Bandung, Jabar, ruangenergi.com – Ketahanan energi nasional tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar cadangan dan produksi minyak dan gas bumi (migas), tetapi juga oleh seberapa andal fasilitas produksi dan infrastruktur yang menopang seluruh rantai pasok energi.
Pesan tersebut mengemuka dalam hari pertama Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2026 yang digelar di InterContinental Bandung, Selasa (1/9/2026).
Mengusung tema “Securing Energy Supply Across Production Facilities and Infrastructure”, forum yang bekerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri migas nasional.
Manajemen SKK Migas, pimpinan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), pelaku industri, hingga penyedia teknologi hadir untuk membahas satu persoalan besar: bagaimana memastikan fasilitas dan infrastruktur migas mampu menopang kebutuhan energi nasional di tengah perubahan lingkungan global.
Pembukaan FFPM 2026 diawali sambutan Ketua Umum IAFMI yang disampaikan Sekretaris Jenderal IAFMI Gede Pramona, didampingi Ketua FFPM 2026 Irfan Eka Wardhana.
Sementara pidato pembukaan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto disampaikan Sekretaris SKK Migas Luky A. Yusgiantoro.
Sorotan terhadap ketahanan energi kemudian diperkuat Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman. Dalam pidato utamanya, Laode menekankan pentingnya menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Hulu dan hilir tak bisa lagi berjalan sendiri
Diskusi semakin mengerucut pada kebutuhan membangun infrastruktur energi yang tangguh.
Panel pertama bertajuk “Building Resilient Energy Infrastructure through Project Execution and Asset Management” membahas bagaimana pelaksanaan proyek dan pengelolaan aset dapat memperkuat ketahanan infrastruktur energi.
Panel ini menghadirkan Luky A. Yusgiantoro sebagai moderator, dengan pembicara Fata Yunus, VP Drilling & Well Intervention Pertamina Hulu Energi; Alastair Anderson, VP Projects BP Asia Pacific & India Upstream; Anjar Priyambudi, VP Asset Integrity Management Pertamina Patra Niaga; serta Rudianto Rimbono, President Commissioner PT Energi Mega Persada.
Isu yang dibahas tidak berhenti pada pembangunan fasilitas baru. Keandalan aset yang sudah beroperasi juga menjadi perhatian, terutama ketika industri harus menghadapi fasilitas yang semakin menua sekaligus tuntutan efisiensi dan keselamatan yang semakin tinggi.
Pada FFPM 2026, IAFMI juga menjalin kerja sama dengan sejumlah stakeholder migas, antara lain Octave, Sucofindo, dan Universitas Diponegoro.
Pembahasan kemudian bergeser dari fasilitas menuju keterhubungan seluruh rantai nilai energi.
Panel kedua mengangkat tema “Integrated Energy Value Chain: Connecting Upstream to Downstream”. Widhyawan Prawiraatmadja bertindak sebagai moderator, dengan pembicara Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus, Anggota Dewan Keamanan Energi Satya Widya Yudha, Sekretaris BPH Migas Patuan Alfon Simanjuntak, serta Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) Jaffee Arizon Suardin.
Pesan yang muncul cukup jelas: pasokan energi tidak bisa dilihat secara parsial.
Produksi di hulu harus terhubung dengan sistem pengolahan, transportasi, penyimpanan hingga kebutuhan konsumen di hilir. Ketidaksiapan pada salah satu mata rantai berpotensi mengganggu keseluruhan sistem.
Persoalan pasokan gas domestik menjadi fokus panel ketiga melalui tema “Sustainable Energy Transition for Domestic Gas Security”.
Daniel S. Purba menjadi moderator, dengan menghadirkan Kuniaki Uno, Presiden Direktur PT Diamond Gas Management Indonesia (DGMI); Mohammad Rasyid Ridha, Group Head Engineering and Technology PT Perusahaan Gas Negara Tbk; Aulia Arif Hidayat, VP Operations of Operating Company SEARAH Ketapang Ltd.; serta Agus Purnomo, General Manager Proyek Gas PLN EPI.
Forum ini memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan energi juga harus berjalan beriringan dengan agenda transisi energi. Dalam konteks tersebut, gas bumi masih memiliki posisi strategis sebagai salah satu sumber energi yang menopang kebutuhan domestik.
Ketua FFPM 2026 Irfan Eka Wardhana mengatakan dinamika industri migas saat ini menuntut keterhubungan yang lebih erat antara sektor hulu dan hilir.
“Dinamika industri migas saat ini menuntut kita untuk memecah sekat-sekat operasional. FFPM 2026 secara khusus dirancang untuk menjembatani sinergi hulu dan hilir guna memastikan ketahanan energi nasional,” ujar Irfan.
Menurut dia, pembahasan FFPM mencakup berbagai aspek, mulai dari keandalan fasilitas, efisiensi operasional, integrasi rantai pasok, pengelolaan persediaan bersama hingga optimalisasi infrastruktur penyimpanan secara terintegrasi.
Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro mengatakan FFPM telah menjadi ruang pertemuan praktisi industri, pemerintah dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan energi nasional sejak 2018 dengan dukungan SKK Migas.
Menurut Luky, salah satu tantangan besar industri saat ini adalah keberadaan fasilitas yang telah berusia tua. Fasilitas tersebut harus terus diperbarui agar dapat beroperasi secara aman dan efisien.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur baru juga dibutuhkan untuk membuka akses terhadap cadangan migas berskala besar. Persoalannya, pembangunan harus tetap memperhitungkan keterbatasan anggaran dan waktu pengerjaan proyek.
“FFPM 2026 menyediakan wadah untuk menyusun strategi yang komprehensif dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut,” kata Luky.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, KKKS, penyedia jasa, penyedia teknologi dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci.
Bukan sekadar berbicara mengenai teknologi, forum ini mendorong bagaimana teknologi, pengelolaan aset, eksekusi proyek dan integrasi infrastruktur dapat diterjemahkan menjadi pasokan energi yang lebih aman, efisien dan berkelanjutan.
FFPM 2026 berlangsung hingga Kamis (3/9/2026). Setelah dialog strategis pada hari pertama, agenda hari kedua akan masuk lebih dalam ke aspek teknis, meliputi operasional dan pemeliharaan, manajemen proyek, desain dan teknologi, serta keberlanjutan energi.
Hari ketiga menjadi momentum konsolidasi melalui IAFMI Innovation Award, Business Forum, dan seremoni penutupan.
Pada akhirnya, pesan FFPM 2026 sederhana namun strategis: energi yang aman membutuhkan fasilitas yang andal, sementara fasilitas yang andal membutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir.

