Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Kabar baik datang dari lapangan Sele Raya Belida. Program Filling The Gap (FTG) yang dijalankan PT Sele Raya Belida membuahkan hasil menggembirakan setelah Sumur SAS-1ST kembali berproduksi usai menjalani workover.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Minggu (16/8/2026), melaporkan keberhasilan tersebut sebagai salah satu capaian positif program FTG untuk menggenjot produksi dari aset eksisting.
Sumur SAS-1ST sebelumnya berhenti berproduksi sejak 3 April 2026 akibat tingginya kandungan air atau high water cut. Setelah melalui evaluasi menyeluruh, perencanaan teknis dan eksekusi pekerjaan, sumur tersebut akhirnya kembali menunjukkan performa produksi yang menjanjikan.
Pekerjaan workover dimulai pada pertengahan Juli 2026 menggunakan Rig 550 HP Elang-1, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan rigless. Seluruh rangkaian kegiatan berhasil diselesaikan pada 13 Agustus 2026.
Menariknya, keberhasilan tersebut juga dibarengi efisiensi biaya yang cukup besar. Dari anggaran yang disiapkan sebesar US$1,5 juta, pekerjaan hanya membutuhkan biaya aktual sekitar US$500 ribu, atau sekitar 30 persen dari anggaran awal.
Yang lebih menggembirakan adalah hasil uji produksinya.
Pada Lapisan Sand 62, Formasi Talang Akar, Sumur SAS-1ST mampu menghasilkan gas 5,88 MMscfd dan kondensat 123,6 barel kondensat per hari (bcpd) pada choke 35/64 inci.
Tekanan FWHP tercatat 1.680 psi, dengan BS&W 0 persen.
Angka tersebut jauh melampaui target FTG yang ditetapkan sebesar 1,3 MMscfd. Dengan capaian 5,88 MMscfd, produksi gas SAS-1ST bahkan disebut mencapai sekitar 452 persen di atas target program.
Capaian ini menjadi bukti bahwa strategi FTG dapat menjadi salah satu cara efektif untuk mengejar tambahan produksi melalui optimalisasi aset yang sudah ada, dengan risiko relatif lebih rendah dan potensi pengembalian investasi yang lebih cepat.
“Alhamdulillah,” menjadi pembuka laporan Djoko Siswanto saat menyampaikan kabar baik tersebut kepada jajaran pimpinan Kementerian ESDM, Komisi Pengawas SKK Migas dan pimpinan terkait, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Menurut laporan tersebut, keberhasilan SAS-1ST diharapkan menjadi momentum untuk menjaga kesinambungan produksi hingga akhir tahun.
Pasalnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan dalam program WP&B 2026, antara lain Enhanced Oil Recovery (EOR), stimulasi, serta pemboran dan workover berikutnya hingga Desember 2026.
SKK Migas berharap rangkaian program tersebut mampu menghasilkan tambahan migas yang melampaui target sekaligus meminimalkan risiko unplanned shutdown.
“Insya Allah produksi lancar dan bertahan lama,” demikian harapan yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Bagi industri hulu migas, keberhasilan SAS-1ST menunjukkan bahwa tambahan produksi tidak selalu harus datang dari penemuan lapangan baru. Sumur lama yang sempat berhenti pun masih bisa “dihidupkan” kembali melalui evaluasi teknis, teknologi, dan eksekusi yang tepat.
FTG pun kembali menunjukkan taringnya: produksi naik, biaya turun, dan aset existing kembali menghasilkan.


