Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pemerintah memprioritaskan penyelesaian proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Dumai–Sei Mangkei (DUSEM) sepanjang sekitar 540 kilometer sebagai langkah strategis untuk membuka akses pasar baru bagi sumber gas yang selama ini belum terserap optimal. Salah satu contohnya adalah potensi gas dari wilayah Andaman yang diperkirakan mencapai 300 MMSCFD, sementara pasar lokal di Aceh dan Sumatera baru mampu menyerap sekitar 160 MMSCFD. Sisa pasokan tersebut membutuhkan jalur distribusi ke Jawa melalui jaringan pipa.
Selain itu, desain jaringan pipa yang fleksibel—mampu mengalirkan gas dua arah—dinilai akan memperkuat ketahanan energi nasional, terutama saat terjadi ketidakseimbangan pasokan antarwilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Agung Kuswardono, dalam diskusi Energy Afternoon Talk yang membahas peluang besar pembangunan infrastruktur migas di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dorongan industrialisasi nasional.
Agung menjelaskan, proyek DUSEM menjadi bagian penting dari upaya integrasi jaringan gas nasional yang menghubungkan Sumatera hingga Jawa. Bersama proyek Cirebon–Semarang (CISEM), jaringan ini diharapkan menjadi tulang punggung distribusi energi nasional yang andal dan terintegrasi.
Menurutnya, wilayah Indonesia bagian barat saat ini telah memiliki infrastruktur yang relatif matang, dengan jaringan pipa yang berkembang sejak era 1980–1990-an. Namun, optimalisasi distribusi masih memerlukan konektivitas yang lebih kuat antarwilayah.
Lebih jauh, pembangunan infrastruktur pipa tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga mendorong pengembangan lapangan gas baru yang sebelumnya tertahan akibat keterbatasan infrastruktur.
Di sisi lain, pemerintah juga mengkaji strategi berbeda untuk wilayah Indonesia timur yang menghadapi tantangan geografis dan biaya tinggi. Alternatif seperti LNG (Liquefied Natural Gas) dan CNG (Compressed Natural Gas) menjadi opsi untuk memperluas akses energi di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa besar.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi Minyak dan Batubara Indonesia, Jay Singgih, menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur sebagai kunci pemanfaatan sumber energi nasional.
Ia menilai, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, potensi energi tidak akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian maupun masyarakat.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa percepatan proyek seperti DUSEM menjadi krusial dalam memperkuat konektivitas energi sekaligus mendukung target ketahanan energi nasional.

