Eni-PETRONAS Berjalan Searah, Puluhan Aset Migas Indonesia Dibidik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Dua raksasa energi dunia, Eni dan PETRONAS, memilih berjalan dalam satu arah. Keduanya membentuk Searah, perusahaan patungan yang menjadi kendaraan baru untuk menggabungkan dan mengembangkan portofolio aset hulu migas di Indonesia dan Malaysia.

Searah dibentuk dengan kepemilikan 50:50 antara Eni dan PETRONAS. Perusahaan ini membawa portofolio awal sebanyak 19 aset gas produksi dan pengembangan, dengan 14 aset berada di Indonesia dan lima aset di Malaysia.

Skala bisnisnya pun tidak kecil. Searah memulai perjalanan dengan basis produksi lebih dari 300 ribu barel oil equivalent per day (BOEPD) dan menargetkan produksi melampaui 500 ribu BOEPD dalam tiga tahun.

Ruangenergi.com mencatat dan menelusuri informasi,  kehadiran Searah menjadi menarik karena sebagian besar portofolio awalnya berada di Tanah Air.

Searah tidak dibentuk semata-mata untuk mempertahankan produksi migas yang sudah ada. Salah satu agenda besarnya adalah mempercepat pengembangan sumber daya gas, terutama di kawasan yang memiliki potensi besar untuk menopang kebutuhan energi dan industri.

Salah satu kawasan strategis yang menjadi perhatian adalah Kutei Basin, Kalimantan Timur.

Di wilayah ini terdapat sejumlah proyek gas besar, termasuk Geng North–Gehem dan Gendalo–Gandang. Portofolio tersebut memiliki potensi gas dan kondensat dalam jumlah besar serta diarahkan untuk mendukung pertumbuhan produksi gas Indonesia.

Eni menyebut pengembangan proyek-proyek tersebut memiliki hampir 10 Tcf gas in place dan sekitar 550 juta barel kondensat, dengan produksi diharapkan mulai berkontribusi pada 2028.

Tidak berhenti di sana. Penemuan Geliga-1 di Kutei Basin juga memperkuat daya tarik kawasan tersebut. Penemuan ini diperkirakan mengandung sekitar 5 Tcf gas dan 300 juta barel kondensat in place.

Menariknya, nama Searah juga mulai muncul dalam aktivitas hulu migas di Wilayah Kerja Ketapang.

Karena itu, ketika muncul laporan mengenai “PETRONAS Searah–Ketapang”, konteksnya perlu dilihat sebagai bagian dari portofolio bisnis Searah yang dibangun Eni dan PETRONAS.

Artinya, Searah bukan perusahaan yang dibentuk khusus untuk menggarap Ketapang. Ketapang merupakan bagian dari strategi yang lebih besar dalam mengonsolidasikan aset hulu migas Eni dan PETRONAS di kawasan.

Untuk menggerakkan portofolio tersebut, Searah juga dibekali kemampuan pendanaan yang besar.

Perusahaan ini telah memperoleh fasilitas kredit bergulir sekitar US$6 miliar dan memiliki rencana investasi lebih dari US$20 miliar dalam lima tahun, dengan tetap memperhatikan persetujuan dan ketentuan yang berlaku.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembentukan Searah bukan sekadar perubahan struktur kepemilikan aset.

Lebih jauh, ini merupakan upaya Eni dan PETRONAS membangun sebuah platform energi regional yang memiliki skala produksi besar, basis sumber daya kuat, serta fokus pada pengembangan gas dan LNG.

Indonesia Jadi Panggung Penting

Dengan 14 dari 19 aset awal berada di Indonesia, posisi Indonesia menjadi sangat penting bagi perjalanan Searah.

Di tengah kebutuhan meningkatkan produksi migas nasional, mempercepat monetisasi gas, dan menarik investasi hulu, kehadiran perusahaan patungan Eni-PETRONAS ini menjadi salah satu perkembangan yang patut diperhatikan.

Bagi industri hulu migas, Searah sekaligus memperlihatkan satu hal: aset migas Indonesia semakin menarik untuk dikembangkan melalui kemitraan strategis berskala besar.

Kini tantangannya adalah bagaimana portofolio besar tersebut diterjemahkan menjadi pengeboran, penemuan baru, proyek pengembangan, produksi dan lifting nyata bagi Indonesia.