FEED Rampung, Proyek Abadi LNG Masela Masuki Babak Baru: Siapa Kontraktor yang Bersiap Garap Konstruksi?

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Proyek LNG Abadi di Blok Masela, Maluku, mencatat tonggak penting. INPEX Masela Ltd. menggelar FEED Completion Ceremony for the Abadi LNG Project di Jakarta, Selasa (27/10/2026), menandai rampungnya kegiatan Front-End Engineering Design (FEED) untuk pengembangan lapangan gas raksasa tersebut.

Seremoni ini menjadi penanda berakhirnya tahap perancangan teknis awal yang menjadi fondasi bagi pembangunan fasilitas produksi dan pengolahan gas Abadi. Namun, perhatian industri migas kini beralih pada pertanyaan berikutnya: siapa yang akan menggarap konstruksi proyek bernilai investasi puluhan miliar dolar AS tersebut?

Jawabannya berkaitan erat dengan skema dual FEED yang diterapkan INPEX. Melalui mekanisme ini, dua konsorsium mengerjakan desain secara paralel untuk sejumlah fasilitas utama. Hasil rancangan keduanya menjadi dasar evaluasi teknis dan komersial sebelum penetapan kontraktor untuk tahap Engineering, Procurement and Construction (EPC).

Ruangenergi.com mencatat, pada fasilitas kilang LNG darat (Onshore LNG Plant), terdapat dua kelompok kontraktor yang mengerjakan desain.

Pertama, konsorsium PT JGC Indonesia dan PT Technip Engineering Indonesia. Kedua, konsorsium PT KBR Indonesia bersama Samsung E&A dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Sementara itu, untuk fasilitas terapung Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), dua konsorsium yang terlibat adalah kelompok yang dipimpin PT Technip Engineering Indonesia bersama PT Technip Indonesia dan PT JGC Indonesia, serta konsorsium yang dipimpin PT Saipem Indonesia bersama PT Tripatra Engineers & Constructors, PT Tripatra Engineering, dan PT McDermott Indonesia.

Skema tersebut memungkinkan INPEX membandingkan solusi desain sebelum menentukan pelaksana pekerjaan lanjutan. Karena itu, keterlibatan dalam FEED tidak otomatis berarti suatu konsorsium telah ditetapkan sebagai pemenang EPC.

Di luar dua fasilitas utama tersebut, PT Worley SEA Indonesia menangani paket Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF) serta Gas Export Pipeline (GEP).

Paket SURF mencakup sistem bawah laut yang menghubungkan sumur dan fasilitas produksi, sedangkan GEP merupakan sistem pipa ekspor gas dari fasilitas FPSO menuju kilang LNG di darat.

Pengembangan ini juga mengintegrasikan komponen Carbon Capture and Storage (CCS), teknologi yang dirancang untuk menangkap karbon dioksida dan menyimpannya di bawah permukaan bumi. Integrasi CCS menjadi salah satu elemen penting dalam rancangan pengembangan Lapangan Abadi.

Proyek Abadi LNG dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain itu, proyek ini direncanakan memasok gas melalui pipa untuk kebutuhan domestik sekitar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), serta menghasilkan kondensat hingga sekitar 35.000 barel per hari.

INPEX Masela Ltd. bertindak sebagai operator dengan kepemilikan 65 persen. Mitra lainnya adalah PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20 persen dan PETRONAS Masela Sdn. Bhd. sebesar 15 persen.

Besarnya kapasitas tersebut menempatkan Abadi LNG sebagai salah satu proyek strategis untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya gas Indonesia, memperkuat pasokan energi, dan membuka peluang ekonomi bagi kawasan Maluku.

Rampungnya FEED merupakan kemajuan penting, tetapi bukan berarti seluruh pekerjaan konstruksi telah selesai atau fasilitas siap berproduksi. Tahap berikutnya mencakup keputusan investasi, penetapan kontrak EPC, serta pelaksanaan pembangunan fasilitas sesuai jadwal proyek.

Karena itu, publik dan pelaku industri kini menantikan perkembangan mengenai penetapan kontraktor EPC, jadwal pelaksanaan konstruksi, dan tahapan menuju keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID).

Bagi Blok Masela, seremoni 27 Oktober 2026 bukan sekadar acara penanda selesainya desain. Momentum ini menjadi titik penting untuk mengukur seberapa cepat rancangan teknis dapat diterjemahkan menjadi fasilitas produksi nyata.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan kesinambungan antara desain, keputusan investasi, pengadaan, dan konstruksi agar potensi gas Abadi dapat memberikan manfaat ekonomi serta memperkuat ketahanan energi nasional.

RuangEnergi.com akan terus mengikuti perkembangan penetapan kontraktor EPC dan tahapan berikutnya dari Proyek Abadi LNG di Blok Masela.