Elnusa Andalkan Inovasi Teknologi dan Sinergi untuk Dongkrak Produksi Migas Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com-Tantangan penurunan alamiah produksi minyak dan gas bumi (migas) menuntut industri energi bergerak lebih cepat. Optimalisasi lapangan eksisting, pemanfaatan teknologi, dan efisiensi operasi menjadi kunci untuk menjaga produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

PT Elnusa Tbk (Elnusa), bagian dari Subholding Upstream Pertamina, mengambil peran dalam menjawab tantangan tersebut melalui penguatan inovasi, keunggulan operasional, dan kolaborasi lintas industri.

Komitmen itu mengemuka dalam Elnusa Energy Connect 2026, forum dialog yang menjadi bagian dari rangkaian Elnusa Journalistic Award (EJA) 2026. Mengusung tema “Connecting Capabilities. Inspiring Action. Building Trust”, kegiatan ini mempertemukan pakar energi, jajaran Pertamina Group, pelaku industri, dan pemimpin redaksi media untuk membahas masa depan sektor energi Indonesia.

Direktur Utama Elnusa, Litta Ariesca, menegaskan bahwa ketahanan energi nasional tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan ketersediaan sumber daya. Industri juga membutuhkan teknologi yang tepat, kompetensi yang kuat, serta kerja sama antarpemangku kepentingan.

Menurut Litta, Elnusa terus memperkuat kapabilitas dan keunggulan operasional agar mampu menghadirkan layanan jasa energi terintegrasi yang kompetitif, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan industri energi nasional.

Tantangan tersebut semakin relevan di tengah target lifting minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari pada 2026 dan asumsi 612,5 ribu barel per hari pada 2027. Untuk mencapai target itu, peningkatan produktivitas lapangan dan efisiensi operasi menjadi pekerjaan penting bagi seluruh pelaku industri hulu migas.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, dalam forum tersebut menyoroti posisi strategis sektor migas dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan memenuhi kebutuhan energi jangka panjang.

Kesinambungan produksi, menurut perspektif yang dibahas dalam forum, membutuhkan optimalisasi lapangan eksisting, pengelolaan sumber daya secara efisien, serta kemampuan industri merespons perubahan kebutuhan energi.

Sejalan dengan hal itu, Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero), Hana Timoti, menekankan pentingnya inovasi yang berorientasi pada kebutuhan operasional. Kolaborasi antare ntitas di lingkungan Pertamina Group juga diperlukan agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan sesuai karakteristik lapangan.

Bagi Elnusa, pendekatan tersebut diterjemahkan melalui tiga strategi utama, yakni Cost Leadership, Synergy, dan Operational Excellence.

Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo, menjelaskan bahwa ketiga strategi itu menjadi fondasi untuk meningkatkan efisiensi biaya, mengoptimalkan pemanfaatan aset, dan memperkuat sinergi bisnis di lingkungan Pertamina Group.

Dengan portofolio yang mencakup jasa hulu migas, pemeliharaan aset, serta distribusi dan logistik energi, Elnusa berupaya memastikan layanan yang diberikan mampu mendukung produktivitas dan keberlangsungan operasi pelanggan.

Salah satu wujud penguatan teknologi Elnusa terlihat dalam keterlibatannya pada proyek percontohan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis Polymer Flooding di Lapangan Rama, yang dikelola Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES).

Proyek tersebut memulai injeksi polimer pada Juli 2026. Teknologi ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan yang telah memasuki fase matang.

Melalui Polymer Flooding, polimer diinjeksikan untuk memperbaiki karakteristik aliran fluida di reservoir sehingga membantu mendorong minyak menuju sumur produksi. Penerapannya diharapkan dapat membuka peluang peningkatan produksi, dengan hasil yang bergantung pada kondisi reservoir dan keberhasilan implementasi di lapangan.

Selain teknologi peningkatan produksi, Elnusa juga mengembangkan kompetensi inspeksi dan integritas aset melalui PERTASTREAM In-Line Inspection Ultrasonic Testing (ILI UT).

Teknologi inspeksi tersebut mendukung pemeriksaan kondisi infrastruktur migas, termasuk identifikasi potensi masalah pada dinding pipa. Informasi hasil inspeksi dapat menjadi dasar bagi operator untuk menentukan langkah pemeliharaan dan menjaga keandalan fasilitas.

Kedua inisiatif tersebut menunjukkan bahwa penguatan produksi migas tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pengeboran, tetapi juga dengan peningkatan perolehan dari lapangan eksisting dan pemeliharaan infrastruktur agar tetap beroperasi secara andal.

Dukungan terhadap pengembangan kapabilitas Elnusa turut disampaikan Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Hermansyah Y. Nasroen.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan Elnusa Energy Connect sebagai ruang dialog antara pelaku industri energi dan insan media. Dalam ekosistem Subholding Upstream Pertamina, Elnusa memiliki peran penting melalui penyediaan kompetensi dan layanan yang mendukung produktivitas serta daya saing bisnis hulu migas.

Sinergi di lingkungan Pertamina Group menjadi salah satu faktor penting untuk mengoptimalkan aset, mengembangkan solusi teknologi, dan meningkatkan efisiensi kegiatan operasional.

Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, yang memandu diskusi sebagai moderator, juga menekankan pentingnya menyelaraskan kebutuhan operasi dengan kesiapan teknologi dan kolaborasi antarpelaku industri.

“Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan industri untuk berinovasi, beradaptasi terhadap perubahan, dan membangun kolaborasi yang kuat,” ujar Rustam.

Ia berharap Elnusa Energy Connect dapat mendorong lahirnya gagasan dan sinergi yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan daya saing industri serta pencapaian target energi nasional.

Selain penguatan bisnis dan teknologi, Elnusa Energy Connect 2026 menjadi momentum bagi perusahaan untuk mempererat hubungan dengan insan pers.

Litta Ariesca menyampaikan apresiasi kepada media yang selama ini berperan dalam mengawal perjalanan perusahaan, memberitakan perkembangan kinerja, dan menyampaikan berbagai pencapaian Elnusa kepada masyarakat.

Ia menilai pemberitaan yang akurat, objektif, dan berimbang berperan penting dalam meningkatkan pemahaman publik terhadap kontribusi perusahaan serta dinamika sektor energi nasional.

Sejalan dengan semangat tersebut, Elnusa Journalistic Award 2026 digelar untuk memberikan apresiasi kepada insan pers yang menghasilkan karya jurnalistik informatif, edukatif, dan berkualitas.

Hermansyah Y. Nasroen berharap EJA dapat menjadi jembatan menuju Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP), sehingga terbuka ruang pengembangan yang lebih luas bagi jurnalis untuk menghasilkan karya berkualitas mengenai sektor energi.

Elnusa juga menghadirkan kampanye ELSA Green Bottle Movement sebagai ajakan menerapkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Elnusa menegaskan bahwa kontribusi terhadap ketahanan energi nasional tidak hanya diwujudkan melalui layanan operasional dan pengembangan teknologi, tetapi juga melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan, keterbukaan informasi, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dengan dukungan Pertamina Group dan kemitraan yang semakin erat bersama insan media, Elnusa optimistis dapat terus memperkuat perannya dalam mendukung produktivitas migas, meningkatkan daya saing industri, dan menjaga ketahanan energi nasional.