutkan di tepi pantai Cekungan Bawang hingga ke laut, dipimpin pemuka agama setempat bersama Gubernur Bali.

Yang menarik, ritual adat itu berlangsung tepat ketika industri migas tengah bersiap melakukan pekerjaan berteknologi tinggi di bawah permukaan laut.

Di laut, kapal-kapal survei nantinya akan bekerja dengan teknologi seismik untuk merekam struktur geologi di bawah dasar laut.

Data yang dicari bukan sekadar gambar. Ia adalah petunjuk mengenai bagaimana lapisan batuan tersusun, di mana kemungkinan terdapat perangkap hidrokarbon, serta seberapa menarik suatu struktur untuk ditindaklanjuti dengan pengeboran eksplorasi.

Di WK Agung-1, survei 3D direncanakan sepanjang sekitar 1.800 kilometer.

Di WK Barong, survei 3D mencapai sekitar 1.857 kilometer.

Sementara WK Agung-2 akan menjalani survei 2D sepanjang sekitar 285 kilometer.

Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting untuk memperbarui pemahaman mengenai potensi migas di kawasan laut tersebut.

Sebelumnya, SKK Migas menyebut survei seismik 2D sepanjang 285 kilometer dan survei 3D seluas sekitar 3.650 kilometer persegi di kawasan offshore terkait. Nilai investasi pengadaan data seismiknya dilaporkan mencapai lebih dari US$42,7 juta. 

Harapannya sederhana, tetapi taruhannya besar: mendapatkan data subsurface yang berkualitas.

Sebab, dari data itulah keputusan berikutnya akan lahir.

Apakah struktur bawah laut cukup menarik untuk dibor? Apakah terdapat indikasi hidrokarbon? Seberapa besar potensinya?

Semua pertanyaan itu baru bisa dijawab setelah data seismik selesai diperoleh dan diinterpretasikan.

Dua raksasa migas di satu meja eksplorasi

Eksplorasi ini juga mempertemukan dua nama besar industri migas dunia.

bp menjadi operator, berpartner dengan INPEX dari Jepang. Komposisi kepemilikan di WK Agung I dan II kini menjadi 50% bp dan 50% INPEX setelah persetujuan pengalihan participating interest pada September 2026. 

Keduanya membawa pengalaman panjang dalam eksplorasi laut dalam.

Bagi Indonesia, masuknya modal, teknologi, pengalaman dan keberanian mengambil risiko eksplorasi menjadi penting ketika wilayah-wilayah baru harus terus dibuka untuk menjaga kesinambungan sumber daya migas nasional.

Apalagi eksplorasi laut dalam bukan pekerjaan murah dan sederhana. Sebelum satu sumur dibor, perusahaan harus terlebih dahulu mengurangi ketidakpastian bawah permukaan melalui data geologi dan geofisika.

Seismik menjadi salah satu kunci untuk melakukan itu.

Dari pura, pantai, lalu menuju laut

Karena lokasi kerja berada di laut Bali, pendekatan teknologi tinggi tersebut berjalan berdampingan dengan tradisi lokal.

Prosesi hari ini dihadiri jajaran pimpinan industri dan pemerintah, termasuk pimpinan tertinggi bp Asia Pacific, GM bp Indonesia, Presiden Direktur INPEX, Kepala SKK Migas, Deputi Eksplorasi beserta jajaran, serta Pemerintah Provinsi Bali.

Bagi masyarakat Bali, laut bukan sekadar ruang geografis.

Karena itu, sebelum teknologi modern bekerja membaca struktur bumi di bawahnya, manusia terlebih dahulu datang dengan doa.

Ada harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, lancar dan selamat.

Dan setelah itu, pekerjaan besar dimulai: mencari jawaban dari apa yang tersembunyi jauh di bawah dasar laut.

Jika data seismik memberikan hasil positif, tahapan berikutnya dapat mengarah pada pengeboran eksplorasi untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon secara langsung.

Sejumlah publikasi sebelumnya memperkirakan potensi gas di WK Agung I dan II berada pada kisaran 1–7 TCF, meski angka tersebut masih merupakan potensi awal dan bukan cadangan terbukti. 

Di sinilah makna eksplorasi sebenarnya.

Doa membuka langkah. Seismik mencari petunjuk. Pengeboran kelak menjadi pembuktian.

Dari Bali, pencarian energi itu pun kembali dimulai.

“Bersama kita: Doa & BISA.”

Dan pesan penutup Djoko Siswanto terdengar seperti penyemangat seluruh tim:

“Lifting Naik: BISA, BISA, BISA.”